Thursday, May 18, 2017

DIARY SANTRI JILID 4

DIARY SANTRI JILID 4
Oleh : Ahmad Fadli

Assalamualaikum... 
Semuanya sahabat santri dimanapun kalian berada jangan lupa baca diary santri yah. 
Inilah diary santri jilid IV spesial buat kamu

Dear santri,
Kesepian dan kesunyian menyeruak disalah satu ruang kelas disebuah pesantren. Tidak ada suara satupun, yang terdengar hanya tiupan angin dan seretan daun yang terbawa angin. Suasana itu membuat otak Malik menjadi keruh dan tidak bisa berbuat apa-apa kecuali memandangi lembar jawaban. Tangan Tuhan pun mengusap kepala Malik tak tahu kenapa otak Malik tiba-tiba encer dan fresh. Dengan penuh percaya diri dia menuangkan seluruh isi otaknya ke lembar jawaban ujiannya. 

SSSRRRKKK "yah kertasnya sobek" kata Malik. Ternyata meja Malik terkelupas bahkan bolong. Hal yang sangat tidak wajar untuk ukuran salah satu pondok pesantren termasyhur. "Anak-anak waktu telah habis kumpulkan lembar jawaban kalian, pastikan nomor urut dipojok kanan atas" perintah pengawas ujian. 

"Ustadzah lembar jawaban saya sobek" keluh Malik pada pengawas ujian. "Gimana sih kamu? Sudahlah kamu ikut ujian susulan saja" bentak pengawas ujian pada Malik. Waktu rehat serasa suram bagi Malik karena tidak rela lembar jawabannya sobek apalagi untuk ujian susulan.

"Wooyoung..... Kenapa lesuh begitu?" Sapa Salam kepada Malik. "Iya nih, tadi lembar jawaban aku sobek dan aku harus ikut ujian susulan" balas Malik. "Kok bisa?" Tanya Salam. "Tuuuhhh....." Kata Malik sambil menunjukkan kecacatan pada mejanya. 

"Yah elah Malik Malik bukan kamu doang kali. Lihat nih baju aku, sobek juga gara-gara sandaran kursinya copot sudah lama sekali" tanggap Salam sambil memperlihatkan bajunya yang sobek. "Gimana sih ini? pondok kita kan termasyhur akreditasi A+ lagi dalam segala bidang" lanjut Salam. "Iya nih, jadi miris melihatnya pesantren sebesar ini yang setiap harinya melakukan penelitian, membangun, membuat program sumber fulus pun dimana-mana masa yang begini belum juga teratasi . 

Apa ini tidak termasuk program?" Tambah Malik. "Betul, terus fulus yang mengalir terus itu dikemanakan?" Jawab Salam. "Sudahlah tidak boleh su'udzan begitu kamu itu, itu kan urusan pak kyai dan kawan kawan tugas kita mah belajar" nasehat Malik. "5 menit lagi bel masuk, kamu lebih baik kembali ke kelas, siap-siap untuk pelajaran selanjutnya" perintah Malik. "Ya sudah aku ke kelas dulu. Hati-hati yah mejanya" jawab Salam. 

Tidak lama kemudian bel pun berbunyi pertanda ujian dilanjutkan. Berlalulah Salam kembali ke kelas meninggalkan Malik yang sedang dilanda kebelengguan.

Nah, sahabat santri persiapan untuk mewujudkan kader bangsa yang berkualitas ternyata masih sangat jauh tuh. Meja masih bolong dan terkelupas, kursipun masih copot-copot. 

Semoga Malik dan Salam tetap semangat dalam mewujudkan impiannya. Oke... Sahabat santri itulah seputar perjuangan Malik dan Salam. 

Saksikan dan ikuti terus kisah dinegri santri yaahh.... 
Tentunya dalam diary santri selanjutnya

No comments:

Post a Comment