Tuesday, February 6, 2018

DUL KEMIT THE SERIES 44

DUL KEMIT THE SERIES 44
Jeritan Hati Guru 2; Bagai Makan Buah Simalakama
Oleh : Arif Yosodipuro



Manajemen kumaha aing, arogan, kaku, dan beku yang diterapkan Dul Kemit membuat hati civitas akademika pesantren ketakutan. Hari-hari mereka dihadapkan kepada suasana yang mencekam, seram dan mencengangkan.
Hal ini membuat mereka tak berkutik. Hati selalu was-was. “Jangan-jangan kena marah. Jangan-jangan kena semprot. Jangan-jangan kena omel. Jangan-jangan Dul Kemit melotot,” dan sederet “jangan-jangan” serta kekhawatiran lainnya yang menghantui perasaan mereka sebelum dan ketika bertemu dengan Dul Kemit.
Demi mempertahankan diri tetap berada di pesantren, mereka, termasuk guru, harus menyembunyikan perasaan tersebut sambil menjalankan tugas dengan beban tidak tenang dan khouf. Warga tidak ada keleluasaan dalam berbuat. Semuanya harus bersumber dan sepengetahuaan Dul Kemit sekalipun hal teknis yang remeh temeh.
Kekakuan manajemen Dul Kemit ini membuat para guru dilematis. Mereka selalu berbenturan dengan dua hal yang berbeda, menghadapi banyak masalah. Di satu sisi, mereka harus tunduk patuh kepada Dul Kemit, dan di sisi lain mereka juga harus menampung aspirasi santri dan wali santri.
Banyak hal yang membuat guru harus mengelus dada karena kebijakan Dul Kemit. Misalnya, sesuai dengan hasil litbang, telah ditetapkan bahwa inventaris asrama yang rusak karena pemakaian, perbaikan atau penggantiannya ditanggung oleh penghuni asrama, alias santri. Seperti lampu, kran air, dll. Realitanya, santri sudah membayar namun kerusakan belum juga diperbaiki padahal urgen.
Selanjutnya santri komplain ke guru yang sedang piket di asrama. Lalu Guru bertanya kepada petugas atau karyawan yang membidanginya. Kata karyawan dana atau barang pengganti belum ada dari yayasan. Sementara pengurus asrama (guru) tidak boleh menarik iuran.
Karena setiap ajuan perbaikan dan penggantian yang diajukan tidak segera ditindaklanjuti, maka pengurus asrama berinisiatif mengajak anak-anak menabung untuk mengatasi perbaikan dan penggantian inventaris asrama, khusunya kamar masing-masing. Besarnya Rp40.000 per anak untuk setahun. Tapi, karena keputusan ini bukan dari Dul Kemit maka tindakan tersebut dicap sebagai tindakan korupsi dan pungli.
Dalam hal kegiatan keagamaan, lembaga bina qiraat dan tahfidh qur’an yang diberi kewenangan untuk membina santri, tidak boleh mengadakan lomba qiraat dan tahfidh qur’an. Padahal ini sebagai kreasi dan inisiasi bagian dari bentuk pembinaan sebagai perangsang. Secara psikologi, tentu hal ini membungkam daya kreasi, inovasi dan motivasi. Sementara mereka dituntut untuk kerja maksimal dan hasil yang optimal.
Belum lagi permasalahan santri sekembalinya ke kampus setelah libur semester harus melunasi tagihan. Mereka yang belum lunas, tidak boleh masuk pesantren. Sungguh pemandangan yang menyayat hati dan mengiris-iris jiwa selaku pendidik.
Bagaimana tidak, mereka terkatung-katung, terlantung-lantung, berkeliaran di sekitar pesantren menunggu orangtua masing-masing mencari uang untuk pelunasan. Ada pula yang menumpang di rumah sahabat mereka. Bahkan pembelajaran sudah berjalan satu bulan pun belum diizinkan masuk. Padahal pesantren juga menerima bantuan dari pemerintah untuk mereka yang tidak mampu.
IRONIS memang. Yang karyawan bertungkus lumus mendedikasikan diri kepada pesantren, yang donatur memberikan donasinya. Ibaratnya, yang karyawan DIPERAS TENAGANYA dan yang donatur DIPERAS DUITNYA. Namun, anak mereka tidak bisa masuk karena belum bisa melunasi tagihan.
Kebijakan lain yang membikin kepala guru nyut-nyutan adalah perizinan dan libur sekolah. Perizinan sering dilanggar oleh cucu-cicitnya sendiri. Pernah libur sekolah diperpanjang karena cucunya masih berlibur di luar negeri. Agar terkesan cucunya tidak terlambat, maka libur ditambah harinya alias diperpanjang.
Masih tentang libur sekolah, berdasarkan konsultasi dan ajuan Badan Musyawarah Guru, libur sekolah ditetapkan mulai tanggal sekian sampai sekian. Kemudian ketetapan itu disampaikan kepada santri dan wali santri. Namun karena sesuatu hal dan kepentingan, libur sekolah yang sudah ditetapkan itu berubah di tengah jalan.
Padahal, wali santri dari luar daerah, luar pulau, dan luar negeri sudah memesan (booking) tiket. Otomatis, mau nggak mau, mereka harus membatalkan. Tak jarang mereka gigit jari karena tiket hangus. Belum lagi mereka harus mere-schedule izin ke atasan/ pimpinan bagi mereka yang bekerja. Kalender pendidikan yang dicetak besar-besar seolah hanya pajangan dan hiasan dinding belaka.
Sungguh sangat dilematis bagi guru menghadapi hal yang demikian. Tak jarang guru menjadi bamper, mendapat dampratan, umpatan dan cacian dari wali santri sebagai luapan kekesalan mereka dari kebijakan Dul Kemit. Guru tak bisa berbuat banyak kecuali mendengarkan. Dan kalau marah mereka sudah reda, mereka hanya bilang, “Maaf Bu/ Pak, kami hanya menjalankan tugas. Ini sudah menjadi keputusan kyai Dul Kemit.”
Keputusan yang semaunya sendiri itu membuat guru harus memutar otak untuk menyiasatinya agar tidak kena damprat dan umpatannya. Memang, bagai MAKAN BUAH SIMALAKAMA.

Sumber : Klik di sini

No comments:

Post a Comment