Oleh : Muhammad Ikhsan
Ilustrasi Gambar : Barbershop Al-Zaytun by Google
Sekitar pukul 21:00 malam saat itu dibabershop Al-zaytun, keadaan sepi karena semua santri sudah diasrama mereka masing-masing, hanya beberapa karyawan yang lalu lalang menyelesaikan pekerjaan mereka, seorang ustad yang mengajar angkatan pertama dan juga menjadi bagian dari pengurus Agict (Computer course/les komputer) datang untuk bercukur.
Muadzof: silahkan ustad (menawarkan duduk dikursi cukur)
Ust: dipotong rata pendek aja ya
Sekitar 2 menit fokus mencukur dan tak ada percakapan tiba-tiba sang muadzof mulai bertanya dan bercerita..
Muadzof: ustad, saya harus gmna ya?
Ust: maksudnya?
Muadzof: iya, anak saya kan ikut Agict, dan sekarang dia sudah mau ujian dan diminta bayaran, saya bingung ustad
Ust: bingung kenapa?
Muadzof: iya selama 24 jam saya mendedikasikan diri saya disini, selama sebulan saya hanya membawa pulang uang bersih 450.000, saya rumah ngontrak digantar untuk istri dan anak saya yang kecil, itu udah 200.000 sisa 250.000, 150.000 buat belanja minyak beras istri saya dan 100.000 untuk anak saya yang sekolah disini
Ust: itu istrinya cuma buat beli minyak dan beras aja? Emang ga pake lauk makannya?
Muadzof: ya melihara ayam sih ustad, ngandelin telurnya aja, nanem bayem di blakang rumah.. ya begitulah ustad
Ust: loh emang antum ga punya tabungan atau apa gitu yang bisa dijual?
Muadzof: sudah habis semuanya ustad, dulu saya kerja sebelum masuk kesini sampe bisa beli sawah dikampung, dan emas buat istri saya, tapi kan semuanya saya infaqkan kesini ustad, itu sawah saya jual buat biaya masuk anak saya kesini, katanya dulu cukup sekali bayar dan anak saya sampai 6 tahun ga bayar-bayar lagi alias gratis.. saya bingung ustad harus nyari tambahan bagaimana? Kalau seandainya saya bisa dikasi libur 2 hari dalam seminggu mungkin saya mau sambilan kerja diluar biar saya bisa cicil itu bayaran anak saya.
Siustad kebingungan bukan kepalang, pandangan kosong, harus menjawab dengan jawaban apalagi
Muadzof: ustad emang ga ada kebijakan ya buat anak-anak karyawan untuk pembayaran, bisa ga kalau kami bayar dicicil dari potong gaji gitu atau apa, soalnya itu anak saya ga bisa ikut ujian katanya kalau ga bayar
Ustad: &#£×&@(@;
Begitulah realita selama ini sahabat-sahabatku para Alumni, mungkin sebagaian kalian tidak mengerti dengan apa yang terjadi karena kalian tidak berasal dari asal yang sama seperti kami, kalian melihat Almamater kita normal seperti kalian melihat sekolah-sekolah yang lain, dan masalah-masalah seperti ini seringkali berlabuh dan berhenti ditingkat ustad atau dewan guru saja, tak ada yang berani berbicara keatas lagi, berani bicara malah kena semprot, bagus kalau cuma tok kena semprot, sering kali malah dikasih label *Pengkhianat, dan ketika seseorang telah diberi label, maka berakhirlah hidupnya, berakhirlah apa yang sudah dia dedikasikan, berakhirlah semua kebaikannya, karena label itu tidak bisa dicopot sampai kapanpun dikalangan mereka.. dan kejadian 116 guru kita adalah puncak dari dinamika ini, sudah ratusan bahkan ribuan keluhan yang sama datang kepada mereka, dan mereka hanya diam, diam karena tidak bisa melakukan apa-apa..
*Pengkhianat adalah salah satu label dari banyak label yang diberikan pimpinan kepada seseorang atau kelompok yang berani mempertanyakan, menegur, mengajak evaluasi, atau apapun itu yang asalnya tidak dari beliau..
Pedulilah..
Sumber : https://www.facebook.com/ikhsan2/posts/10154575382957011
Ust: dipotong rata pendek aja ya
Sekitar 2 menit fokus mencukur dan tak ada percakapan tiba-tiba sang muadzof mulai bertanya dan bercerita..
Muadzof: ustad, saya harus gmna ya?
Ust: maksudnya?
Muadzof: iya, anak saya kan ikut Agict, dan sekarang dia sudah mau ujian dan diminta bayaran, saya bingung ustad
Ust: bingung kenapa?
Muadzof: iya selama 24 jam saya mendedikasikan diri saya disini, selama sebulan saya hanya membawa pulang uang bersih 450.000, saya rumah ngontrak digantar untuk istri dan anak saya yang kecil, itu udah 200.000 sisa 250.000, 150.000 buat belanja minyak beras istri saya dan 100.000 untuk anak saya yang sekolah disini
Ust: itu istrinya cuma buat beli minyak dan beras aja? Emang ga pake lauk makannya?
Muadzof: ya melihara ayam sih ustad, ngandelin telurnya aja, nanem bayem di blakang rumah.. ya begitulah ustad
Ust: loh emang antum ga punya tabungan atau apa gitu yang bisa dijual?
Muadzof: sudah habis semuanya ustad, dulu saya kerja sebelum masuk kesini sampe bisa beli sawah dikampung, dan emas buat istri saya, tapi kan semuanya saya infaqkan kesini ustad, itu sawah saya jual buat biaya masuk anak saya kesini, katanya dulu cukup sekali bayar dan anak saya sampai 6 tahun ga bayar-bayar lagi alias gratis.. saya bingung ustad harus nyari tambahan bagaimana? Kalau seandainya saya bisa dikasi libur 2 hari dalam seminggu mungkin saya mau sambilan kerja diluar biar saya bisa cicil itu bayaran anak saya.
Siustad kebingungan bukan kepalang, pandangan kosong, harus menjawab dengan jawaban apalagi
Muadzof: ustad emang ga ada kebijakan ya buat anak-anak karyawan untuk pembayaran, bisa ga kalau kami bayar dicicil dari potong gaji gitu atau apa, soalnya itu anak saya ga bisa ikut ujian katanya kalau ga bayar
Ustad: &#£×&@(@;
Begitulah realita selama ini sahabat-sahabatku para Alumni, mungkin sebagaian kalian tidak mengerti dengan apa yang terjadi karena kalian tidak berasal dari asal yang sama seperti kami, kalian melihat Almamater kita normal seperti kalian melihat sekolah-sekolah yang lain, dan masalah-masalah seperti ini seringkali berlabuh dan berhenti ditingkat ustad atau dewan guru saja, tak ada yang berani berbicara keatas lagi, berani bicara malah kena semprot, bagus kalau cuma tok kena semprot, sering kali malah dikasih label *Pengkhianat, dan ketika seseorang telah diberi label, maka berakhirlah hidupnya, berakhirlah apa yang sudah dia dedikasikan, berakhirlah semua kebaikannya, karena label itu tidak bisa dicopot sampai kapanpun dikalangan mereka.. dan kejadian 116 guru kita adalah puncak dari dinamika ini, sudah ratusan bahkan ribuan keluhan yang sama datang kepada mereka, dan mereka hanya diam, diam karena tidak bisa melakukan apa-apa..
*Pengkhianat adalah salah satu label dari banyak label yang diberikan pimpinan kepada seseorang atau kelompok yang berani mempertanyakan, menegur, mengajak evaluasi, atau apapun itu yang asalnya tidak dari beliau..
Pedulilah..
Sumber : https://www.facebook.com/ikhsan2/posts/10154575382957011

No comments:
Post a Comment