DUL KEMIT THE SERIES 49
Guru Mencari Keadilan 1
Oleh : Arif Yosodipuro
Kebengisan dan kearoganan Dul Kemit tidak membuat nyali para guru ciut dalam mencari keadilan. Pengusiran dengan semena-semena yang dilakukan oleh Dul Kemit justru memicu dan memacu adrenalin mereka untuk terus semangat.
Berbagai upaya mereka tempuh. Semua instansi terkait dihubungi dan dilapori. Variatif tanggapan mereka. Respon verbalnya bagus-bagus. Namun, kurang aksi. Satu di antaranya instansi yang dilapori adalah Kemenaker, Kementerian Tenaga Kerja. Instansi ini cukup responsif.
Mendapat laporan mengait dengan otoritasnya, Kemenaker langsung menginstruksikan Disnaker, Dinas Tenaga Kerja, setempat untuk menindak lanjuti. Maka diagendakanlah mediasi dengan mengundang kedua pihak, guru dan Dul Kemit untuk berunding tanpa campur tangan pihak ketiga.
Sesuai dengan kesepakatan, bipartit dijadwalkan pukul 09.00. Sejumlah perwakilan guru sudah hadir sejak sebelum acara dimulai. Sementara pihak Dul Kemit belum juga tampak batag hidungnya pada waktu yang ditentukan. Mereka merasa sok hebat dan berkuasa.
Guru terpaksa harus menunggu mereka berjam-jam. Inilah satu dari kedholiman Dul Kemit. Kalau dia yang punya acara, orang lain disuruh tepat waktu. Namun, kalau acara dengan orang lain, dia sembarangan menanggapinya. Datang semaunya.
Entah apa yang ada di benak mereka dan apa yang membuat mereka lambat. Apakah orang yang akan diutus belum bisa menemui Dul Kemit untuk meminta wejangan. Ataukah ini sengaja diulur sebagai shock theraphy, psychowar, untuk menjatuhkan mental lawan.
Pihak disnaker terus memantau dan berkomunikasi sekalipun sedikit gusar. Setiap ditelepon, utusan Dul Kemit mengiyakan dan mengatakan siap datang. Tapi tidak juga tiba. Walau demikian, guru sabar menunggu dengan penuh keyakinan dan semangat.
Baru setelah hampir SEMBILAN jam ditunggu, mereka nongol pada 17.00 lewat. Menjelang shalat Maghrib, senja. Dengan sikap arogan dan membusungkan dada, mereka sok di atas angin. Berlagak orang yang dipentingkan.
Dalam pantauan disnaker, bipartit pun dimulai. Pada giliran guru berbicara, sebelumnya sang juru bicara mengingatkan kepada utusan Dul Kemit agar disiplin datang tepat waktu. Kemudian ia menyampaikan usulan.
Utusan Dul Kemit tak bisa menjawab. Mereka tak ubahnya sekadar jongos, kacung, hanya seperti kurir atau porter yang biasa menawarkan jasa panggul. Hanya sebagai konduktor. Tak ada kewenangan, tak ada otoritas.
“Maaf kami tidak bisa menjawab sekarang. Akan kami sampaikan dulu kepada pimpinan kami,” kata seorang utusan Dul Kemit berkelit. Kemudian ia menyampaikan bahwa pertemuan akan dilanjutkan pada pekan berikutnya. Mereka sekalian menentukann hari, waktu dan tempat.
Bipartit pertama pun berakhir dengan tanpa ada keputusan. Guru pulang dengan tangan hampa, menunggu pertemuan berikutnya.
Sumber : Klik di sini

No comments:
Post a Comment