Tuesday, February 6, 2018

DUL KEMIT THE SERIES 46

DUL KEMIT THE SERIES 46
Menganggap Gampang, Ujungnya Wisuda Mengambang
Oleh : Arif Yosodipuro


Berkoarnya ia seorang pendidik. Slogannya “Mendidik Hanya Untuk Ibadah.” Praktiknya wow…. menyusahkan. SUSAH … SUSAH… SUSAH…SUSAAAAAHH......BUINGIIIT gitu lo. Santri susah, wali santri susah, mahasiswa susah…… Pokoknya serba susah dech. he he he he…
Ide boleh segudang. Namun, apa gunanya kalau semuanya tumbang?
Dinamika akibat ulah Dul Kemit silih berganti. Kali ini menimpa mahasiswa institut. Mereka yang seharusnya sudah diwisuda terkatung-katung menunggu waktu yang tidak jelas. Sementara mereka harus tetap membayar uang kuliah.
Hal ini dikarenakan keserakahan dan kepelitan Dul Kemit. Merasa hebat dan berkuasa, semuanya digagahi. Semua dipegang sendiri. Tidak ada distribusi tugas dan kewenangan. Tidak ada job sharing. Semuanya harus dia. REKTOR dia. Kepala ALIYAH dia, MTs dia. Sampai PAUD pun harus dia.
Ia menganggap dirinya paling super, sesuper SUPER BOY, sesuper CAPTAIN AMERICA. Sesuper HULK, sesuper THE SIX MILLION DOLLARMAN. Sesuper TARSAN, dan sesuper tokoh film lainnya. Karena itu apa saja dianggap ENTENG dan dianggap GAMPANG.
Mulanya dengan semangat pendidiknya, Dul Kemit membuka universitas. Didukung oleh SDM yang beretos kerja dan ketaatan tinggi, semuanya bisa berjalan dengan baik sekalipun masih banyak kekurangan.
Promosi digencarkan. Dengan menawarkan prodi yang lagi ngetren; kedokteran dan IT, mahasiswa pun berdatangan. Dalam sekali angkatan bisa ratusan mahasiswa yang mendaftar. Sungguh prestasi yang membanggakan untuk universitas yang baru lahir.
Perkuliahan demi perkuliaha berjalan sesuai dengan jadwal. Namun, kelancaran perkuliahan tidak dibarengi dengan kelancaran administrasi, yakni PERIZINAN. Padahal pintu sudah dibuka lebar. Universitas diresmikan langsung oleh menteri pendididkan. Kemudian, pengurusan izin sudah mengantongi rekomendasi wakil presiden. Kurang apa…?
Kenyataannya, kuliah sudah berjalan hampir empat tahun, pengurusan izin universitas belum kelar dan izin pun tidak keluar. Akhirnya pil pahit harus ditelan. Karena tidak ada izin, maka tidak boleh mengadakan kegiatan perkuliahan.
Baru setelah mendapat peringatan, Dul Kemit menginstruksikan stafnya untuk menyelesaikan pengurusan. Mereka pontang-panting, ngebut mengurus. Namun sayang, sang pemberi rekomendasi sudah tidak menjabat lagi, ababnya sudah tak mandi. Izin pun tidak diberi.
Akibatnya, UNIVERSITAS DITUTUP. Mahasiswa harus gigit jari. Mereka sudah mengorbankan waktu, tenaga, dan dana namun sia-sia. Harapan menjadi seorang sarjana dari universitas yang dipuja sirna tak ada berita.
Gagal membangun universitas, Dul Kemit bermanufer mendirikan institut. Kalau dulu menginduk diknas, kini ia menginduk kementerian agama. Upaya pendirian isntitut berjalan lancar karea ada kedekatan dengan sang pejabat. Izin operasional institute dapat digenggam.
Lagi-lagi, Dul Kemit bangga diri. Kursi rektor ia duduki. Merasa berkuasa dan izin sudah di tangan, ia santai dan menganggap gampang. Ia lupa bahwa ia berada dalam wilayah berkonstitusi yang harus ditaati bahwa syarat menjadi rektor itu minimal S2. Dia terlena dan sibuk dengan manufer politiknya.
Giliran akan mewisuda, Dul Kemit kelimpungan. Pasalnya ia sebagai rektor tidak bisa mewisuda mahasiswanya karena terganjal oleh pendidikan akademisnya yang belum S2. Sementara dia tidak rela rektor dijabat oleh orang lain, sekalipun mereka sudah S2.
Baru setelah itu ia kuliah S2 untuk memenuhi persyaratan. Akibatnya mahasiswa yang seharusnya sudah diwisuda, terpaksa harus rela (meskipun nggerundel, ngedumel, mangkel) menunggu Dul Kemit menenteng ijazah S2. Namun, SPP bayar terus.
"Padahal saya bela-belai kuliah lebih dulu demi ada mahasiswanya dan menunda anak kuliah ujung-ujungnya malah begini. GAK JELAS." Kata seorang tetangga kang Encep mengeluh.
"Kok gak pindah atau keluar saja Kang?" Tanya kang Encep kepo.
"Sudah telanjur, Kang. Sudah banyak dana yang keluar. Nanggung." Jawabnya sedih.
Harusnya Dul Kemit belajar dari yang sudah-sudah. Allah sebenarnya sudah memberi serangkaian peringatan tetapi sepertinya peringatan itu tak pernah diperhatikan. Padahal peringatan Allah itu menjadi pelajaran bagi orang-orang yang mau berpikir.
Coba kalau Dul Kemit cerdas, tidak serakah, dan menganggap enteng, jabatan rektor bisa diserahkan kepada yang lebih berkompeten. Atau jauh-jauh hari, dia segera kuliah S2 sejak dibukanya isntitut. Sehingga, di tahun ketiga, dia sudah bergelar sarjana S2 dan syah mewisuda mahasiswa isntitut angkatan pertama tepat pada waktunya.
Hadeuh….MENGANGGAP GAMPANG, UJUNGNYA WISUDA MENGAMBANG….

Sumber : Klik di sini

No comments:

Post a Comment