DUL KEMIT THE SERIES 23.
Kecaplok Kadal Buntung
Oleh : Arif Yosodipuro
Membicarakan kyai Dul Kemit seolah tak ada habisnya. Satu kasus belum selesai muncul kasus baru lainnya. Kali ini akibat ketamakannya, kya Dul Kemit KECAPLOK KADAL BUNTUNG.
Peristiwanya bermula dari seorang calo yang menawarkan tanah lumayan luas, ada ratus hektarnya, dengan harga murah dibanding dengan harga pasaran pada umumnya. Awalnya kyai Dul Kemit kurang tertarik. Namun berkat kepiawaian dan jurus simpul mati, kyai Dul Kemit luluh dan tunduk pada sang calo. Tawaran pun diterima.
Beberapa hari kemudian, kyai Dul Kemit dengan girangnya mengajak orang dekatnya menengok atau mengecek lokasi didampingi sang calo. Dengan percaya diri dan sangat meyakinkan, sang calo menjelaskan soal tanah kepada kyai Dul Kemit dan rombongan sambil keliling. Mungkin calonya sudah profesional, kata dan kalimatnya sangat menghipnosis pendengarnya hingga terlena, termasuk kyai Dul Kemit dan rombongan. Ditambah lagi, sang calo menawarkan diri dan berjanji akan membantu pengurusan surat-suratnya. Bak gayung bersambut, traksaksi pun terjadi.
Pada suatu kesempatan usai shalat berjamaah, kyai Dul Kemit menceritakan dan menginformasikan transaksi pembelian tanah itu kepada jamaah. "Alhamdulillah, kita beli sawah cukup lumayan. Hektarnya ada ratusnya. Semuanya sudah diurus, termasuk sertifikatnya. Nanti bisa kita tanami untuk persediaan pangan." Jamaah terbengong dan dengan kompak menjawab "Alhamdulillah...." Pada pertemuan berikutnya, dengan bangga, kyai Dul Kemit menyampaikan bahwa sertifikat tanah sudah selesai. Lagi-lagi berita itu disambut oleh jamaah dengan sangat antusias.
Namun, kegembiraan itu tak berlangsung lama. Belakangan diketahui bahwa lahan tersebut adalah landreform yang digarap oleh penduduk yang dalam aturannya setelah digarap 20-30 tahun, lahan tersebut bisa menjadi hak milik. Rupanya warga belum mengurus kepemilikan. Peluang inilah yang dipakai calo untuk mengelabui kyai Dul Kemit bahwa tanah tersebut tanah keraton.
Kini kyai Dul Kemit harus berurusan dengan pihak berwajib untuk mempertanggungjawabkan. Dilema bagi kyai Dul Kemit, bagai makan buah simalakama. Mau menuntut calo gak berani takut ketahuan bohongnya. Damai dengan penggarap, dia harus keluarkan banyak uang untuk menyumpal mulut mereka. Apalagi kalau pengarap tidak mau damai dan mengurus lahan menjadi hak milik mereka, kyai Dul Kemit gigit jari dech...
Berani nggak dia menyumpal mulut penggarap dengan gepokan uang...? Malang nian kyai Dul Kemit, KECAPLOK KADAL BUNTUNG, alias calo.
"Terus gimana kang Encep...?" "Ya nunggu proses hukum kang Ujang.
Makanya ikuti the series berikutnya."
No comments:
Post a Comment