Pengawalan Berlapis Saat Guru 116 Mengambil Barangnya.
Oleh : Djarot Wahyusantoso
Siang tadi, senin tgl 5 juni, pk 14.30.
Sahabat kita ingin mengambil barannya.
Ia dikawal 1 eksponen (yg sering menjadi corong & suka teriak Keook... Keoook), 2 keamanan, 1 kordinator, 1 mudabir asrama.
Ketika sahabat menanyakan barang miliknya yg tidak ada di kamar tersebut kpd eksponen.
Lalu petugas salah satu pengurus asarama menjelaskan, ketika penjelasan belum tuntas, tiba2 eksponen itu teriak : Tuh anaknya mencuri.
Ia senaknya menuduh anak ustad kita mencuri (Dasar otak tukang tuduh.... ).
Lalu sahabat kita membalas dengn teriakan lebih keras : " jaga mulut bapak, jangan asal ngomong, menuduh anak saya mencuri..
Kemudian dilerai oleh kordinator dg perkataan..: "sudah bi, sudah bi itu direkam .."
Kemudian ekponen itu diam.
(.... Mau dengar rekamannya?
Banyak sudah korban anak kita akibat tukang tuduh ini ..
Banyak kasus persidangan santri yg membawa petaka ... Akibat orang ini ...)
Lalu kordinator itu berkata kpd ustad.: "jangan direkam !"
Ustad menjawab: "memang kenapa, apa hak anda melarang saya?
Anda juga merekam saya dan memfoto2 saya."
Ia menjawab: "saya tugas ..."
Ustad berkata: "saya perlu dokumen untuk saya..."
Ternyata ..
Begitu caranu..
Oh itu ..
Pantas setiap ustadzah yg datang dilarang ada saksi..
Kami kamu suruh datang satu2..
Lalu kamu keroyok...
Kamu sudutkan...!!!
Bagus ... Bagus ...
Jagoan kamu ...
Ketika ustad hendak pamit, ustad kita menyalami pengurus asrama di kantor 130..
Tiba2 eksponen itu berteriak kembali ...: "Jangan pakai salam salam"
Begitu cara kamu mendidik petugas 130?
Ketika keamanan ingin membantu untuk membelikan materai dan kardus untuk mengepak barang..
Eksponen itu pun berteriak menegur keamanan dan melarang untuk membantu ...
Oh itu caramu... Pantas .. .!!!
Kau tuduh kami kemudian ..
Kau adu domba kami dg sahabat2 guru,
Kau adu domba kami dg karyawan.
Dan kau adu domba kami dg keamanan..
Sumber : Klik di sini
No comments:
Post a Comment