Tuesday, May 29, 2018

DUL KEMIT THE SERIES 62

DUL KEMIT THE SERIES 62
Misteri Dolar Seharga 37 Milyar (4)
Oleh : Arif Yosodipuro



Entah ini skenario atau modus. PENGURASAN dana segar yayasan terus menggurat. Usai kunjungan wakil presiden, ada kabar bahwa pesantren Dul Kemit akan mendapat bantuan dari WAKIL PRESIDEN.
Suatu ketika Dul Kemit sedang mengadakan pertemuan rutin dengan civitas akademika pesantren; guru, karywan dan eksponen, yang ia namakan BA’DIYAH JUM’AT. Suasana pertemuan yang hidmad dan hening itu terusik oleh gerakan pintu yang terbuka.
Beberapa hadirin menoleh dan ada yang sekadar melirik. Seorang petugas keamanan berseragam putih biru dengan sopan memasuki ruang pertemuan menenteng telepon wireless. Dari jauh tampak sedikit kaku. Karena tugas, ia pun memberanikan diri untuk mendekati Dul Kemit.
“Ada apa le?” sapa Dul Kemit dengan lugat jawa timuran yang kental.
“Ada telepon dari pak Ayyub,” kata petugas keamanan seraya menyerahkan gagang telepon kepada Dul Kemit. Lalu terjadilah dialog yang disaksikan oleh ratusan hadirin.
“Ini orang pak Wakil Presiden mau bicara,” kata Ayyub dalam percakapannya.
“Oh, iya?” Jawab Dul Kemit dengan ceria. “Mana?” Ayyub berhenti bercakap dan seolah memberikan telepon kepada yang katanya orang pak Wakil Presiden.
“Halo, Kyai,” sapa suara yang berbeda dengan Ayyub. “Saya Amung, orang suruhan pak Wapres, mau menyampaikan bahwa pak Wapres akan memberi bantuan kepada pesantren Kyai.” Lanjut orang yang mengaku suruhan wapres memberi tahu.
“Oh iya?” Tanya Dul Kemit girang. Setelah bicara ini dan itu, dialog selesai. Dengan bangga dan riang, Dul Kemit lalu memberi tahu hadirin perihal pembicaraannya dengan orang yang mengaku suruhan Wapres. “Alhamdulillah,” kata Dul Kemit dengan wajah ceria. “Pak Wapres akan memberi bantuan.”
Meyakinkan memang. Pembicaraan yang disaksikan peserta pertemuan menguatkan dan menambah keyakinan. Beberapa hari kemudian Dul Kemit menerima telepon kembali dari orang yang mengaku suruhan wapres.
Pokok pembicaraannya agar bantuan wapres segera turun, Dul Kemit diminta mentransfer uang sebesar 2 milyar (DUA MILYAR). Besar harapan segera turun, permintaan pun dikabulkan. Atas perintah Dul Kemi, maka ditransferlah 2 milyar ke rekening orang yang mengaku suruhan wapres oleh Safrulloh.
***
Untuk memastikan kebenaran bantuan yang akan diterima, Dul Kemit dan beberapa pengurus mendatangi kediaman Wapres. Dul Kemit menjelaskan bahwa orang suruhan Wapres minta ditransfer dana sebesar 2 MILYAR agar bantuan wapres segera turun.
Mendapat kabar tersebut, Wapres bingung. Ia mengakui memang Amung itu orang dekatnya. Tetapi ia tidak yakin kalau Amung melakukan hal tersebut. Oleh karena itu, Wapres kemudian memanggil Kapolda.
Pak Kapolda datang bersama Kareskrim. Berceritalah Dul Kemit dan eksponen yang ikut bersamanya tentang kronologi kejadian. Mereka menjelaskan siapa yang berkomunikasi dan siapa yang mentransfer dana.
Di tengah mendengarkan dengan seksama informasi yang disampaikan oleh Abdul Salim dan Safrulloh, Kapolda menduga bahwa itu penipuan. “Wah penipuan ini,” Komentar Kaporlda. Ia kemudian meminta anak buahnya untuk mengecek rekening pengiriman uang.
Setelah dicek, anak buah Kapolda menyebutkan bahwa ini penipuan. “Penipuan ini, Komandan,” kata anak buah Kapolda memberi tahu kepadanya. Kapolda lalu memberi tahu Wapres dan rombongan Dul Kemit. “Benar, Pak. Penipuan ini.”
Walhasil, yang katanya dana segar di akun yayasan itu habis TERKURAS TIDAK TERSISA.
Kemudian, Kapolda menyarankan untuk melaporkan kejadian ke Polda. Mengikuti saran Kapolda, Syafrulloh dan Abdul Salim berangkat ke Polda untuk di-BAP. Sedangkan Dul Kemit dan Suprayitno meluncur ke rumah adik Dul Kemit.
Anehnya…, Dul Kemit adem ayem sampai saat ini, seolah ia membiarkan berlalu begitu saja. Tak ada upaya mendesak atau memonitor sampai di mana perkembangan laporannya. Padahal 2 MILYAR hilang ke semak belukar yang tak jelas batang dan akarnya.
***
Yang mengherankan lagi, belakangan diketahui adik kandung Dul Kemit, Ayyub, membeli rumah di perumahan elit super mewah yang ada kolam renangnya di BSD. Pintu gerbang saja buka tutupnya pakai remot. Ia juga membeli banyak apartemen dan hotel.
Padahal Ayyub saat itu tidak memiliki pekerjaan tetap. Yang tampak adalah jualan kaset CD. Kadang juga jualan jam rolex dan sepatu Nike KW yang pangsa pasarnya warga pesantren.
“Jangan-jangan uang kita yang buat membeli ini?” celoteh eksponen yang pernah datang ke rumah Ayyub mencoba menyimpulkan.
Tak tahan penasaran, kang Ujang pun langsung menceletuk, “Jangan-jangan orang yang mengaku suruhan Wapres tadi adalah suara adik Dul Kemit, Ayyub, yang disamarkan, Kang?”
“Bisa jadi, Kang,” sambung kang Encep mengiyakan prediksi sahabat dekatnya. “Bisa jadi semua ini adalah skenario Dul Kemit dan adiknya. Mereka berdua kong kalingkong, mbal ngedumbal, hong ngebohong.” Kang Encep mengedipkan mata menahan emosi kekesalannya.
“Dengar-dengar sekarang Dul Kemit sedang berseteru dengan Ayub, adiknya.” Lanjut kang Encep meneruskan ceritanya. “Nggak tegur sapa. Mungkin ketika Dul Kemit menanyakan bagiannya dana sudah dihabiskan adiknya.”
“O… gitu ya kang?”
-
“Berdasarkan indikasi yang ada, iya.” Kang Encep mengingat-ingat dan mengait-ngaitkan kejadian. “Karena gak kebagian, makanya sekarang Dul Kemit membabi buta merampok dana yayasan dengan berbagai cara yang ia kemas seolah tampak legal.”
Sekarang kehidupan Ayyub jauh lebih sejahtera dibanding sebelum bergabung dengan pesantren, sekalipun sekarang tidak harmonis.
***
SUmber : Klik di sini

DUL KEMIT THE SERIES 61

DUL KEMIT THE SERIES 61
Misteri Dolar Seharga 37 Milyar (3)
Oleh : Arif Yosodipuro



TIGA PULUH MILYAR lepas dari genggaman, hilang dari pandangan, dan berpindah dari akun yayasan. Tak ada kabar dari seberang terkait dengan dana yang sudah diserahkan. Harapan terus mengawang dalam kegamangan.
Detak jantung mendebar dahsat, sedahsat dentuman musik goyang di sebuah bar. Hati cemas tak terbatas bisa membuat tubuh melemas. Dul Kemit dan koleganya tak bisa bernafas bebas. Tak sabar dalam kejemuan menunggu kabar.
Sekian bulan berlalu, berita kedatangan mesin pencair belum jelas rimbanya. Apalagi dolar hitam yang sudah dicairkan zat pelapisnya, terhempas ke semak belukar yang tak jelas batang dan akar. Justru Dul Kemit dimintai tambahan dolar.
Jumlahnya cukup menggempar. Dengan berbagai dalih, penelepon minta Dul Kemit menyediakan 2 M (DUA MILYAR) agar dolar bisa segera dicairkan. Walhasil, ibaratnya sudah telanjur basah, permintaan pun dipenuhi tanpa melalui diskusi. DUA MILYAR pindah buku lagi dari akun yayasan ke akun penelepon.
Namun, entah apa yang terjadi. Dana yang Dul Kemit keluarkan belum cukup untuk bisa mendapatkan dolar, yang katanya, sumbangan itu. Katanya Mesin pencair yang sudah dibeli itu tak bisa dibawa. Dan untuk bisa dibawa, lagi-lagi Dul Kemit harus menyediakan dana sebesar Rp850.000.000.
“Lho kok bisa, Kang?” kata kang Ujang reflek, memotong cerita. “Kan sudah dibeli, kok tidak bisa dibawa. A n e h…?!”
“Ya gitulah Kang,” kata kang Encep apatis.
Kali ini tak langsung dipenuhi. Koleganya ada yang berani menyanggah. Dul Kemit mendapat masukan. “Lho kyai, kok nggak bisa?” Kata seorang pengurus mengingatkan. “Kan mesin sudah kita bayar.” Kata Safrulloh menyampaikan alasan.
“Ya itu untuk bisa dibawa, kita harus siapkan dana Rp850.000.000,-.” Bantah Dul Kemit menguatkan.
“Jangan-jangan nggak beres ini? Sebaiknya tidak usah dituruti.” Lanjut Safrulloh menolak.
“Kita sudah telanjur mengeluarkan banyak. Jangan sampai uang yang sudah kita keluarkan itu hilang sia-sia karena kita tidak memenuhi yang ini.” Sanggah Dul Kemit menanggapi masukan dari koleganya.
Sang kolega tak mau berdebat. Ia memilih diam dan membiarkan Dul Kemit mengambil keputusan. Dul Kemit menyuruh H. Sarbini untuk mentransfer dana sejumlah yang diminta. DELAPAN RATUS LIMA PULUH JUTA kembali ditransfer ke rekening penelepon.
Selesaikah? Belum. Drama pengurasan dana yayasan kembali menayang. Bendahara yayasan dikagetkan dengan pendebetan 2 M (DUA MILYAR) tanpa sepengetahuan pengurus lainnya. Usut punya usut, ternyata pendebetan tersebut atas permintaan adik Dul kemit, Ayyub, yang katanya untuk pembelian batubara di Kalimantan.
“Lho kok bisa, Kang?” Kang Ujang kembali memotong cerita kang Encep karena tak kuasa menahan rasa keponya. “Memangnya dia pengurus, kok bisa memerintahkan untuk mendebet?”
“Sepertinya tidak Kang,” sanggah kang Encep menafikan Ayyub sebagai pengurus. “Karena adik Dul Kemit kali.”
“Bisa-bisanya ya, bukan pengurus kok memerintahkan mendebet? ” Gumam kang Ujang mengomentari apa yang dilakukan Ayyub. “Terus sekarang gimana batubaranya?”
“Nggak jelas, Kang.” Kata kang Encep menegaskan. “Setahu saya gak ada kabar sama sekali. Dul Kemit juga tidak pernah menyinggung dalam taushiyahnya, baik di mihrob masjid maupun di pertemuan rutin pekanan, ba’diyah. Padahal dia paling doyan cerita.”
“Jadi fiktif dong?” Sambung kang Ujang menganalisis. “Tega ya…? Uang yayasan dikuras. Padahal itu kan uang pinjaman.”
“Gak peduli kali Kang.” Kata Encep datar. “Akibatnya yayasan menanggung dua beban. Pertama beban hutang dan kedua beban jasa pinjaman.”
“Masya Allah…. Naudzubillahi min dzalik,” kata kang Ujang mengeluhkan apa yang terjadi terhadap yayasan. “Habis dong Kang? Jadi sudah berapa dana yayasan yang dibilang Dul Kemit dana segar itu pindah rekening?”
“Maaf, Kang.” Sahut kang Encep terburu-buru sambil menahan perut. “Pengin ke kamar kecil. Lain kali ya Kang.” Ia kemudian berlari meninggalkan teman dialognya yang penasaran.
***
Sumber : Klik di sini

DUL KEMIT THE SERIES 60

DUL KEMIT THE SERIES 60
Misteri Dolar Seharga 37 Milyar (2)
Oleh : Arif Yosodipuro



Beberapa hari kemudian sepulangnya dari Madrid, Dul Kemit berangkat kembali ke sana bersama dua orang pengurus, Tsaqib dan Safrulloh. Dalam perjalanan, Tsaqib langsung ke Madrid sementara Dul Kemit dan Safrulloh mampir ke Mesir.
Di Mesir, mereka berdua mengunjungi tempat-tempat penting, termasuk daerah penghasil granit. Baru kemudian mereka meluncur ke Madrid menyusul Ayyub dan M. Basyir. Sesampainya di sana, mereka dikenalkan kepada dua orang asing yang berbadan besar dan bekulit hitam oleh Ayyub yang aktif bahasa Inggrisnya.
Dua orang asing itu berpenampilan necis dengan membawa koper. Mereka berdua tak banyak bicara. Seperginya mereka berdua, Ayyub menggelengkan kepala mengarah kepada keduanya. “Itu orangnya,” ucapnya memberi tahu kepada Dul Kemit dan pengurus lainnya. “Gak bisa lama-lama. Mereka sedang diburu,” lanjutnya percaya diri.
Dengan dalih untuk membeli mesin pencair pada kali ini, Dul Kemit dimintai uang lagi sebesar 10 MILYAR. Untuk meyakinkan, Dul Kemit dan Ayyub menunjukkan sample dolar, yang katanya, sudah dicairkan zat pelapisnya. Dolarnya asli, laku digunakan sebagai alat tukar maupun untuk transaksi. Dengan harapan segera mendapat dolar, permintaan uang sebesar itu pun di-oke-kan tanpa diskusi.
LIMA BELAS (15) MILYAR sudah uang yayasan pindah akun namun urusan belum selesai. Dengan alasan ini itu, Dul Kemit dimintai lagi uang sebesar 15 MILYAR. Dana itu pun dipenuhinya tanpa analisis.
Wow….. 30 MILYAR dana cash melayang dengan sangat gampang.
“Segampang itu kang Encep?” Celetuk kang Ujang berkomentar heran. “Nggak sayang, ya?”
“Nggak tahu Kang.” Balas kang Encep apatis. “Karena lagi ada dana segar kali.”
Selanjutnya sambil menunggu perkembangannya, Dul Kemit mengajak rombongannya kembali ke pesantren. Dengan bangga dan meyakinkan, ia menceritakan pengalaman perjalanannya kepada jamaah di mihrob usai shalat Jum’at.
Di antaranya ia menyampaikan bahwa nanti masjid yang sedang dibangun itu akan menggunakan granit dari Mesir. Menurutnya granit mesir memiliki kualitas yang sangat bagus dibanding dengan granit lokal. Bagaimana Cordova pun tak luput dari materi ceritanya.
Dengan gaya retorika yang meyakinkan dan intonasi yang indah dan menggugah, haridirin pun terkesima dan menyambutnya dengan tepuk tangan gemuruh. Semuanya diceritakan. Iya SE…MUA…NYA kecuali transfer dana MILYARAN.
“Terus kapan Dul Kemit terima dolarnya, Kang?” Tanya kang Ujang tak sabar sambil menghela nafas dalam-dalam.
“Wah kurang tahu Kang. Bersambung pada seri berikutnya.” Sahut kang Encep bikin kang Ujang penasaran.
***
Sumber : Klik di sini

DUL KEMIT THE SERIES 59

DUL KEMIT THE SERIES 59
Misteri Dolar Seharga 37 Milyar (1)
Oleh : Arif Yosodipuro



Dul Kemit memasuki ruang kantornya, tempat biasa ia berbincang dan bercakap banyak hal dengan rekan pengurus. Dalam suasana akrab sambil menyandar kursi betawi, ia berkata, “Ada dana segar.”
Ia menganyam jemarinya sambil memandang rekan-rekan yang ada di depannya. Ia tidak memberi tahu dari mana asal dana. Yang pengurus lainnya tahu tiba-tiba ada tambahan dana di akun yayasan 37 milyar.
“Pimpinan negara Pantai Gading yang tumbang,” lanjut Dul Kemit meyakinkan, “memiliki dana jutaan dolar yang disimpan dengan dilapisi zat pengaman. Dana itu akan disumbangkan kepada kita. Namun, untuk mencairkannya perlu dana untuk zat kimia dan mesin pencair.
Rekan-rekannya pun terpancing emosinya. Wajah mereka spontan cerah dan bergairah kegirangan. “Lumayan bisa untuk menyelesaikan bangunan-bangunan.” Sambung Dul Kemit penuh harap. “Ayyub sekarang sedang mengurus dan negosiasi untuk pencairannya.”
Follow up-nya, berangkatlah empat orang – Dul Kemit, Ayyub (adik kandung Dul Kemit), Insinyur Yodi dan M. Basyir – ke Madrid, Spanyol, tempat yang disepakati untuk ketemuan. Mereka berada di sana beberapa hari. Dalam pertemuan itu, Dul Kemit dimintai dana sebesar 5 MILYAR untuk membeli zat kimia pencair.
“LIMA MILYAR, Kang?” kata kang Ujang memotong gemes.
“Iya, 5 milyar,” ujar kang Encep bersemangat.
Karena ada dana segar, permintaan itu diiyakan. Ia lantas menghubungi ketua yayasan, H. Sarbini (sebelum dijabat anak sulungnya), untuk berkomunikasi dengan pihak bank mitranya agar bisa mentransfer dana tersebut.
Mendapat perintah dari pimpinan, H. Sarbini langsung kontak pihak bank. Pihak bank pun mentransfer dana yang diminta itu. Uang sudah pindah rekening tanpa tahu bagaimana wujud zat kimia pencair itu.
Selanjutnya, Dul Kemit dan Insinyur Yodi kembali ke pesantren lebih dulu. Sedangkan Ayyub (adik Dul Kemit) dan M. Basyir masih tinggal di Madrid. Entah apa yang mereka lakukan di sana, negosiasikah, atau apa, hanya Dul Kemit dan Ayyub yang tahu.
“Wah, seru banget Kang,” komen kang Ujang ingin tahu selanjutnya. “Terus gimana?”
“Maaf Kang Ujang, saya mau menjemput istri dulu.” Kata kang Encep mengakhiri ceritanya. “Ntar ya disambung lagi.”
***
Sumber : Klik di sini

DUL KEMIT THE SERIES 58

DUL KEMIT THE SERIES 58
Kiat Kaya Ala Dul Kemit (4)
Oleh : Arif Yosodipuro


Dul Kemit menjadi pemilik tunggal pesantren dengan segala fasilitasnya. Penguasa tunggal, bagai raja-raja di nusantara jaman baheula.
Karyawan yang memelihara ayam atau ikan di lahan pesantren ia larang. Tak ada yang boleh ternak ayam di lahan pesantren. Tak boleh ada yang ternak ikan, lele misalnya, di lahan yayasan. Semuanya distop kecuali Dul Kemit. Digagahi sendiri bersama anak-istrinya.
Saking rakusnya, sampai-sampai ada karyawan yang menanam buah naga. Berkat tangan dinginnya tanaman itu tumbuh subur dan banyak buahnya. Begitu istri Dul Kemit, nyai, tahu ada pohon naga banyak buahnya, pohon itu diaku, diminta paksa sebagai miliknya.
Sang karyawan tidak bisa menolak, kecuali bilang, “Muhun Nyai, mangga ngahaturkeun.” Lalu menelan ludah sambil mengelus dada seperginya nyai. TERTALU….
“Segitunya Kang?” Kata kang Ujang kaget, terheran-heran. “Mungkin dalam hati nyai bilang, ‘loe siape tong berani-beraninye nanem di lahan pesantren. Kan milik gue.’ Gitu kali Kang kalau gaya orang betawi.”
Strategi authority power yang Dul Kemit terapkan sangat jitu dan berjalan mulus. Dengan cara itu ia sangat leluasa dalam mengumpulkan rupiah yang cukup meruah. Semua sumber uang mengalir ke rekeningnya bukan ke kantongnya karena tidak pernah mengantongi uang. He he he he……
Dul Kemit yang dulu tidak mempunyai apa-apa, sekarang apa-apa punya. Dari merampok terselubung itu ia mampu membeli properti, rumah yang harganya miliaran. Selain itu ia juga membeli tanah yang luasnya puluhan hektar di sekitar pesantren. Bahkan ratusan hektar di daerah asal nyai dan sudah diatasnamakan putra sulungnya, Gus Memet.
Tak ada kata yang layak disebut kecuali WOOOW….
***
“Jadi inti kiat kayanya Dul Kemit apa Kang?”
“Setidaknya ada empat, Kang Ujang. Yaitu monopoli, brand cheating, authority power, dan good packing.”
“Apa sih kang maksudnya?”
“Yaelah, Kang Ujang?!” Kata kang Encep meledek. “Monopoli itu mengganggahi sendiri, orang lain tidak boleh, diproteksi. Brand cheating, ya bahasa gampangnya memalsu merek, yang sudah saya bilang tadi. Membajak lah Kang.
Seperti memalsu merk obat, makanan, pakaian dll. Pernah kan dengar sepatu adidas KW? Merknya adidas tetapi yang buat bukan adidas dan kualitasnya pun beda. Sama dengan kopi beli di luar pesantren. Kemudian dibranded kopi pesantren. Panen sendiri.”
“Terus kalau authority power dan good packing, apa?”
“Authority power maksudnya kekuatan kekuasaan. Jadi dengan kekuasaan yang dimiliki, ia berbuat semaunya. Seperti ikan yang sebenarnya milik yayasan masuk ke dapur atas nama Dul Kemit dan Gus Memet karena mereka berkuasa.”
“Lalu good packing maksudnya…..,” kang Encep menghela nafas dalam-dalam sambil sendawa sebelum meneruskan, “dikemas dengan baik, baik kemasan fisik berupa bungkus maupun propaganda. Misalnya garam. Sebenarnya sudah orsinil karena prosesnya alami.”
“Kemudian untuk mengangkat value atau nilai garam tersebut, Dul Kemit mempropagandakan di masjid. Retorikanya dikemas sedemikian indahnya sehingga membuat pendengar terpesona dan terkesima. Selain itu bungkusnya pun dikemas semenarik mungkin.”
“Oalah, paham abdi Kang.” Kata kang Ujang sambil manggut-manggut kaya kepala cepot ketimpa kelapa.
***
Sumber : Klik di sini

DUL KEMIT THE SERIES 57

DUL KEMIT THE SERIES 57
Kiat Kaya Ala Dul Kemit (3)
Oleh : Arif Yosodipuro


Akulah sang penguasa. Akulah sang dewa. Barangkali kalimat itu yang ada di benak Dul Kemit. Sehingga tutur kata dan tingkah lakunya tak boleh dikritisi. Tak boleh disanggah. Pilihan jawaban hanya satu, one option only. Bukan yes or no, tetapi yes saja.
Mungkin saduran dari Al-Qur’an “Sami’na wa atho’na” ini yang menjadi dasar pijakannya, menjadi dalil naqlinya. Sehingga apapun yang dikatakan harus dilaksanakan, sekalipun tidak masuk nalar, sekalipun itu BOHONG dan CURANG.
Ketaatan warga pesantren ini dimanfaatkan oleh Dul Kemit untuk menutupi akal jahatnya. Dengan kerakusannya, Dul Kemit dalam qurun waktu tertentu bisa meraup untung melimpah. Sampai-sampai yayasan berhutang kepadanya belasan milyar. Padahal dia tidak mengeluarkan modal. Ya, TANPA MODAL.
Modalnya dari yayasan. Uangnya dari yayasan. Caranya…? Ya tadi….NYALO. Dia ambil belanjaan dulu bayar belakangan. Misalnya dia belanja kecap. Harga, katakanlah Rp15.000,- Kemudian dia jual ke yayasan Rp25.000,-
Karena dia yang berkuasa, dia yang menentukan harga berapa saja dia mau. Selanjutnya bon tagihan atas nama dia. Dia menagih ke yayasan baru setelah itu dia bayar ke toko tempat ia belanja. Dia tidak keluar uang sepeser pun, namun dapat keuntungan segunung.
Keuntungannya bukan jutaan, tapi milyaran. Iya, MILYARAN.
CERDAS KAN… kyai Dul Kemit?
“Rupanya begitu caranya. Tega ya?” celoteh kang Ujang menyimpulkan di tengah mendengarkan cerita kang Encep dengan seksama. “Pantes yayasan punya hutang ke dia,”
“Kang Ujang mau niru? Kata kang Encep mencoba memancing temannya, menginvestigasi. “Gak berkah kang, dunia akhirat.”
***
Ternyata kerakusannya menurun kepada penerusnya. Setali tiga uang, jejak Dul Kemit diikuti putra sulungnya. Anak yang digadang-gadang menjadi penerima estafet tahta juga ikut menjarah aset yayasan. Ekstrimnya MENGGARONG.
Empang-empang yayasan airnya pada mulai surut. Sehingga ikan-ikan yang dulu ditanam oleh petugas pertanian bermunculan. Melihat ikan yang banyak, Gus Memet matanya hijau. Ia suruh petugas untuk menguras empang dan mengambil ikannya. SEMUANYA.
“Lho Gus, jangan semua. Yang indukan jangan,” kata petugas memberi masukan, mencegah. Karena indukan akan dijadikan untuk pembibitan. Namun tak digubris oleh Gus Memet.
“Gak usah. Semuanya saja,” kata Gus Memet sambil ngotot, memaksakan diri. Petugas hanya bisa mengelus dada. Yang mengherankan lagi. Ikan-ikan hasil tangkapan itu yang beratnya mencapai 1,5 ton dikirim ke dapur pesantren, bonnya atas nama GUS MEMET dengan harga yang tidak wajar.
Tahu nggak, berapa harga per kilonya? LIMA PULUH RIBU. Berapa kalau dikali 1,5 ton? Coba kita kalikan 1500 x Rp50.000. Hasilnya Rp75.000.000. Wow jumlah yang menggiurkan bukan? Nggak ngerawat, nggak modal. Hanya dengan empat kata, “gak usah, semuanya saja.”
Apa itu nggak MENGGARONG? Empang, empang yayasan. Ikan, ikan yayasan. Yang merawat petugas yayasan. Lha masuk dapur pesantren, kok atas nama dia dan yayasan suruh bayar. Harusnya tidak, kan?
“Coba mikir, kang. MIKIR…..!!!!” Kata kang Encep serius dengan perasaan kesal sambil menunjuk-nunjuk keningnya sendiri.
“Jadi bapaknya MERAMPOK, anaknya MENGGARONG Kang?” Sambung kang Ujang menguatkan rekannya sembari menggerak-gerakkan bibirnya. “Weleh, weleh. Kumaha eta?”

Sumber : Klik di sini

Monday, April 30, 2018

Undercover 120

TESTIMONI PRIBADI 21
Siapa di Balik Pengusiran 116 Guru Al-Zaytun (3)

Episode Pembisik Ternyata Licik



Banyak teman-teman yang bercerita tentang BS, termasuk komen di medsos. Seperti yang disampaikan oleh Pak Abduh di wall saya, testimoni 19. Siapa di Balik Pengusiran 116 Guru Al-Zaytun (2), Episode Bond 007 Beraksi.
Dia mengatakan bahwa saat diskusi bersamanya membahas riset terapan, Pak Abduh menyampaikan usul namun usulnya tidak digubris. Pertemuan tersebut dimonopoli dan terkesan monolog. Dia yang banyak bicara dan yang lain hanya sebagai pendengar setia.
Beda Pak Abduh, beda lagi dengan Ust. Anang Sundayana yang juga bercerita tentang BS. Selasa pagi, 03 April 2018, ketika itu kami berdua sedang rehat di rumah Ust. Suarsa setelah olahraga menggowes Haurgeulis – Bantawaru.
Di sela-sela kami menyeruput kopi ditemani dengan nasi ketan susu, Ust. Anang bilang bahwa BS pernah diberi sanksi oleh Ketua Dewan, Ust. Nawawi, karena indisiplin. Pada waktu Idul Fithri, semua guru harusnya di ma’had untuk mengikuti shalat Id, namun BS justru di rumah dengan alasan ISTRINYA MELAHIRKAN.
Tak percaya begitu saja, Ust. Nawawi menelepon istrinya dan istrinya bilang bahwa dia dan suaminya sedang berada di mall. Mendengar jawaban tersebut, Ust. Nawawi merasa dibohongi. Ia kemudian memberi sanksi kepadanya tidak boleh shilah, pulang ke keluarga dalam qurun waktu tertentu.
Mendapat sanksi tidak boleh shilah, dia galau dan goncang. Dia melakukan berbagai manuver dan pendekatan bagaimana bisa shilah. Karena itu ia mendekati Ust. Anang Sundayana, yang kala itu sebagai MP-nya (Kepala sekolah). BS merengek minta saran dan bantuan bagaimana agar Ust. Nawawi mengizinkan dia bisa shilah.
Banyak track record kecurangan dan kelicikan BS dalam mencapai tujuan pribadi. Sebenarnya, Syaykh sendiri juga sudah mengakui dan memahaminya. Hal ini terbukti ketika Syaykh memerintahkan penambahan anggota Dewan Guru dan nama BS dicantumkan sebagai calon anggota yang diajukan oleh Ketua Dewan Guru, beliau tidak berkenan dan meminta agar nama BS dicoret.
“Jangan dia. Orang suka nelikung dari belakang,” ujar Syaykh kepada Ketua Dewan Guru, menolak BS.
Dan klimaks kelicikan BS adalah memata-matai rekan seprofesinya demi mendapatkan nama baik dan pujian dari pimpinan, yang istilahnya ngatok, njilat, dsb. untuk keuntungan pribadi.
Buah dari kelicikannya itu sekarang ia dipercaya oleh Syaykh sebagai Ketua Majelis Guru. Padahal sebelumnya Syaykh tidak mau dan tidak berkenan. Bertolak belakang dengan slogan yang digemborkan TIDAK ADA AKAR ROTAN PUN JADI.
Memang diakui atau tidak, Syaykh mengalami kesulitan mencari siapa yang akan dipercaya. Guru-guru senior yang dianggap memiliki kemampuan manajerial tinggal beberapa orang. Dari Dewan Guru tinggal Ust. Ali Aminulloh, Purnomo, Alfi Satria, Wina Safitri dan Usth. Siti Umawaroh.
Sementara manajer pendidikan tinggal Ust. Herman Sururi, Rizal Eko, Iis Humairoh dan Usth. Nur Aliyah. Sedangkan dari guru adalah dua ustadz yang sedang menempuh pendidikan S3, Ust. Nur Kholis dan Ust. Irvan.
Dari mereka yang ada, Ust. Ali Aminulloh sudah dicurigai dan mulai disangsikan. Karena itu untuk menghilangkan jejak dan menghapus image, Dewan Guru didimisionerkan kemudian diganti dengan Majelis Guru dan diangkatlah BS sebagai ketuanya sebab dianggap berjasa memata-matai koleganya.
Apakah Syaykh juga KORBAN KELICIKAN BS sehingga membuat keputusan yang salah mengusir, menghadang dan memecat 116 guru secara sepihak?

Sumber : Klik di sini