Sepeda Bu Nor
Oleh : Arif Jaloe
Saat itu kami (saya, Muhammad Ikhsan, dr. Chaidar Muttaqin dan istrinya Muthia Wulan) berbarengan menuruni anak tangga selepas acara puncak reuni Persada beberapa waktu lalu.
Di lantai dasar kami bertemu beberapa orang.
Ada diantaranya sempat bertemu dan berbincang singkat dengan ustadzah Nor Jannah ( Guru angkatan II ).
Kemudian kami semua berjalan beriringan. Usth Nor Jannah menuju tempat sepedanya diparkir, kami menuju kendaraan Ikhsan… nebeng hehehe..
Sebelum berpisah jalan, diantara kelakar basa-basi terucap : “… sepeda itu sudah tujuh belas tahun setia menemani saya di mahad… masih awet hehehe ”
Ucapan itu membuat kami yang mendengarnya terhenyak !
See guys… TUJUH BELAS tahun pakai sepeda yang sama…!!! Ucapan itu menyambar kesadaran kami sesaat… hening.
Kebayang nggak sih betapa SEDERHANA-nya MANUSIA ini..??? Lha kita,.. pakai motor baru setahun aja udah bosen pengen ganti.
Melaju di jalan yg gelap, mengayuh sepeda tua diantara kendara murid2-nya keluaran terbaru… haduh puyeng saya menera seberapa hebat kesederhanaan sahabat saya itu…
Luruh seketika semua kebanggaan. Terhisap rasa malu berhadapan dengan manusia sehebat ini.
Cerita ini tidak mengada-ada… coba ingat2 sosok usth yang saya tulis ini... anda akan menemukan bahwa cerita saya tidak belebihan.
Rasulullah adalah cermin kesederhanaan tak terkira. Diantara kemuliaan Rasulullah itu terletak pada sikap sederhananya. Kita semua tak asing dengan kisah2 kesederhanaan Muhammad SAW. Namun menemukannya diantara manusia2 saat ini adalah kelangkaan.
Kesederhanaan yang dijawab dengan tuduhan korupsi, pungli, julukan binatang, perlakuan tidak adil sepihak dan yang terbaru adalah julukan pengacau. Astaghfirullah…tsuma na’udzubillah.. lindungi sahabat kami yang teraniaya yaa Allah..
Sepeda itu hanyalah sepeda tua, dijual murahpun belum tentu laku.
Namun melelang barang yang sah milik orang lain adalah tindakan yang TIDAK BERMORAL dengan argumentasi apapun! Apalagi diumumkan terbuka dengan penuh rasa bangga… na’udzubillahi min dzalik…
Mengambil alih barang milik orang lain tanpa seijin yang punya adalah pencurian. Masih ingat kan Rasulullah amat tegas terhadap kejahatan jenis ini, bahkan kepada putrinya sendiri, Fatimah. Zero tolerance bro !!!
Jadi sepeda tua symbol kesederhanaan itu kembali berkisah tentang sebuah cerita. Cerita penuh pelajaran bagi kita tentang manusia berjiwa mulia dan tentang orang yang lalai dengan kemuliaannya.
Berseberangan sikap boleh-boleh saja, namun setidaknya ingatlah Allah dan ingatlah teladan Rasulullah. Mohon ampunlah pada Allah, bukan pada manusia…
Sahabat2 muda alumni dan para santri, mari kita selalu ingat Allah dan teladani sikap Rasulullah dan orang2 baik yang pernah kita temui. Semoga kita selamat dalam berpikir, berkata-kata, berbuat bahkan sejak dalam hati. InsyaAllah…
Note :
Ditulis dengan sedikit perasaan tehibur mendengar bahwa Usth Nor Jannah berhasil dengan susah payah membawa keluar sepedanya… alhamdulillah
Ahhh... sepeda itu ternyata juga pintar memilih siapa yang layak menjadi tuannya…
Sumber : Klik di sini

No comments:
Post a Comment