Wednesday, February 7, 2018

Undercover 85

Undercover 85
Oleh : Muhammad Ikhsan
Alumni Persada (Angkatan 2)


Waktu 2 tahun yang lalu saya kesana untuk mengurusi Reuni angakan 2, ada yg membuat kami paninitia tercengang ketika disela-sela pertemuan dengan ketua dewan guru saat itu (yg saat ini masih ada)

Dia menyampaikan kepada kami

"Ada ga temen2 (Persada) yang udah S2, bilang suruh daftar dosen disini dong, disini masih kekurangan dosen, atau Ijazah mereka dipinjamkan dulu untuk syarat akreditasnya, tidak mengajarpun tidak apa"

Disitu saya berfikir, bahwa tempat ini tidak ada bedanya dengan tempat lain yang bobrok, menggunakan segala cara demi tercapai tujuan.. 

Sumber : Klik di sini






Tuesday, February 6, 2018

DUL KEMIT THE SERIES 46

DUL KEMIT THE SERIES 46
Menganggap Gampang, Ujungnya Wisuda Mengambang
Oleh : Arif Yosodipuro


Berkoarnya ia seorang pendidik. Slogannya “Mendidik Hanya Untuk Ibadah.” Praktiknya wow…. menyusahkan. SUSAH … SUSAH… SUSAH…SUSAAAAAHH......BUINGIIIT gitu lo. Santri susah, wali santri susah, mahasiswa susah…… Pokoknya serba susah dech. he he he he…
Ide boleh segudang. Namun, apa gunanya kalau semuanya tumbang?
Dinamika akibat ulah Dul Kemit silih berganti. Kali ini menimpa mahasiswa institut. Mereka yang seharusnya sudah diwisuda terkatung-katung menunggu waktu yang tidak jelas. Sementara mereka harus tetap membayar uang kuliah.
Hal ini dikarenakan keserakahan dan kepelitan Dul Kemit. Merasa hebat dan berkuasa, semuanya digagahi. Semua dipegang sendiri. Tidak ada distribusi tugas dan kewenangan. Tidak ada job sharing. Semuanya harus dia. REKTOR dia. Kepala ALIYAH dia, MTs dia. Sampai PAUD pun harus dia.
Ia menganggap dirinya paling super, sesuper SUPER BOY, sesuper CAPTAIN AMERICA. Sesuper HULK, sesuper THE SIX MILLION DOLLARMAN. Sesuper TARSAN, dan sesuper tokoh film lainnya. Karena itu apa saja dianggap ENTENG dan dianggap GAMPANG.
Mulanya dengan semangat pendidiknya, Dul Kemit membuka universitas. Didukung oleh SDM yang beretos kerja dan ketaatan tinggi, semuanya bisa berjalan dengan baik sekalipun masih banyak kekurangan.
Promosi digencarkan. Dengan menawarkan prodi yang lagi ngetren; kedokteran dan IT, mahasiswa pun berdatangan. Dalam sekali angkatan bisa ratusan mahasiswa yang mendaftar. Sungguh prestasi yang membanggakan untuk universitas yang baru lahir.
Perkuliahan demi perkuliaha berjalan sesuai dengan jadwal. Namun, kelancaran perkuliahan tidak dibarengi dengan kelancaran administrasi, yakni PERIZINAN. Padahal pintu sudah dibuka lebar. Universitas diresmikan langsung oleh menteri pendididkan. Kemudian, pengurusan izin sudah mengantongi rekomendasi wakil presiden. Kurang apa…?
Kenyataannya, kuliah sudah berjalan hampir empat tahun, pengurusan izin universitas belum kelar dan izin pun tidak keluar. Akhirnya pil pahit harus ditelan. Karena tidak ada izin, maka tidak boleh mengadakan kegiatan perkuliahan.
Baru setelah mendapat peringatan, Dul Kemit menginstruksikan stafnya untuk menyelesaikan pengurusan. Mereka pontang-panting, ngebut mengurus. Namun sayang, sang pemberi rekomendasi sudah tidak menjabat lagi, ababnya sudah tak mandi. Izin pun tidak diberi.
Akibatnya, UNIVERSITAS DITUTUP. Mahasiswa harus gigit jari. Mereka sudah mengorbankan waktu, tenaga, dan dana namun sia-sia. Harapan menjadi seorang sarjana dari universitas yang dipuja sirna tak ada berita.
Gagal membangun universitas, Dul Kemit bermanufer mendirikan institut. Kalau dulu menginduk diknas, kini ia menginduk kementerian agama. Upaya pendirian isntitut berjalan lancar karea ada kedekatan dengan sang pejabat. Izin operasional institute dapat digenggam.
Lagi-lagi, Dul Kemit bangga diri. Kursi rektor ia duduki. Merasa berkuasa dan izin sudah di tangan, ia santai dan menganggap gampang. Ia lupa bahwa ia berada dalam wilayah berkonstitusi yang harus ditaati bahwa syarat menjadi rektor itu minimal S2. Dia terlena dan sibuk dengan manufer politiknya.
Giliran akan mewisuda, Dul Kemit kelimpungan. Pasalnya ia sebagai rektor tidak bisa mewisuda mahasiswanya karena terganjal oleh pendidikan akademisnya yang belum S2. Sementara dia tidak rela rektor dijabat oleh orang lain, sekalipun mereka sudah S2.
Baru setelah itu ia kuliah S2 untuk memenuhi persyaratan. Akibatnya mahasiswa yang seharusnya sudah diwisuda, terpaksa harus rela (meskipun nggerundel, ngedumel, mangkel) menunggu Dul Kemit menenteng ijazah S2. Namun, SPP bayar terus.
"Padahal saya bela-belai kuliah lebih dulu demi ada mahasiswanya dan menunda anak kuliah ujung-ujungnya malah begini. GAK JELAS." Kata seorang tetangga kang Encep mengeluh.
"Kok gak pindah atau keluar saja Kang?" Tanya kang Encep kepo.
"Sudah telanjur, Kang. Sudah banyak dana yang keluar. Nanggung." Jawabnya sedih.
Harusnya Dul Kemit belajar dari yang sudah-sudah. Allah sebenarnya sudah memberi serangkaian peringatan tetapi sepertinya peringatan itu tak pernah diperhatikan. Padahal peringatan Allah itu menjadi pelajaran bagi orang-orang yang mau berpikir.
Coba kalau Dul Kemit cerdas, tidak serakah, dan menganggap enteng, jabatan rektor bisa diserahkan kepada yang lebih berkompeten. Atau jauh-jauh hari, dia segera kuliah S2 sejak dibukanya isntitut. Sehingga, di tahun ketiga, dia sudah bergelar sarjana S2 dan syah mewisuda mahasiswa isntitut angkatan pertama tepat pada waktunya.
Hadeuh….MENGANGGAP GAMPANG, UJUNGNYA WISUDA MENGAMBANG….

Sumber : Klik di sini

DUL KEMIT THE SERIES 45

DUL KEMIT THE SERIES 45
Dicekoki Ide Baru Warga pun Membisu
Oleh : Arif Yosodipuro


Kelihaian Dul Kemit dalam berorasi membuat para pendengarnya terkesima, terutama yang baru mengenalnya. Mereka pasti akan bilang, “Wah hebat orang ini.” atau, “Ini figur pimpinan masa depan,” sekalipun mereka itu pejabat tinggi negara setingkat wakil presiden maupun sekelas ketua badan legislatif. Mereka akan menggeleng-gelengkan kepala mendengar ucapan sang tukang ngibul.
Lazimnya, para tamu penting yang berkunjung ke pesantren Dul Kemit, mereka diajak berkeliling seputar komplek pesantren. Mereka dipandu melihat fasilitas yang dimiliki, mulai dari sekretariat pendidikan sampai ke dapur santri, dari hulu hingga hilir. Mendengarkan penjelasan sang pemandu yang dibumbui dengan kibulan-kibulan mengagumkan, para tamu pun menelan ludah, takjub. Spontan berkomentar, “LUAR BIASA.”
Untuk membentengi diri dari para pengkritik, juga untuk membungkam warga agar tidak mengkritik, Dul Kemit mengeluarkan statemen yang seolah benar dan dibenarkan. Dengan bangganya, statemen itu disadur oleh netizen pengagumnya dan mengunggah ke medsos di wall statusnya.
“MEMBANGUN BANGSA TIDAK ADA CERITA UNTUNG DAN CERITA RUGI. YANG ADA HANYA KEJAYAAN BANGSA.”
Sepertinya pernyataan itu bagus dan benar. Namun kalau dianalisis mendalam, secara implisit ada pengabaian pertanggung jawaban. Membangun bangsa itu menggunakan uang rakyat. berhasil dan tidaknya suatu program harus dipertanggung jawabkan. Surplus dan defisit sebuah anggaran pun harus dilaporkan kepada publik melalui lembaga otoritas.
Seperti yang dilakukan oleh aparat di negara-negara maju. Bila ia gagal maka dengan suka rela mengundurkan diri dan menyerahkan kepada yang lebih mampu, bukan mempertahankan jabatan dengan tidak ada perkembangan, protektif, dan tak mau dikritik.
Di Jepang contohnya, pada 2011 Perdana Menteri Naoto Kan mengundurkan diri karena mendapat tekanan dan kritikan yang dianggap tidak menunjukkan kepemimpinannya pasca bencana alam, tsunami aceh, yang juga menerjang negara sakura itu.
Mengikuti seniornya, pada 2016, Menteri Ekonomi Akira Amari, pun mengundurkan diri setelah dirinya dituduh korupsi, menerima suap dari sebuah perusahaan sekalipun Perdana Menteri Shinzo Abe menginginkan yang bersangkutan tetap pada jabatannya.
Menanggapi statemen terselubung tersebut, netizen yang tidak sependapat berkomentar, “Itu adalah ucapan orang (pemimpin) yang tak bertanggung jawab.” Sementara netizen lain berucap, “Menghamburkan uang rakyat dengan semena-mena. Ungkapan itu menggambarkan ketidakpedulian sang pemimpin terhadap manajemennya. Statemen tersebut hanyalah alibi dan apologi dalam melegitimasi sang pemimpin berbuat semaunya, bebas tanpa syarat.”
Bagaimana pimpinan berprinsip seperti itu. Pantas saja dia tidak mau dikritik atas kegagalan demi kegagalan yang ia lakukan. Sebab itu, Dul Kemit tidak segan-segan akan menggunakan jurus pamungkas, aji-aji GEBUG BAWONO. Kalau sampai ada warga yang berani menilai, atau mengkritik dia. Yaitu “USIIIIIRRRRR…..!!!”
Berbagai kiat akan ia lakukan untuk membungkam mulut warga pesantren agar tidak bersuara. Satu di antaranya adalah PENGALIHAN ISU. Soal membuat pengalihan isu, Dul Kemit suhunya. Warga dijejali dengan isu-isu baru. Masalah satu belum tuntas, ia keluarkan isu baru sebagai pengalih. Warga dibuat tak berjeda untuk fokus menilai programnya. Mereka dibuat tak berkesempatan berpikir secara nalar.
Sederet proyek Dul Kemit yang gagal dan tidak dipertanggungjawabkan mulai dari mengirim warga ke luar negeri, yang dikirim hanya anaknya. Tanam durian, hilang durian hilang uangnya. Pelihara sapi, sapi habis tak jelas, ujungnya dulu milik yayasan menjadi milik pribadi. Program impor sapi, sapinya mati, keuntungan ia nikmati. Dan masih banyak lagi.
Agar warga tak sempat berpikir tentang program yang gagal, ia gulirkan program baru yang lebih spektakuler. Gagal program impor sapi, ia gulirkan program BAMMAS, Bawang Memabangun Masjid. Bawangnya mati, uang tak kembali. Sebagai alibi, kemudian ia ubah menjadi Bawa Masyarakat Menuju Sejahtera.
Selanjutnya, gagal program bammas, dimunculkan lagi program menyelesaikan menara. Menara yang sudah didesign begitu rupa, di tengah pengerjaan, ia tambah tingginya melebihi kapasitas. Akibatnya menara miring, sehingga mandeg pembangunannya.
JANGAN ADA CELAH. Bukan Dul Kemit kalau tidak ada ide baru. Gagal merampungkan pembangunan menara, ia keluarkan lagi ide lain. Yaitu membangun danau dan taman masjid yang diberi nama, DANAU AIR, TAMAN KEMBANG EMAS.
Warga pesantren kembali dihipnosis oleh sang hipnotis verbal dan dimobilisasi untuk mengumpulkan dana. Per orang ditarget untuk membayar dengan kurs atau seharga satu pot. Berapa pot kesanggupan warga untuk berdonasi.
Beda dengan program bammas yang ketika itu kurs yang dipakai adalah karung. Usai sosialisasi, gayanya Dul Kemit mengeluarkan kalkulator, kemudian tak tik tuk, mengitung-itung. Awalnya per orang ditarget 100 -200 karung. Namun dalam perjalanan, target berubah, naik menjadi 300 karung. Kemudian dengan retorika hipnosisnya, target berubah lagi menjadi ribuan karung.
Jadi berapa karung yang disanggupi oleh para donatur, bammaser, itulah yang harus dibayar. Kalau tidak salah, per karung dihargakan Rp22.000,- Misalnya, sanggupnya 1000 karung maka donatur harus bayar donasi sejumlah Rp22.000.000,-
Agar tampak tidak memaksa, mereka diminta menulis kesanggupan, berapa karung atau pot yang ia sanggupi. Namun kenyataannya, target kesanggupan sudah ditunaikan atau sudah terpenuhi masih saja diminta untuk menambah. Mereka diledek dan didesak terus agar mau menambah.
Wal hasil, sekalipun hampir semua program yang ia canangkan GATOT, GAGAL TOTAL, warga pesantren masih saja mengagumi dan membelanya. Banyak, yang secara sengaja atau tidak, mengutarakan statemen apologi. “Lebih baik pernah mencoba meskipun gagal dari pada tidak sama sekali.” Ada lagi yang berkomentar lain. “Tomas Edison itu mengalami seribu kali kegagalan sebelum mencapai kesuksesan.”
Ucapan-ucapan tersebut seolah menjadi pembenaran atas kegagalan program, yang secara implisit memberi keleluasaan kepada Dul Kemit untuk mengulangi kegagalan demi kegagalan berikutnya.
Begitulah cara Dul Kemit mengendalikan isu. Kelihaian Dul Kemit meramu orasi IDE BARU sebagai PENGALIH ISU yang hipnosis mampu membuat warga MEMBISU.

Sumber : Klik di sini

DUL KEMIT THE SERIES 44

DUL KEMIT THE SERIES 44
Jeritan Hati Guru 2; Bagai Makan Buah Simalakama
Oleh : Arif Yosodipuro



Manajemen kumaha aing, arogan, kaku, dan beku yang diterapkan Dul Kemit membuat hati civitas akademika pesantren ketakutan. Hari-hari mereka dihadapkan kepada suasana yang mencekam, seram dan mencengangkan.
Hal ini membuat mereka tak berkutik. Hati selalu was-was. “Jangan-jangan kena marah. Jangan-jangan kena semprot. Jangan-jangan kena omel. Jangan-jangan Dul Kemit melotot,” dan sederet “jangan-jangan” serta kekhawatiran lainnya yang menghantui perasaan mereka sebelum dan ketika bertemu dengan Dul Kemit.
Demi mempertahankan diri tetap berada di pesantren, mereka, termasuk guru, harus menyembunyikan perasaan tersebut sambil menjalankan tugas dengan beban tidak tenang dan khouf. Warga tidak ada keleluasaan dalam berbuat. Semuanya harus bersumber dan sepengetahuaan Dul Kemit sekalipun hal teknis yang remeh temeh.
Kekakuan manajemen Dul Kemit ini membuat para guru dilematis. Mereka selalu berbenturan dengan dua hal yang berbeda, menghadapi banyak masalah. Di satu sisi, mereka harus tunduk patuh kepada Dul Kemit, dan di sisi lain mereka juga harus menampung aspirasi santri dan wali santri.
Banyak hal yang membuat guru harus mengelus dada karena kebijakan Dul Kemit. Misalnya, sesuai dengan hasil litbang, telah ditetapkan bahwa inventaris asrama yang rusak karena pemakaian, perbaikan atau penggantiannya ditanggung oleh penghuni asrama, alias santri. Seperti lampu, kran air, dll. Realitanya, santri sudah membayar namun kerusakan belum juga diperbaiki padahal urgen.
Selanjutnya santri komplain ke guru yang sedang piket di asrama. Lalu Guru bertanya kepada petugas atau karyawan yang membidanginya. Kata karyawan dana atau barang pengganti belum ada dari yayasan. Sementara pengurus asrama (guru) tidak boleh menarik iuran.
Karena setiap ajuan perbaikan dan penggantian yang diajukan tidak segera ditindaklanjuti, maka pengurus asrama berinisiatif mengajak anak-anak menabung untuk mengatasi perbaikan dan penggantian inventaris asrama, khusunya kamar masing-masing. Besarnya Rp40.000 per anak untuk setahun. Tapi, karena keputusan ini bukan dari Dul Kemit maka tindakan tersebut dicap sebagai tindakan korupsi dan pungli.
Dalam hal kegiatan keagamaan, lembaga bina qiraat dan tahfidh qur’an yang diberi kewenangan untuk membina santri, tidak boleh mengadakan lomba qiraat dan tahfidh qur’an. Padahal ini sebagai kreasi dan inisiasi bagian dari bentuk pembinaan sebagai perangsang. Secara psikologi, tentu hal ini membungkam daya kreasi, inovasi dan motivasi. Sementara mereka dituntut untuk kerja maksimal dan hasil yang optimal.
Belum lagi permasalahan santri sekembalinya ke kampus setelah libur semester harus melunasi tagihan. Mereka yang belum lunas, tidak boleh masuk pesantren. Sungguh pemandangan yang menyayat hati dan mengiris-iris jiwa selaku pendidik.
Bagaimana tidak, mereka terkatung-katung, terlantung-lantung, berkeliaran di sekitar pesantren menunggu orangtua masing-masing mencari uang untuk pelunasan. Ada pula yang menumpang di rumah sahabat mereka. Bahkan pembelajaran sudah berjalan satu bulan pun belum diizinkan masuk. Padahal pesantren juga menerima bantuan dari pemerintah untuk mereka yang tidak mampu.
IRONIS memang. Yang karyawan bertungkus lumus mendedikasikan diri kepada pesantren, yang donatur memberikan donasinya. Ibaratnya, yang karyawan DIPERAS TENAGANYA dan yang donatur DIPERAS DUITNYA. Namun, anak mereka tidak bisa masuk karena belum bisa melunasi tagihan.
Kebijakan lain yang membikin kepala guru nyut-nyutan adalah perizinan dan libur sekolah. Perizinan sering dilanggar oleh cucu-cicitnya sendiri. Pernah libur sekolah diperpanjang karena cucunya masih berlibur di luar negeri. Agar terkesan cucunya tidak terlambat, maka libur ditambah harinya alias diperpanjang.
Masih tentang libur sekolah, berdasarkan konsultasi dan ajuan Badan Musyawarah Guru, libur sekolah ditetapkan mulai tanggal sekian sampai sekian. Kemudian ketetapan itu disampaikan kepada santri dan wali santri. Namun karena sesuatu hal dan kepentingan, libur sekolah yang sudah ditetapkan itu berubah di tengah jalan.
Padahal, wali santri dari luar daerah, luar pulau, dan luar negeri sudah memesan (booking) tiket. Otomatis, mau nggak mau, mereka harus membatalkan. Tak jarang mereka gigit jari karena tiket hangus. Belum lagi mereka harus mere-schedule izin ke atasan/ pimpinan bagi mereka yang bekerja. Kalender pendidikan yang dicetak besar-besar seolah hanya pajangan dan hiasan dinding belaka.
Sungguh sangat dilematis bagi guru menghadapi hal yang demikian. Tak jarang guru menjadi bamper, mendapat dampratan, umpatan dan cacian dari wali santri sebagai luapan kekesalan mereka dari kebijakan Dul Kemit. Guru tak bisa berbuat banyak kecuali mendengarkan. Dan kalau marah mereka sudah reda, mereka hanya bilang, “Maaf Bu/ Pak, kami hanya menjalankan tugas. Ini sudah menjadi keputusan kyai Dul Kemit.”
Keputusan yang semaunya sendiri itu membuat guru harus memutar otak untuk menyiasatinya agar tidak kena damprat dan umpatannya. Memang, bagai MAKAN BUAH SIMALAKAMA.

Sumber : Klik di sini

Tuesday, January 30, 2018

Undercover 84

RENUNGAN KEMALAMAN..
Akibat Galau Tingkat Tinggi, Cabut dari Pondok

Oleh : Abdul Imanuddin


Banyak karyawan pondok pesantren yang sudah jengah dan muak setengah mati melihat kelakuan Dul Kemit n kroco2nya...

Seperti pagi ini, datang seorang ex karyawan yang beberapa bulan lalu keluar dari tempat ia mengabdi buta selama bertahun-tahun....Ia merasa galau dan tidak tenang bekerja di pondok. Pikirannya kacau. 
Banyak hal yang menurutnya sudah tidak sesuai dengan tuntunan Islam. Mantan karyawan ini dulu bertugas di pabrik beras. Selama di sana, ia mendapati kenyataan yang sangat pahit.

Celengan Dul Kemit, inisial K, melejit karirnya menjadi penguasa pabrik beras melebihi karyawan yang lain. Padahal siapa dia, bagaimana asal usulnya, tiba2 menduduki posisi paling tinggi, petantang petenteng di depan karyawan seenaknya. Sampai2 supir pribadi dul kemit saja nunduk2 manut. 
Sebenarnya banyak karyawan yang sudah jengah juga dengan kondisi ini. Tapi tidak bisa berbuat apa-apa....


Bagaimana dengan Anda??? Segeralah ambil langkah waras sebelum terlambat...

Sumber : Klik di sini

DUL KEMIT THE SERIES 43

DUL KEMIT THE SERIES 43
Jeritan Hati Guru 1; Menjeritlah
Oleh : Arif Yosodipuro


Kepongahan Dul Kemit yang mengusir guru-guru ber-NRG dan ber-SERTIFIKASI yang sudah mendedikasikan diri selama hampir dua dasawarsa, mengurai kekecewaan dan beragam perasaan. Seperti yang dirasakan oleh Halimah.
Awalnya Halimah enggan menceritakan dan mengungkit-ungkit masa lalu yang sudah ia kubur dalam-dalam dari memori kehidupannya. Ia pikir “Ah sudahlah. Yang lalu biarlah berlalu.” Namun setelah mendapat perlakuan semena-mena dari Dul Kemit, ia pun tak kuasa membendungnya. Tembok tebal setebal tembok china, tanggul besar sebesar tanggul bendungan Jati Luhur, akhirnya jebol mempertahankan prinsip tersebut.
Awal kisah bermula dari keikutsertaan Halimah bergabung dengan pesantren yang dirintis oleh Dul Kemit. Halimah yang masih bujang, lugu dan polos, masih fresh graduate, mendapat tawaran dari seseorang utusan pesantren untuk bergabung. Karena ada kecocokan, Halimah pun mengiyakan ajakan tersebut tanpa sepengetahuan orangtuanya. Ia khawatir kalau mereka tahu akan melarangnya atau tidak mengizinkannya.
Dengan kelihaian deplomasi dan narasi sang utusan menyampaikan kepada Halimah bahwa fasilitas yang disediakan komplit, sekomplit jamu tolak angin yang komplit pliiiiit. Gaji melebihi gaji PNS, mendapat makan tiga kali, dapat susu, disediakan perumahan yang luasnya satu hektar per orang. Bangunan rumahnya tinggi bukan seperti rumah penduduk sekitar. Pintunya 2,5 meter, sehingga leluasa keluar masuk. Pokoknya dijamin siiiip lah.
Dengan hati berbunga-bunga, Halimah merasa ada harapan mendapat kehidupan yang mapan dan layak di masa hadapan. Ia bersama rekan-rekan barunya hasil rekrutan sang coordinator/ perwakilan berangkat ke komplek pesantren dengan kendaraan roda empat.
Komplek pesantren yang terletak nan jauh dari perkotaan dan tempat tinggal, membuat Halimah dan teman-teman penuh Tanya. Tempat itu asing, tak terkenal. Namanya pun baru Halimah dengar dari sang koordinator. Jauhnya jarak tempuh membuat Halimah dan teman-teman kelelahan sehinga rasa penasaranya hilang. Lambat laun mereka tertidur pulas, tahu-tahu sudah sampai di tempat tujuan.
Begitu mata terbuka, mereka terbelalak melihat bangunan yang megah sekalipun masih sedang dalam pengerjaan. Ornamennya beda dengan bangunan lain. Seolah mereka berada di negeri lain, bukan di negeri sendiri. Mereka berjalan menuju penginapan yang disediakan panitia sambil tidak percaya.
Selama masa proses penerimaan, semua calon guru tidak boleh ke mana-mana dengan alasan keamanan. Mereka selalu diawasi, tidak boleh keluar pesantren, tidak boleh meninggalkan penginapan tanpa arahan pemandu. Hari-hari selama masa menunggu hasil test / pengumuman sampai mereka ditugaskan – hanya tidur, makan, tidur, makan.
Hal ini membuat perasaan Halimah dan teman-temannya putus asa, gundah gulana, gusar tak sabar, khawatir. Terlebih keberangkatan mereka tidak diketahui orangtua. Mereka tidak betah dan ingin cepat pulang untuk memberitahu keluarga.
Halimah tak bisa menyembunyikan perasaan galaunya. Ketika ia mendapat giliran untuk menyampaikan pesan kesan, ia utarakan di depan Dul Kemit dan audience lainnya. “Selama menunggu,” ucapnya menyampaikan perasaannya, “perasaan saya tersiksa. Hari-hari hanya makan, tidur, makan, tidur. Mau keluar tidak boleh, lingkungannya terbatas pada penginapan. Rasanya hati ini ingin MENJERIT.” Lanjut Halimah polos memelas.
Lagi-lagi, mendengar ungkapan calon guru seperti di atas, Dul Kemit bukan menenangkan, meredam, melindungi. Justru sebaliknya. Ia MARAH, MENGUMPAT, mata melotot, dan alisnya menjabrik. “Kalau mau MENJERIT, MENJERITLAH…..,” Hardik Dul Kemit geram. “DIKASIH SANTAI, DIKASIH MAKAN ENAK MASIH SAJA PROTES. Gombel (nama panggilan untuk sapi) saja bisa ANTENG, tenang.” Lanjutnya sambil manyun.

Sumber : Klik di sini

DUL KEMIT THE SERIES 42

DUL KEMIT THE SERIES 42
Sandiwara Asal Selamat
Oleh : Arif Yosodipuro


Kepongahan, keakuan, kekasaran, kearoganan, dan kekakuan Dul Kemit membuat sebagian warga pesantren kecewa. Apalagi ditambah dengan banyaknya program yang gagal. Hampir di seluruh komponen, baik di kalangan eksponen, guru, maupun karyawan merasakannya.
Banyak kebijakan Dul Kemit didambil tanpa musyawarah. Kalaulah musyawarah, peserta diarahkan untuk mengamini dan mengiyakan idenya. Bahkan hasil musyawarah pun dikesampingkan. Bisa jadi hasil musyawarah diabaikan dan mengambil kebijakan yang idenya baru ketemu di jalan. SPORADIS. Kalau ada warga yang menceletuk sesuatu, dan sesuatu itu masuk ke pikirannya, dia diam tanpa ekspresi. Setelah sampai di kamar, ia renungkan kembali. Kemudian ia ambil ide itu dan jadilah keputusan.
Sekalipun kesal, mereka tak berani berterus terang menyampaikan kepada Dul Kemit. Mereka hanya ngedumel, mangkel, menggosip membicarakan di belakang orangnya. Karena sesiapa pun yang berani mengkritisi akan dipelototi, didamprat, dihujat, dimarahi dan diteriaki dengan celotehan yang tak terkendali.
Hal seperti ini sudah dirasakan oleh warga sejak berdirinya pesantren. Misalnya, usai penerimaan calon guru, Dul Kemit memberi kesempatan kepada mereka, satu per satu untuk menyampaikan kesan dan pesannya selama di lingkungan pesantren dan proses penerimaan.
Ada seorang calon guru yang menyampaikan saran, berdasarkan pengamatan dan penglihatannya, agar kegiatan sholat ritual lima waktu dilaksanakaan sebagaimana mestinya. Karena menurutnya hal ini sangat sensitif. Dia khawatir kalau-kalau nanti menjadi perbincangan masyarakat luas.
Usai penyampaian kesan dan pesan semua calon guru, giliran Dul Kemit menanggapinya. Muqaddimahnya biasa saja, datar. Di luar dugaan situasi yang tenang, damai, penuh keakraban dan hikmat itu berubah menjadi TEGANG DAN MENCENGANGKAN.
Mendapat masukan tentang shalat, Dul Kemit teriak lantang kepada pemberi saran di hadapan jamaah dan mengusirnya. “KELUAAAAARRRRR…….!” Bentaknya kasar sambil menggerak-gerakkan tangan kanannya dan mengacung-acungkan jari telunjukkan. “Tidak ada yang sensitif di sini. Kalau saudara menganggap di sini sensitif, lebih baik saudara KELUAR…tidak usah bergabung dengan kami.” Begitulah kurang lebihnya, hardik Dul Kemit.
Spontan, audience bungkam menyunyi, hening, desah nafas pun tak kedengaran. Tubuh mereka mengaku, membeku bagai terendam salju. Kepala mereka menunduk pilu tak berani mendongak tegak. Mereka hanya berkedip dan larak-lirik kepada teman di sebelahnya.
Begitulah ekspresi Dul Kemit menanggapi masukan atau kritikan. Dia sangat reaktif, protektif, dan emosional agresif. Mereka berpikir bahwa apa yang dilakukan Dul Kemit itu hindam, gaya seorang pemimpin dan menanggapinya sebagai hal yang wajar. Ternyata hal ini terus berlanjut sampai saat ini.
Saking takutnya sampai ada warga yang rela mengesot beberapa meter sebelum bertemu Dul Kemit. T…E…R…L…A…L…U. Akibatnya warga memilih diam dan bersandiwara, terutama eksponen yang hari-harinya berkumpul dan bertemu dengannya.
Untuk itu di hadapan Dul Kemit, mereka berpura-pura setia, manggut-manggut, mengangguk-angguk, njih. Nuhun kasingggihan kanjeng dalem Dul Kemit. Kalau Dul Kemit tertawa, mereka ikut tertawa, seperti lawakan OVJ. Kalau Dul Kemit diam, mereka pun ikut diam.
Selanjutnya, ketika dia marah, mereka bungkam, leher tunduk menekuk, hening tak bergeming. CEP KLAKEP, bagai orong-orong yang sedang mengerik terinjak. LANGSUNG BERHENTI. Namun di belakangnya, mereka membicarakan dan menggunjing sepuas-puasnya.
“Kenapa begitu Kang…?” Celetuh kang Ujang.
“Ya iyalah….” Sahut kang Encep serius. “Kalau mereka berani kritik, ya langsung diusir, seperti yang sudah-sudah. Kan sudah banyak eksoponen, karyawan, petugas pertanian yang diusir. Dan yang paling anyar ratusan guru ber-NRG dan ber-SERTIFIKASI diusir, dipecat sepihak dengan sewenang-wenang.”
“O…. gitu ya…..?” Ujar kang Ujang terheran-heran. “Pantes pada milih SANDIWARA ASAL SELAMAT…”

Sumber : Klik di sini