Tuesday, February 6, 2018

DUL KEMIT THE SERIES 45

DUL KEMIT THE SERIES 45
Dicekoki Ide Baru Warga pun Membisu
Oleh : Arif Yosodipuro


Kelihaian Dul Kemit dalam berorasi membuat para pendengarnya terkesima, terutama yang baru mengenalnya. Mereka pasti akan bilang, “Wah hebat orang ini.” atau, “Ini figur pimpinan masa depan,” sekalipun mereka itu pejabat tinggi negara setingkat wakil presiden maupun sekelas ketua badan legislatif. Mereka akan menggeleng-gelengkan kepala mendengar ucapan sang tukang ngibul.
Lazimnya, para tamu penting yang berkunjung ke pesantren Dul Kemit, mereka diajak berkeliling seputar komplek pesantren. Mereka dipandu melihat fasilitas yang dimiliki, mulai dari sekretariat pendidikan sampai ke dapur santri, dari hulu hingga hilir. Mendengarkan penjelasan sang pemandu yang dibumbui dengan kibulan-kibulan mengagumkan, para tamu pun menelan ludah, takjub. Spontan berkomentar, “LUAR BIASA.”
Untuk membentengi diri dari para pengkritik, juga untuk membungkam warga agar tidak mengkritik, Dul Kemit mengeluarkan statemen yang seolah benar dan dibenarkan. Dengan bangganya, statemen itu disadur oleh netizen pengagumnya dan mengunggah ke medsos di wall statusnya.
“MEMBANGUN BANGSA TIDAK ADA CERITA UNTUNG DAN CERITA RUGI. YANG ADA HANYA KEJAYAAN BANGSA.”
Sepertinya pernyataan itu bagus dan benar. Namun kalau dianalisis mendalam, secara implisit ada pengabaian pertanggung jawaban. Membangun bangsa itu menggunakan uang rakyat. berhasil dan tidaknya suatu program harus dipertanggung jawabkan. Surplus dan defisit sebuah anggaran pun harus dilaporkan kepada publik melalui lembaga otoritas.
Seperti yang dilakukan oleh aparat di negara-negara maju. Bila ia gagal maka dengan suka rela mengundurkan diri dan menyerahkan kepada yang lebih mampu, bukan mempertahankan jabatan dengan tidak ada perkembangan, protektif, dan tak mau dikritik.
Di Jepang contohnya, pada 2011 Perdana Menteri Naoto Kan mengundurkan diri karena mendapat tekanan dan kritikan yang dianggap tidak menunjukkan kepemimpinannya pasca bencana alam, tsunami aceh, yang juga menerjang negara sakura itu.
Mengikuti seniornya, pada 2016, Menteri Ekonomi Akira Amari, pun mengundurkan diri setelah dirinya dituduh korupsi, menerima suap dari sebuah perusahaan sekalipun Perdana Menteri Shinzo Abe menginginkan yang bersangkutan tetap pada jabatannya.
Menanggapi statemen terselubung tersebut, netizen yang tidak sependapat berkomentar, “Itu adalah ucapan orang (pemimpin) yang tak bertanggung jawab.” Sementara netizen lain berucap, “Menghamburkan uang rakyat dengan semena-mena. Ungkapan itu menggambarkan ketidakpedulian sang pemimpin terhadap manajemennya. Statemen tersebut hanyalah alibi dan apologi dalam melegitimasi sang pemimpin berbuat semaunya, bebas tanpa syarat.”
Bagaimana pimpinan berprinsip seperti itu. Pantas saja dia tidak mau dikritik atas kegagalan demi kegagalan yang ia lakukan. Sebab itu, Dul Kemit tidak segan-segan akan menggunakan jurus pamungkas, aji-aji GEBUG BAWONO. Kalau sampai ada warga yang berani menilai, atau mengkritik dia. Yaitu “USIIIIIRRRRR…..!!!”
Berbagai kiat akan ia lakukan untuk membungkam mulut warga pesantren agar tidak bersuara. Satu di antaranya adalah PENGALIHAN ISU. Soal membuat pengalihan isu, Dul Kemit suhunya. Warga dijejali dengan isu-isu baru. Masalah satu belum tuntas, ia keluarkan isu baru sebagai pengalih. Warga dibuat tak berjeda untuk fokus menilai programnya. Mereka dibuat tak berkesempatan berpikir secara nalar.
Sederet proyek Dul Kemit yang gagal dan tidak dipertanggungjawabkan mulai dari mengirim warga ke luar negeri, yang dikirim hanya anaknya. Tanam durian, hilang durian hilang uangnya. Pelihara sapi, sapi habis tak jelas, ujungnya dulu milik yayasan menjadi milik pribadi. Program impor sapi, sapinya mati, keuntungan ia nikmati. Dan masih banyak lagi.
Agar warga tak sempat berpikir tentang program yang gagal, ia gulirkan program baru yang lebih spektakuler. Gagal program impor sapi, ia gulirkan program BAMMAS, Bawang Memabangun Masjid. Bawangnya mati, uang tak kembali. Sebagai alibi, kemudian ia ubah menjadi Bawa Masyarakat Menuju Sejahtera.
Selanjutnya, gagal program bammas, dimunculkan lagi program menyelesaikan menara. Menara yang sudah didesign begitu rupa, di tengah pengerjaan, ia tambah tingginya melebihi kapasitas. Akibatnya menara miring, sehingga mandeg pembangunannya.
JANGAN ADA CELAH. Bukan Dul Kemit kalau tidak ada ide baru. Gagal merampungkan pembangunan menara, ia keluarkan lagi ide lain. Yaitu membangun danau dan taman masjid yang diberi nama, DANAU AIR, TAMAN KEMBANG EMAS.
Warga pesantren kembali dihipnosis oleh sang hipnotis verbal dan dimobilisasi untuk mengumpulkan dana. Per orang ditarget untuk membayar dengan kurs atau seharga satu pot. Berapa pot kesanggupan warga untuk berdonasi.
Beda dengan program bammas yang ketika itu kurs yang dipakai adalah karung. Usai sosialisasi, gayanya Dul Kemit mengeluarkan kalkulator, kemudian tak tik tuk, mengitung-itung. Awalnya per orang ditarget 100 -200 karung. Namun dalam perjalanan, target berubah, naik menjadi 300 karung. Kemudian dengan retorika hipnosisnya, target berubah lagi menjadi ribuan karung.
Jadi berapa karung yang disanggupi oleh para donatur, bammaser, itulah yang harus dibayar. Kalau tidak salah, per karung dihargakan Rp22.000,- Misalnya, sanggupnya 1000 karung maka donatur harus bayar donasi sejumlah Rp22.000.000,-
Agar tampak tidak memaksa, mereka diminta menulis kesanggupan, berapa karung atau pot yang ia sanggupi. Namun kenyataannya, target kesanggupan sudah ditunaikan atau sudah terpenuhi masih saja diminta untuk menambah. Mereka diledek dan didesak terus agar mau menambah.
Wal hasil, sekalipun hampir semua program yang ia canangkan GATOT, GAGAL TOTAL, warga pesantren masih saja mengagumi dan membelanya. Banyak, yang secara sengaja atau tidak, mengutarakan statemen apologi. “Lebih baik pernah mencoba meskipun gagal dari pada tidak sama sekali.” Ada lagi yang berkomentar lain. “Tomas Edison itu mengalami seribu kali kegagalan sebelum mencapai kesuksesan.”
Ucapan-ucapan tersebut seolah menjadi pembenaran atas kegagalan program, yang secara implisit memberi keleluasaan kepada Dul Kemit untuk mengulangi kegagalan demi kegagalan berikutnya.
Begitulah cara Dul Kemit mengendalikan isu. Kelihaian Dul Kemit meramu orasi IDE BARU sebagai PENGALIH ISU yang hipnosis mampu membuat warga MEMBISU.

Sumber : Klik di sini

No comments:

Post a Comment