TEROR MENTAL ITU SUDAH ADA SEJAK DULU
#alumnibersatu #alumnibersuara
Oleh : Boby Ibnu Rizal (Fortuned)
Ga akan ada tempat untuk pribadi dengan ide yang kreatif, innovatif bahkan yang berinisiatif tinggi, walaupun itu adalah untuk suatu program yang memajukan.
Semuanya harus sesuai hasil screening yang lolos kata "ijabah", untuk proses mendapat kata "ijabah" ini, sangat-sangat memakan waktu.
Yang tidak jarang pada akhirnya menjadikan kita tumpul ide, tumpul mental, tumpul perkembangan, dan tumpul semangat untuk berkembang dan mengembangkan, alias yowislah jago kandang ae....
Untuk jalin hubungan dengan luarpun yang sifatnya baik, harus lewat prosedural yang limit dan rumit, contoh kasus ekstra kurikuler "TAEKWONDO", saya ambil contoh dari ekskul yang saya geluti dan ikut bersame mengembangkan.
Karna rumit harus menunggu kepastian "proposal" dengan waktu yang tidak pasti, akhirnya ambil jalur belakang.
Ikut kompetisi diluar tanpa izin, hanya izin sakit yang memang pada saat itu paling memungkinkan untuk mendapatkan izin keluar komplek pendidikan dan alhamdulillah kita mendapatkan hasil bagus, dapat medali emas, perak tingkat Aliyah dan Tsanawiyah untuk tingkat Dojang Indramayu.
Kemudian kita baru lapor hasil bahwa kita dapat prestasi,dan barulah kata "ijabah" itu menjadi hal yang mudah untuk setiap kegiatan2 berikutnya. 10 tahun bukan waktu yang singkat jika bukan karna keikhlasan dan kesabaran para pahlawan olahraga ini, membawa Taekwondo sampai tingkat Nasional sampai hari ini, beliau adalah Sabeum Mochammad Udyiana Mulyadin, Sabeum M Hanafi, Sabeum Awang Dhamid, Sabeum Muhammad Rosidi, Almarhum Sabeum Munif Musthofa dan masih banyak sabeum dan sabeumnim yang belum bisa disebut.
10 tahun proses untuk mendapatkan akses kata "ijabah" didapat setelah berdiri TAEKWONDO AlZaytun dari tahun 2000, dulu goal kita adalah "go beijing", ternyata hanya angan-angan, go gantar dan go haurgelis saja sulit, apalagi "go beijing".
10 tahun menjadi atlit sekaligus wakli pelatih di Dojang Alzaytun sungguh-sungguh perjuangan, terus terang menjalani hanya sebagai tempat belajar dan mendidik generasi, semangat untuk menjadi Atlit hilang dan tidak ada karna semuanya harus diperjuangkan sendiri dengan fasilitas yang kita adakan sendiri dari hasil patungan bersama (pelatih dan atlit), semoga inisiatif patungan untuk membeli perangkat dan berlanjutnya ekskul ini tidak di tuding sebagai tindakan "korupsi".
10 tahun menjadi atlit sekaligus wakil pelatih adalah bukan jabatan yang basah, justru sebaliknya, sebagai pengurus harus mempunyai inisiatif meluangkan lebih banyak waktu dan materi untuk perkembangan assosiasi/ekstrakurikuler ini, bukan menerima melainkan mengeluarkan, karna memberi untuk kemajuan itu yang hati kami teriakan, berharap mendapat subsidi adalah hal yang mustahil karna kita bagian terkecil dari pendidikan swasta.
Jadi kalau semua bentuk inisiatif untuk memajukan organisasi ini disebut sebagai kegiatan yang mengandung "MAKAR", maka dimana letak makarnya???????seperti memperjuangkan pendidikan yang memiliki standard ISO karna kita selalu berbicara bahwa kita adalah alumni dari Al-Zaytun "International School", cita-cita mendunia bukan?bukan hanya tingkat nasional saja, jadi kenapa inisiatif baik selalu dibilang sesuatu yang tidak sesuai/manut atau keluar dari dan tujuan.
Sekarang saya bertanya, 1 kali saya ikut LITBANG, apakah ada garis besar haluan pondok untuk mengawal setiap program dari LITBANG?nonsen, rubah dan rubah sesuai ide pungut di jalan, tidak ada patokan 1-5 tahun fokus pada pengembangan program ini dan itu, semuanya hanya program pungut ide dijalan, kalau ada Garis Besar Haluan Yayasan kemudian muncul ide diluar dari GBHY itu barulah dapat disimpulkan keluar jalur atau sekarang dikenal dengan "MAKAR", lah ini GBHY saja tidak ada, lantas ada ide baik yang diajukan secara prosedural saja dibilang MAKAR, lantas bagaimana kami yang dulu diam2 ikut mengembangkan tanpa prosedur resmi diawal?????????????
Ini realita yang ada sampai detik hari ini. dan yang berbicara adalah pelaku sejarah, bukan orang kedua, ketiga atau orang yang hanya mendapat dan mendengar cerita kemudian banyak bicara seolah-olah dialah sumber utama dari keadaan dan masalah yang ada.
Dan ini terjadi di semua ekstakurikuler yang ada disana, baik dari akademi, seni budaya dan olahraga.
jangan menutup mata, telinga dan hati dari kenyataan yang kita tau bersama, untuk maju saja harus dihambat dengan prosedur yang tele-tele lie, jadi jangan pernah bermimpi terlalu tinggi dengan motto Toleransi dan Perdamaian.
Masih banyak yang saya ikuti dan pun masih sama halnya dengan TAEKWONDO, beberapa yang saya ikuti disana adalah :
AZTA (alzaytun taekwondo association)
AZFA (alzaytun football association) harus sirna mimpi masuk divisi III karna universitas yang kami cintai ternyata tidak terdaftar di dikti, miris!!!
PPUK (pandu pembela ummat dan kemanusiaan)
OPAZ (organisasi pelajar alzaytun)
KIF (kelompok ilmiah fisika)
MILA (markaz ihya lughotul arobiyah)
masih banyak ekskul yang tidak saya ikuti seperti BOM-Z, AZCEL, SIGMA, ROBOTIK dll.
masing-masing ekstrakurikuler memiliki cerita panjangnya masing-masing, semua diusung dengan inisiatif pendidik yang super kreatif, dengan pemikiran dan isi kepala yang brilian, bukan orang-orang sembarangan yang lulus dari institusi pendidikan ternama di Negara kita, penuh dedikasi yang sangat perduli terhadap perkembangan pelajar yang justru mirisnya adalah mereka yang sekarang "dibuang" karna di cap "MAKAR" dari 116 guru.
Saya dan banyak sahabat alumni adalah pelaku dari sejarah proses perjalanan dan perkembangan dari lembaga yang sangat kita sayangi ini, karna kita tau untuk membangun sebuah institusi pendidikan ini memakan banyak jasa dari golongan kita sendiri dan banyak donatur, jadi untuk apa dengan menceritakan hal seperti ini mengandung unsur untuk menghancurkan, justru kita ingin lembaga ini lebih baik dengan kepemimpinan yang baik dan sistem yang baik. bisa tabayyun karna saya punya semua dokumentasi bukan sekedar mendengar cerita kata orang.
#melawanlupa #melawankedzoliman #katakanhakwalauitumenyakitkan #bicarajujurdengandatadanfakta
Sumber : Klik di sini

No comments:
Post a Comment