Wednesday, March 21, 2018

Undercover 105

TESTIMONI PRIBADI 10
Usir Sadis Ala Teroris (5)
Oleh : Arif Yosodipuro


Sejak kali kedua kedatangan guru-guru yang ingin bersilaturahim, keamanan mendapat instruksi khusus. Mereka pun langsung berkoordinasi untuk menentukan aksi dan antisipasi. Gambar hasil jepretan mereka analisis dan orangnnya mereka kenali satu per satu sampai mereka mendapatkan data guru yang ikut dalam rombongan silaturahim.
Hasil koordinasi dan analisis itu mereka input dan dijadikan patokan kemudian diprint out untuk dibagikan kepada titik penjagaan, kepada syaykh, kepala keamanan, kantor keamanan pusat, dan ketibaan di gate.
Selanjutnya, guru-guru diklasifikasikan ke dalam tiga golongan, guru merah, guru kuning dan guru putih. Guru-guru yang masuk dalam list rombongan ke masyikhoh kedua untuk bersilaturahim dikategorikan sebagai guru merah.
Karena itu siapa pun yang masuk daftar guru “merah” mereka hadang tidak boleh masuk dan mereka usir keluar ma’had. Tidak peduli, ALUMNI sekalipun. Sekali lagi ALUMNI sekalipun. Termasuk yang dialami oleh Ananda MUHAMMAD RAHMATULLAH, S.PD.I.
Siapa yang tidak kenal Ust. Rahmatullah. Ia rela meninggalkan jenjang pendindikan yang sedang ditempuh dan mengulangi dari kelas I MTs di Ma’had Al-Zaytun. Dia adalah santri terbaik, cerdas dan tangkas. Johan menjadi langganannya setiap semesternya.
Kecintaannya dengan ALMAMATER tak disangsikan lagi. Hidup dan dirinya hanyalah untuk Zaytun. Hal ini ia buktikan dengan tetap menjadai guru, dari guru sandaran sampai menjadi guru tetap. Padahal kalau mau, ia dapat mencari pekerjaan yang lebih dari guru di luar.
Ust. Rahmatullah adalah alumni pertama serba bisa. Dia adalah generasi yang digadang-gadang. Karena dia dan teman-temannya adalah harapan sebagai generasi penerus. Dengan ikhlas dan sabar ia geluti profesi guru demi generasi masa hadapan.
Bahasa Arab bidang studi yang diampunya sejak tahun 2005. Kemampuan IT-nya pun bisa diadu. Karena itu ia dilirik oleh Ust. Hartono, untuk menjadi staf Bidang Kurikulum MTs. Al-Zaytun, mendampinginya dalam menyusun proram.
Namun sayang, kecintaannya itu harus berakhir. Ia dimasukkan pada list guru merah. Gara-garanya ia membela guru-gurunya yang sekaligus pimpinannya yang dihadang tidak boleh masuk. Ia dimintai tolong untuk mengambilkan dokumen yang ada di kantor MP.
Sebagai bakti kepada guru yang sekaligus pimpinannya, ia ambilkan dokumen tersebut. Tenyata ada yang memperhatikannya. Apa yang ia lakukan kemudian dilaporkan oleh guru yang cari muka kepada orang kepercayaan Syaykh.
Tragisnya pada Rabu, 4 Januari 2018 beriringan dengan Bu Datin, pukul 20.15 WIB saat berada di kamar 429 asrama al-Fajr, ia didatangi enam orang petugas keamanan dipimpin oleh Zainal Abidin. “Ustadz,” kata Zainal Abidin menyampaikan pesan dari pimpinannya. “Ustadz diminta oleh pimpinan untuk menghabiskan waktu liburan di luar ma’had.”
“Memang kenapa?” Kata Ust. Rahmatullah spontan. “Sampai kapan?” lanjutnya ingin penjelasan. “Saya sudah ada rencana kok, juga sudah beli tiket kereta untuk tanggal 6 Januari. Tanggal enam saja saya cutinya. Sekalian nyelesaikan jadwal.”
“Wah saya kurang paham, Ustadz. Kami hanya ditugaskan.” Lanjut Zainal.
“Sekarang sudah malam. Besok sajalah… Kontrakan saya kan jauh di Surabaya. Tidak di sekitar sini.”
Zainal tak peduli. Ia terus bertahan. “Maaf Ustadz, perintah pimpinan begitu. Malam ini juga Ustadz diminta melanjutkan cuti di luar ma’had. Silakan Ustadz kemasi barang-barang. Nanti kami antar ke gate.”
“Gak usahlah dikawal... Biar saya sendiri aja.” Kata Ust. Rahmatullah meminta.
“Tidak bisa, Ustadz. Perintah pimpinan kami ditugasi untuk memastikan Ustadz Rahmatullah keluar ma’had.”
Ustadz Rahmatullah tak bisa mengelak. Ia pasrah kemudian mengemasi barangnya. Usai itu, ia diantar oleh keamanan ke tempat parkiran motor di sebelah barat gedung Ali bin Abu Thalib dengan mobil untuk mengambil motor.
Dengan pikiran menerawang dan tidak percaya dengan apa yang menimpa dirinya, Ust. Rahmatullah pun melajukan kuda besinya meninggalkan ma’had yang dicinta sambil mencari ke mana tempat sementara untuk singgah sebelum ke Surabaya menemui istri tercintanya.
Subhanallah. Dia adalah satu dari sekian ALUMNI YANG TERBAIK. Hanya gara-gara menolong mengambilkan dokumen gurunya yang juga pimpinannya, ia dimasukkan dalam daftar GURU MERAH. Lantas…. apakah sebenarnya yang KAU CARI…..?

Sumber : klik di sini

Undercover 104

TESTIMONI PRIBADI 9
Usir Sadis Ala Teroris (4)
Oleh : Arif Yosodipuro


Upaya silaturahim dua kali yang buntu tak membuat guru-guru patah semangat. Pendekatan kekeluargaan terus diusahakan. Pada Kamis, 29 Desember 2016, perwakilan guru – Ustadz Sarju, Ustadz Mustaqim, Ustadz Djarot, dan beberapa teman lain – menemui Kapolres Indramayu untuk menyampaikan surat doa bersama akhir tahun.
Mereka ditemui oleh Pak Kapolres, didampingi Kabid Intel, Kabid Operasional, dan Kabid Humas. Pak Kapolres keberatan dan minta agar tidak dilakukan karena timnya sedang banyak tugas dan pengamanan tahun baru. Selanjutnya beliau menawarkan diri untuk memediasi.
Keesokannya, Jum’at 30 Desember 2016 sekitar pukul empat, beliau bersama rombongan datang ke Al-Zaytun. Setibanya di gate, keamanan gate menelepon kantor pusat 2111 memberi tahu tentang kedatangan Kapolres.
Beliau kemudian dipandu oleh petugas keamanan menuju masyikhoh. Syaykh al Ma’had dan beberapa eksponen dekatnya sudah menunggunya. Begitu ketemu, mereka langsung bersalaman lalu berbincang santai.
Setelah berbasa-basi sebagai prolog, Pak Kapolres masuk pada inti pembicaraan maksud kedatangan beliau yaitu menyampaikan keinginan guru-guru untuk bersilaturahim. Dialog imajinernya sebagai berikut:
“Syaykh,” kata Kapolres sambil menata duduknya. “Guru-guru minta bisa bersilaturahmi dengan Syaykh.”
“Gampang Kapten.” Kata syaykh merespon perkataan Kapolres sambil senyum. “Mereka itu relawan. Serahkan kepada syaykh, beres….” lanjutnya sambil menepukkan kedua telapak tangan.
Rupanya kedatangan guru-guru ke Polres dan kedatangan Kapolres Indramayu menemui syaykh inilah yang memicu dan memacu kemarahan sehingga semua guru yang ada dalam rombongan ingin silaturahim dengan syaykh kedua DIREDLIST. Semuanya tidak boleh masuk dan yang ada di dalam ma’had pun diusir.
Guru selain bu Suprapti yang diusir adalah Moch. Yunus, S.Pd. Guru Matematika sejak tahun 1999, Wakil MP (Kepala Sekolah) Bidang Kesiswaan, juga sebagai Mudabbir Asrama Al-Mustofa, dan Pembina Organisasi Pelajar Al-Zaytun (OPMAZ)
Hari-hari waktunya ia habiskan untuk mendampingi oraganisasi pelajar tersebut. Tak jarang beliau sendirian dengan telaten mengarahkan dan mengevaluasi OPMAZ setiap pekan. Maka tak heran kalau beliau sangat dekat kepada santri, terutama pengurus OPMAZ.
Pada hari dan tanggal yang sama (01 Januari 2017) pukul 14.00 WIB, saat sedang bertugas piket di kantor manajemen 130 asrama al-Mustofa, beliau didatangi oleh sekitar 10 petugas keamanan ma’had Al-Zaytun yang dipimpin oleh Tony Ismawan.
Dengan redaksi yang sama, Tony Ismawan menyampaikan kepada Ust. Moch. Yunus bahwa atas perintah pimpinan guru-guru agar menghabiskan masa cuti/ liburan di luar Ma’had. Ust Moch. Yunus menjawab bahwa masa cuti liburannya sudah selesai dan sekarang adalah masa ia bertugas di ma’had.
Namun Tony Ismawan tetap mengatakan bahwa atas perintah pimpinan, ia bersama tim keamanan ditugaskan untuk mengawal ust Moch. Yunus keluar Ma’had. Maka dengan berat hati, saat itu beliau keluar meninggalkan tugas.
Selanjutnya Ust. Supriyadi, S.Si, guru Matematika sejak tahun 1999, Pengurus Manajemen 130 Asrama Al-Mustofa, juga mendapat perlakuan yang sama. Tepatnya pukul 15.30 WIB, saat sedang tidur siang dan sedang tugas piket di asrama, beliau didatangi oleh beberapa petugas keamanan (masuk ke dalam kamar) dipimpin oleh Tony Ismawan.
Sama dengan yang disampaikan kepada Ust. Moch. Yunus, Tony Ismawan menyampaikan kepada Ust. Supriyadi bahwa atas perintah pimpinan guru-guru agar menghabiskan masa cuti liburan di luar Ma’had.
Ust. Supriyadi, guru yang gak banyak omong, langsung mengemasi barang kemudian keluar. Kunci kamar dan BIT-nya pun diminta oleh petugas.
Tak cukup mereka bertiga yang diusir. Ustadzah yang baru saja melahirkan rela bertugas di Ma’had Al-Zaytun pun tak luput dari pengusiran. Beliau adalah Usth. Datin Khairani, S.P., guru IPA sejak tahun 2004, juga staf Sekretariat Pendidikan Al-Zaytun.
Pada Rabu, 4 Januari 2017, pukul 15.30 WIB tiga orang petugas keamanan Ma’had Al-Zatun mendatangi kamarnya. Sang petugas pun menyampaikan kalimat yang sama dengan sebelumnya. “Ustadzah diminta oleh pimpinan untuk menghabiskan waktu liburan di luar ma’had”.
Sungguh memilukan. Ustadzah yang rela bertugas di ma’had pada masa libur sambil mengendong dua anak balitanya (yang besar berusia 3,5 tahun dan yang kecil baru 8 bulan) disuruh pergi begitu saja.
Tak ada bantahan dan tak ingin bersitegang, beliau pun harus rela meninggalkan ma’had dikawal oleh petugas keamanan. Dengan digelayoti dua anak balitanya beliau keluar gate tak tahu harus ke mana karena hari-hari beliau tinggalnya di ma’had.
Siapa lagi dan bagaimana pengusirannya, berlanjut TESTIMONI PRIBADI 10. Usir Sadis Ala Teroris (5)

Sumber : Klik di sini

Undercover 103

TESTIMONI PRIBADI 8
Usir Sadis Ala Teroris (3)
Oleh : Arif Yosodipuro


“Sebaiknya Ustadzah ambil saja dulu untuk jaga-jaga bila nanti dibutuhkan.” Kata Toni memberi saran. Bu Prapti bergegas kembali ke kamar untuk mengambil dokumen dikawal oleh pak Dasrun. Dengan perasaan penuh tanya, ia masukkan dokumen dalam tas lalu turun ke lantai satu.
Beberapa saat kemudian datanglah mobil keamanan. “Silakan naik, Ustadzah.” Kata keamanan yang duduk di belakang stir. Bu Prapti pun mengikuti perkataannya. Barang ia masukkan terlebih dulu. Tak ada penumpang lain kecuali bu Prapti dan sopir berpakaian seragam keamanan, putih biru.
Sesampainya di gate, ia berjalan menuju loket untuk entry BIT. Banyak petugas keamanan dan beberapa wali santri di situ. Beberapa orang keamanan memvideo bu Suprapti. Setelah BIT diserahkan, petugas berkata, "Maaf Ustadzah, atas PERINTAH PIMPINAN, BIT ustadzah kami simpan di sini.
“Mengapa begitu…?” Tanyanya spontan, protes.
“Ini perintah pimpinan, Ustadzah.” Kata petugas berdalih sambil memandangi bu Prapti.
“Ya sudah….” Kata bu Prapti dengan nada tinggi dan perasaan kesal karena BIT-nya diminta oleh petugas BIT. Ia kemudian berjalan keluar menuju parkiran motor di depan gate untuk mencari ojek. “Lho….banyak motor kok gak ada orangnya?” tanyanya dalam hati.
Bu Prapti mulai jengkel dan marah. Bagaimana tidak? Begitu banyaknya kendaraan bermotor yang diparkir depan gate, sore itu tak seorang pun stand by dekat motornya. Padahal biasanya ditunggui pemiliknya, karyawan yang mengojek.
Karena kesalnya, bu Prapti menoleh kepada keamanan di dekatnya seraya berkata, "Hai Bi, saya disuruh keluar tapi mana tanggung jawabnya? Mengapa para karyawan yang ngojek kok tidak ada? Kan biasanya pada nongkrong di motor…..?”
“Tunggu Ustadzah, kita carikan ojek,” kata sang petugas keamanan. “Duduk saja dulu, Ustadzah.”
“Untuk apa saya duduk… kalau perlakuan seperti ini kepada saya….?” Sahut bu Prapti sambil mengendalikan emosi kejengkelan. Perasaan gelisah dan gundah bercampur marah menggelayut dalam pikirannya.
Hampir 20 menit menunggu, belum juga ada satu pun karyawan pengojek yang tampak batang hidungnya. Seolah-olah mereka seperti pasukan tempur yang disuruh sembunyi oleh komandannya. KOMPAK, SEREMPAK, mengikuti aba-aba.
Tak mau berlama-lama dalam kegelisahan, bu Prapti ambil sikap. Ia hadang saja sembarang motor yang lewat di depan gate dari arah Suka Selamet. Subhanallah, Dzat yang Rahman dan Rahim. Alhamdulillah, ada pengendara motor yg mau berhenti dan mau ia tumpangi.
Rupanya pengemudi motor adalah orang yang mau pergi ke Haurgeulis. Dari raut wajahnya, orang tersebut agak heran dan bertanya-tanya melihat bu Prapti membawa banyak tas. Tapi tak banyak cakap. Ia hanya bertanya, “Mau ke mana, Bu?”
“Mau ke rumah teman saya di Haurgeulis.” Jawabnya datar sambil menata diri naik ke jok tepat dibelakang orang yang berbaik hati itu. Selama dalam perjalanan, tak ada percakapan atau dialog. Sang pengendara fokus pada motor yang melaju di jalan penuh gelombang.
Desingan motor terus menderu mengirama bagai musik perkusi menjadi hiburan tersendiri. Kepulan asap, limbah pembakaran mengepul mengerol-erol bagai awan yang menggelayut di angkasa, menghiasi panorama alam pedesaan yang lebih bersahabat dibanding pesantren tempat ia mengabdi.
Suara Adzan mengalun merdu memanggil manusia-manusia beriman untuk segera mengambil wudlu kemudian melaksanakan shalat lima waktu. Sampailah ia di jalan gang depan rumah kontrakan bu Sumarmi.
Ia keluarkan uang 20.000-an dan diberikan kepada sang pengendara berhati mulia. Namun, ia menolaknya. “Nggak usah, Bu,” katanya sambil bersiap-siap melanjutkan perjalanan. Bu Prapti tak mau memaksa dan hanya bisa berkata, “Terima kasih ya Pak….”
Ia kemudian berjalan ke rumah bu Sumarmi. Berceritalah ia kepada bu Sumarmi tentang kejadian yang ia alami. Bu Prapti menyimpulkan bahwa dengan dimintanya kunci kamar dan BIT, membuktikan bahwa tidak ada tempat baginya untuk tinggal lagi di mahad.
Bagi bu Prapti Al-Zaytun adalah tempat mengabdinya. KTP-nya pun KTP Al-Zaytun, dengan alamat AL-ZAYTUN RT 007 RW 21 MEKARJAYA, GANTAR, INDRAMAYU. Keluar mahad bukanlah kehendaknya. Tetapi ia dikeluarkan dengan paksa oleh beberapa keamanan atas perintah sang penguasa.

Sumber : Klik di sini

Undercover 102

TESTIMONI PRIBADI 7
Usir Sadis Ala Teroris (2)
Oleh : Arif Yosodipuro


Hilang permatanya. Sejak keberangkatan bu Prapti ke Ma’had Al-Zaytun, ibunya merasa kehilangan. Karena dialah yang paling dekat dan perhatian kepadanya. Apalagi pada saat berangkat, kondisi ibunya baru saja membaik dari stroke.
Saat awal sepeninggal sang ayah, ibunya terjatuh di kamar mandi yang menyebabkan beliau lumpuh, mulut perot dan susah untuk bicara. Dengan qadla Allah, juga perawatan yang intens karena bu Prapti di sampingnya, ibunya bisa pulih dan bisa berjalan, walau masih memakai tongkat.
Seiring dengan berjalannya waktu, rasa rindu mengaru biru, memaksa kehendak untuk bertindak, mendorong hati untuk beraksi. Namun apa daya kondisi fisik semakin menua, rasa rindu pun harus rela hanya tersimpan dalam dada.
Kerinduan mendalam yang tak bisa tersalurkan membuat ibunya kepikiran dan sering kambuh penyakitnya. Klimaksnya akhir semester kedua (awal tahun 2000), ibunya masuk rumah sakit dalam keadaan koma di ICU rumah sakit Yarsis Solo. Tiga hari belum sadarkan diri.
Mendengar kabar tersebut ia segera pulang, menengoknya. Begitu bertemu, ia pegang tangan ibunya erat-erat. Seketika itu ibunya langsung bereaksi. Hanya saja kondisi badannya sudah mati separoh. Dianggapnya sudah ada reaksi maka ibunya dipindah ke ruang rawat.
Konflik batin bergejolak, dua pilihan saling mencari perhatian dan tarik-tarikan. Keluar dari ma’had mencari dana untuk biaya perawatan. Atau, tetap di ma’had tapi rumah dijual. Ia kembali dihadapkan kepada dua pilihan yang amat sulit.
Dengan berbagai pertimbangan, ia pun menetapkan ma’had sebagai pilihannya. Sementara rumah dijual untuk biaya pengobatan ibunya. Selama masa perawatan, dia selalu berada di sampingnya. Dia tuntun ibunya berdzikir sampai akhirnya wafat dalam pelukannya. Baginya ibu adalah permatanya. Dengan meninggalnya sang ibu, maka hilanglah permata itu.
Inilah yang menjadi motivasi dirinya untuk tetap bertahan di mahad walau bagaimanapun kondisinya. Ia sudah korbankan rumah dan rela meninggalkan ibunya maka ia harus serius dalam membimbing anak-anak di Mahad Al-Zaytun.
Yang ia inginkan adalah dengan pengabdian di mahad secara totalitas, Allah jadikan dirinya sebagai hamba yang sholehah sehingga doa surga untuk kedua orangtuanya dikabulkan oleh-Nya. Karena itu tekadnya adalah akan tetap mengabdi dan tidak akan keluar dari Ma’had Al-Zaytun.
Namun, Allah berkehendak lain. Pasalnya Ahad, 01 Januari 2017 pada pukul 14.10 saat hendak berangkat ke Dewan Guru untuk tugas piket, ia didatangi lima personil keamanan yang dipimpin oleh Toni Ismawan. “Maaf Ustadzah, atas perintah pimpinan, guru-guru agar menghabiskan masa cuti/ libur di luar Ma’had.” Kata Toni dengan hati-hati.
“Lho,” sahut bu Suprapti reflek. “Saya sedang mengerjakan banyak tugas ini. Menyiapkan soal-soal KSM Matematika, mengecek ajuan seleksi TU, juga mengecek persiapan pembelajaran semester genap. Gimana? ” Lanjutnya kaget sambil tak percaya.
“Iya Ustadzah.” Kata Toni bertahan “Atas PERINTAH PIMPINAN, saya bersama tim keamanan ditugaskan untuk MENGAWAL USTADZAH SUPRAPTI KELUAR MA’HAD.” Lanjutnya berargumen.
Bu Prapti pun tak bisa mengelak. Ia lantas kembali ke kamar 333 Al Musthafa untuk mengambil barang (baju dll.), perlengkapan satu pekan, karena dia disuruh menghabiskan cuti di luar mahad yang saat itu masih ada 5 hari lagi. Saat ke kamar, ia dikawal oleh pak Dasrun, petugas keamanan Al Musthafa.
Usai mengunci kamar, kunci diminta pak Dasrun. “Maaf Ustadzah, kuncinya kami mita,”
“Kunci serepnya ada kok di kantor manajemen 130.” Kata bu Prapti memberi tahu. Tetapi pak Dasrun tetap meminta kunci yang ditangannya.
“Iya, Ustadzah. Yang dibawa Ustadzah juga. Perintah pimpinan.” Ujar Dasrun bertahan.
Kunci pun ia serahkan sambil berkata, "Pak, tolong jaga barang dan kamar saya ya". Pak Dasrun bersenyum sambil menerima kunci yang ia berikan. Ia kemudian turun ke lantai 1.
Sampai di lantai 1, ia duduk di bawah kanopi belakang Al Musthafa menunggu mobil keamanan yg akan mengantarnya ke gate. Saat menunggu, Toni Ismawan duduk di sampingnya. Ia bertanya kepada Toni, “Apakah perlakuan seperti ini untuk semua guru, ataukah hanya kepada guru yang kemarin ingin silaturahim kepada syaykh?”
“Wah, saya tidak paham, Ustadzah.” Kata Toni datar.
“Benar kan, ini hanya satu pekan? Karena saya hanya ambil perlengkapan untuk satu pekan.” Desak bu Prapti serius.
“Saya tidak paham.” Elak Toni menyembunyikan sambil meletakkan kedua tangan di belakang pinggang.
“Bagaimana ini?!” Kata bu Prapti dengan nada agak tinggi. Ia pikir-pikir sejenak, seperti orang panik, lalu berkata pada diri sendiri, “Dokumen penting, seperti ijazah & laptop masih ada di kamar, bagaimana ya?”
To be continued TESTIMONI PRIBADI 8. Usir Sadis Ala Teroris (3)

Sumber : Klik di sini

Undercover 101

TESTIMONI PRIBADI 6
Usir Sadis Ala Teroris 1
Oleh : Arif Yosodipuro


Tidak hanya saya yang tidak boleh masuk. Yang di dalam ma’had baik yang mukim (tinggal) ataupun sedang bertugas juga diusir dengan sadis. Seperti yang dialami oleh kolega saya, anggota Dewan Guru Bidang Pendidikan Sekolah, Ustadzah Suprapti.
Kecintaannya kepada Al-Zaytun tak perlu diragukan. Ia membulatkan keputusan bahwa Al-Zaytun adalah hidupnya dan tempat pengabdiannya di dunia. Sebab itu amanah ayahnya menjelang meninggal pun ia kalahkan demi Al-Zatun.
“Tik,” kata ayahnya yang sedang terbaring sakit dengan suara pelan sambil memegang lengannya. “Kalau bapak dipanggil Allah, tolong jaga ibu dan dua adikmu. Jangan sampai putus sekolah. Bapak yakin Atik mampu.”
“Iya, Pak.” Jawab bu Prapti tawadhu’. Ayahnya lebih percaya kepada bu Prapti dari pada kepada kakaknya. Ia tahu bahwa anak perempuannya itu berjiwa “fighter,” penuh semangat tak mudah menyerah. Tak ayal, sepeninggal ayahnya, bu Prapti menjadi tulang punggung keluarga.
Dengan tekad baja dan semangat yang membara, ia banting tulang kuliah sambil jualan ayam di pasar menggantikan ibunya yang tak bisa lagi beraktifitas. Dengan berjualan itulah ia merawat ibunya yang sakit, dan membiayai sekolah dua adiknya yang masih duduk di bangku SMP.
Lulus kuliah S1, ia mendapat tawaran biasiswa S2 ke Thailand. Namun, kesempatan itu ia biarkan berlalu karena ia memegang teguh wasiat ayahnya. Ia memilih merawat ibunya.
Ditengah tugas suci, berbakti kepada orangtua, bu Prapti mendapat panggilan jiwa, tugas mulia mendidik generasi di Ma’had Al-Zaytun. Dua pilihan yang sangat sulit, bagaikan memegang dua bilah mata pedang. Dua-duanya ibu baginya. Ibu kandung yang melahirkan dan Al-Zaytun sebagai ibu perjuangan dan harapan masa depan.
Beberapa hari ia tak bisa tidur. Pikirannya selalu aktif menimbang dan menimbang, antara merawat ibu juga menyekolahkan adik-adiknya. Atau, menerima panggilan jiwa. Ia pikir, merawat ibu dan adik-adiknya itu masalah personal. Sedangkan mendidik generasi di Mahad Al-Zaytun itu untuk kepentingan bangsa dan agama.
Dengan berat hati ia memberanikan diri minta izin kepada ibunya. “Bu,” katanya hati-hati penuh hormat. “Atik, mendapat panggilan tugas suci mendidik di Ma’had Al-Zaytun. Boleh ya?”
Ibunya tak langsung menjawab. Ia memandangnya tajam, tarik nafas dalam lalu berkata dengan suara lirih, “Tik…, kamu adalah hati ibu. Kalau kamu pergi, nanti yang ngrawat ibu siapa?” Mata ibunya mulai berkedip cepat menahan emosi sedihnya. “Tapi ibu juga kasihan kamu…, gara-gara ibu sakit kamu tidak jadi kuliah S2 di Thailand.”
Ia pegang erat tangan ibunya sambil dibelai-belai. “Insya Allah Bu, dengan mendidik di ma’had, nanti Atik dapat gaji dan bisa melanjutkan sekolah, S2.” katanya beralasan untuk meyakinkan dan menarik simpati ibunya.
Ibunya diam sejenak. Kemudian dengan sedikit terbata-bata melanjutkan, “Sebenarnya…, ibu berat…. Namun, walau dengan berat hati ibu izinkan kamu ke ma’had.” Rupannya ketidakberangkatannya ke Thailand menjadi catatan khusus ibunya.
Mendapat restu dari ibunya, bu Prapti lantas menyiapkan mental dan fisik. Segala perlengkapan dan perbekalan yang diperlukan di ma’had ia rapihkan dipak. Selain barang dan bekal materi, ia juga menyiapkan hafalan juz amma bersama rekan-rekannya, calon guru asal satu daerah.
Sesuai dengan target waktu yang dijadwalkan, berangkatlah bu Prapti ke Ma’had Al-Zaytun bersama calon guru lainnya. Saat ia pamit kepada ibunya, air matanya menderas, mengalir ke celah barisan pori-pori pipinya, demikian pula ibunya.
“Hati-hati kamu di ma’had, Tik. Jaga diri baik-baik.” Pesan ibunya sambil berat hati.
Dengan menegarkan diri, bu Prapti mengangguk seraya berkata, “Iya, Bu. Insya Allah Atik bisa menjaga diri.” Gesture matanya penuh semangat dan percaya diri walau harus rela meninggalkan ibunya yang sering sakit.
Usai minta restu ibunya, ia berpesan kepada dua adiknya. “Jaga ibu baik-baik. Sekalipun mbak Atik di ma’had, mbak Atik tidak lepas dari tanggung jawab. Mbak Atik akan bantu sebisa Mbak Atik.” Dua adiknya pun mengangguk sambil mengusap pipinya yang basah.
Peluk kasih bincang sayang secara perlahan berjauhan, memisahkan kemesraan dan melahirkan kerinduan di antara umat manusia yang saling mencinta. Berat hati dan kecintaan mesti ia relakan demi pengabdian kepada generasi anak bangsa penerus ajaran agama.
Kaki melangkah, tangan pun melenggang menjauh meninggalkan sanak saudara ke tempat pengembara di hamparan sawah tertata, MA’HAD AL-ZATUN yang punya tujuan mulia.
Bagaimana kondisi ibunya setelah ditinggalkan dan bagaimana pula drama pengusirannya....?
To be continued pada seri berikutnya; TESTIMONI PRIBADI 7, Usir Sadis Ala Teroris (2)

Sumber : Klik di sini

Undercover 100

TESTIMONI PRIBADI 5
Kiat Hadang Diolah Selezat Rendang (4)
Oleh : Arif Yosodipuro


Tak kuasa menahan praduga, saya menoleh seraya berkata kepada Ust. Sarju. “Jangan-jangan digembok pintunya...?”
“Ya kita lihat aja nanti.” Kata Ust. Sarju ragu apakah benar digembok atau tidak. Jalanan tampak lengang karena santri sedang berlibur semester. Sambil menata diri, kami terus melangkah.
Benar juga perkiraan saya. Sesampainya di belakang masyikhoh, pintu gerbangnya digembok dan dijaga oleh puluhan keamanan. Dua orang tepat di pintu gerbang. Sebagian di dalam halaman dan sebagian di luar.
Kebanyakan mereka (keamanan) adalah murid kami pada KEJAR PAKET yang oleh Al-Zaytun dinamakan KELAS DEWASA. Yaitu kelas untuk karyawan yang belum menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah.
Beberapa petugas keamanan menenteng HP dan mem-video kami. Mereka mengambil gambar semua guru yang datang dari berbagai angle. Selain keamanan, ada juga petugas dokumentasi LKM, Saudara Lathief Weha. Ia tampak aktif mengabadikan momen.
Lensa kamera yang lumayan canggih dibidikkan kepada kami. Tangan kirinya memutar-mutar adjustment lantas bidik… jepret, bidik… jepret dari berbagai arah. Fokusnya, ia bisa mendapatkan gambar guru-guru.
Karena pintu gerbang digembok, kami hanya bisa bergerombol di depannya. Beberapa teman – di antaranya Ust. Djarot, Ust. Fahmi, Ust. Suarsa – mencoba negosiasi dengan pihak keamanan. Lelah berdiri menunggu pembicaraan, beberapa teman pun ada yang duduk di trotoar.
Karena tujuan kami hanya ingin silaturahim dengan Syaykh, sekalipun pintu gerbang digembok, kami tetap rapih dan tidak melakukan tindakan anarkis. Upaya kekeluargaan terus kami tempuh.
Dengan sabar Ust. Djarot Wahyu Santoso terus berdialog dengan keamanan yang ada di dalam dari balik tirai julur besi. Ia minta agar bisa bertemu dengan pihak yayasan, utamanya utusan Syaykh. Pembicaraan alot. Pihak keamanan tetap tidak membolehkan.
Tidak ada utusan syaykh yang menemui kami. Keamanan mondar-mandir menyampaikan pembicaraan baik dari kami maupun dari pihak yayasan.
Paham akan kondisi dan tak mau bersitegang, kami lalu minta perwakilan berapa orang untuk bisa menyerahkan surat pernyataan keberatan kepada syaykh. Ini pun tidak dikabulkan. Pihak syaykh minta surat diserahkan melalui keamanan. Seratus lebih surat pernyataan yang di dalam mab yang dibawa Ust. Noviastono kemudian diserahkan kepada keamanan.
Petugas lalu ke dalam kantor keamanan pusat, menyerahkan dokumen tersebut. Entah siapa yang menerima. Apakah diterima oleh Abi Halim atau Pak Fathan sebagai kepala keamanan ma’had.
Namun, penerima tidak mau menanda tangani ekspedisi yang kami siapkan tanpa alasan. Keamanan hanya bilang, “Surat sudah diterima….” seraya menyerahkan kembali tanda terima yang tidak ditanda tangani.
Kami lalu berkumpul melingkar untuk berdoa kepada Allah dipandu oleh Ust. Zaenal Arifin. Usai berdoa, kami dengan sabar kembali ke gedung Abu Bakar.
Apakah yang kemudian terjadi...?
To be continued Testimoni 6. Usir Sadis Ala Teroris

Sumber : Klik di sini

Tuesday, March 20, 2018

Undercover 99

Mengingat Lupa... Part 4
Oleh : ‎محمد فيصل رحمن (Alumni)


Dulu tepatnya ketika kami para santri Aliyah
saat itu bertepatan dengan pemilu kalau tidak salah kami para santri aliyah atas arahan serta perintah YAB melalui Ayahanda Ustadz Rustam Nawawi
berkumpul di basement Gedung Ali Bin Abi Thalib untuk di ikut sertakan mencoblos salah satu paslon dari salah satu partai namun nama pemilih tetap yang tertera bukan nama para santri Aliyah.
nama yang tertera disana adalah nama orang lain dan saat itu kalau tidak salah pencoblosan dilaksanakan di Bazar dekat Bank BRI lama
Saat itu saya dengan beberapa kawan-kawan yang mempunyai sikap kritis bertanya-tanya..
kertas pemilih yang kami terima bukan hak kami
disitu tidak tertera nama kami melainkan nama orang lain
lalu kenapa kami (para santri aliyah) yang ditumbalkan untuk menambal sulam suara di kotak suara pemilu tersebut....???
Akhirnya saat itu kami para santri aliyah sadar..
bahwa kami sedang diajarkan berbohong di depan khalayak umum
Pakaian berkemeja berdasi namun kertas yang kami terima adalah nama Uwong Kenek 

Sumber ; Klik di sini