Thursday, February 15, 2018

DUL KEMIT THE SERIES 47

DUL KEMIT THE SERIES 47.
Siasat Berbuah Laknat 1
Oleh : Arif Yosodipuro


Hampir semua perseteruan dengan Dul Kemit menemui jalan buntu. Tak ada penyelesaian. Satu-satunya solusi hanyalah…. USIIIIIRRRR…...!!! Tak terkecuali. Termasuk yang menimpa seorang pengurus teras pesantren, sebut saja Hamim Prayitno, wakil ketua yayasan.

Entah apa yang menjadi pemacu dan pemicu perseteruan Dul Kemit dengan koleganya itu. Tak banyak yang tahu. Warga tahunya bahwa Hamim Prayitno tidak lagi ada di pesantren. Selidik punya selidik, diketahui bahwa ada kebijakan Dul Kemit yang tidak bisa ia terima. Dari pada makan hati, Hamim Prayitno memilih meninggalkan pesantren untuk sementara waktu, ingin menenangkan diri.

Beberapa bulan, Hamim Prayitno tak kunjung kembali ke pesantren. Tidak ngantor, tak tampak batang hidungnya. Lenyap bak tersapu tsunami. Meja kursinya yang hari-hari tak lepas dari tubuhnya kosong tak bertuan.

Melihat Hamim Prayitno tidak aktif, Dul Kemit mengatur strategi dan siasat. Ia rombak pengurus pesantren, tanpa musyawarah, tanpa pemberitahuan kepada Hamim Prayitno. Ia menyuruh orang kepercayaannya menemui notaris dengan membawa formasi pengurus yang baru.

Agar terkesan bahwa perubahan pengurus itu hasil musyawarah, dibuatlah berita acara kehadiran yang ditandatangani oleh semua pengurus, termasuk Hamim Prayitno. Karena Hamim Prayitno tidak ada maka tanda tangan kehadirannya dipalsu.
Beberapa bulan kemudian, setelah hatinya nyaman, Hamim Prayitno ingin kembali ke pesantren. Namun apa yang terjadi? Ia terkaget dan kecewa bukan kepalang. Ternyata namanya sudah tidak lagi tercatat sebagai pengurus dan pangeran (anak Dul Kemit), Gus Memet, sebagai ketua yayasan. Terlebih lagi, tanda tangannya dipalsu.

Mendapat perlakuan DHALIM dan LICIK dari Dul Kemit, Hamim Prayitno tak terima. Ia kemudian melaporkan Dul Kemit ke Mabes Polri atas pemalsuan dokumen. Bak gayung bersambut, Mabes Polri menindaklanjuti dan memproses laporan Hamim Prayitno.

"Oalah, inginnya bersiasat, kok malah dipolisikan." Celetuk kang Ujang memotong. "Terus gimana, Kang? 

"Jeda dulu Kang, bersambung pada volume berikutnya." Jawab kang Encep sambil mengikik.

Sumber : Klik di sini

No comments:

Post a Comment