Hasutan di Awal Tahun Pembelajaran
Oleh : Arif Yosodipuro
Acara yang digelar setiap tahun di awal pembelajaran itu tampak meriah. Seperti tahun-tahun sebelumnya, gak ada hal yang beda, pidato arahan kyai Dul Kemit menjadi acara inti. Setelah disilakan sang pembawa acata, Kyai Dul Kemit menuju mimbar dengan khasnya pakaian necis berkacamata hitam.
Usai mengucapkan salam, kyai Dul Kemit mulai berpidato. Hadirin tampak antusias, terutama wali santri yang anaknya baru masuk, ingin mendengar wejangan sang kyai idolanya. Namun apa lacur, pidato kyai Dul Kemit tak sesuai dengan harapan mereka. Isinya bukan masalah motivasi pembelajaran, tetapi HASUTAN dan PENANAMAN KEBENCIAN DINI terhadap guru yang ia lebeli GURU MERAH, dipecat sewenang-wenang, di hadapan ribuan anak yang masih polos. Dia bilang guru merah itu ingin menghancurkan pesantren.
"Jangan diisi otak anak-anak dengan yang negatif. Jangan seperti guru-guru yang pergi dan negatif bersama-sama. Jangan satu kalipun yang ada di sini berpikiran negatif. Jika ada maka sekarang inipun silakan pergi. Siapapun jangan ada yang punya pikiran untuk menghancurkan pesantren. Jangan pernah berpikir, sudah terlambat. Pesantren sudah punya monumen. Jika anda ingin menghancurkan pesantren, hancurkanlah bangunan monumen maka anda baru bisa menghancurkan pesantren. Hati-hati jangan sampai seperti guru-guru kemarin." Kata kyai Dul Kemit bersemangat.
"Lho kok gitu Kang Encep? Bukannya guru-guru DIUSIR....?" "Iya. Nggak tahu kyai mgomongnya gitu. Padahal guru-guru itu tidak pergi tetapi DIUSIR. Infonya nich, guru yang sedang tugas piket masa libur saja didatangi oleh empat keamanan, bahkan ada yang 10 orang, dan seorang pengurus. Mereka disuruh keluar pesantren, DIUSIR.....Sekali lagi ya...DIUSIR. Dan anehnya lagi ketika guru-guru datang ke pesantren untuk bertugas mereka dihadang oleh ratusan orang, keamanan pesantren dan orang yang guru tidak kenal, kang." "Oalah.. kok gitu ya kyai Dul Kemit."
Sumber : Klik di sini

No comments:
Post a Comment