Tuesday, February 27, 2018

Undercover 89

Undercover 89
Oleh : Muhammad Ikhsan (Alumni)




Kami (Alumni Al-zaytun) adalah orang-orang paling sulit untuk dihasut dan diprovokasi untuk membenci guru-guru kami, untuk menerima fitnah yang dibuat dengan cerdik terhadap guru-guru kami, untuk tidak mempertanyakan apa yang sedang terjadi. 
Kami adalah orang-orang paling mengenal dengan guru kami sendiri, setidak-tidaknya 6 tahun kami hidup dalam satu kamar yg berukuran 10×6 meter dan berbagi kamar mandi yang sama, dibangunkan untuk shalat shubuh, dikawal ketika belajar malam, dan dinasehati ketika kami salah.. 
Sulit bagi kami menerima semua fitnah yang kalian buat-buat itu, kami tau bagaimana pengorbanan mereka meninggalkan anak istri mereka dirumah demi kami, kami tau apa tujuan mereka disana, bahkan terima kasih kami tidak akan menggantikan jasa mereka terhadap kami, apalagi kalau kalian mencoba menghasut kami untuk membenci mereka, "bagaikan Pungguk merindukan bulan".
Mata kepala kami saja kami bisa melihat foto ini siapa yang dzalim dan siapa yang terdzolimi, orang Shalat Jumat malah kalian tonton dan kalian tidak mengerjakannya demi perintah yang tidak bisa dipertanggung jawabkan hukum syar'inya, mungkin kalau hukumnya pemimpin kalian karang-karang, di tafsir-tafsir atau di takwil-takwil sendiri itu bisa jadi.. apalagi kalau disuruh menilai guru kami dengan logika, dengan mata hati, dengan bukti.. jelas kami lebih percaya mereka daripada percaya sama orang yang jauh dari kebenaran.
Disana disebutnya koordinator, kalau di dunia bisnis namanya marketing, dan ingat yang namanya marketing itu hanya menyampaikan kelebihan dari sebuah produk demi tercapainya omset yang tinggi, dan tak jarang malah dilebih-lebihkan agar tergiur..
Sorry ya kami tidak mudah tergiur dengan iming-iming kalian apalagi dengan menjelek-jelekan guru kami sendiri..


Sumber : Klik di sini

Tuesday, February 20, 2018

Undercover 88

UNDERCOVER 88
Oleh : Boby Ibnu Rizal (Alumni)




Cukup dengan akal sehat saja memutuskan perkara yang di lihat.
Jangan mengambil asumsi yang macam-macam atau berlebih kemudian mendramatisir.
116 guru dipecat tanpa keterangan yang jelas, jelas ini adalah arogansi sepihak, dan anda masih membela kedzaliman ini, kemudian bertanya darimana letak dzalimnya!!?
Dan menasihati guru, sudah sabar saja, mungkin bukan disana tempat mengabdinya, jika kita membiarkan dan mewajarkan kesewenangan, maka hancurlah generasi masa depan dibawah pemimpin yang dzalim!!

Dia lebih memilih memutus hubungan dibandingkan ajakan silaturahmi, dia lebih memilih merusak ikatan dibandingkan membangun bangunan yg kokoh, kalau pemimpin yang berorientasi pada pembangunan, maka ia akan mencari, mengumpulkan dan membangun banyak jiwa yg bersinergis dengannya.
Bukan membuang, menghina, menghujat, memfitnah dan mematikan karakter di depan khalayak ramai, adakah uswah yg baik dari pemimpin yg demikian!!??
Jika anda berpikir dengan akal sehat dan nurani yang sehat, mungkin kita akan sependapat, tetapi sebaliknya akan selalu salah apa yg menjadi pandangan saya karena sesuatu yang menutupi mata batin untuk melihat dari sisi nurani kemanusiaan, berapa banyak generasi yang jadi korban dari slogan pendidikan dari ummat untuk ummat, tapi ummat g kuat masuk karna yang dijanjikan sudah jauh dr kesepakatan awal. Management DAGELAN!!!
Pendidikan bukan sinetron, playing victim dan mengumbar semangat nasionalisme untuk menutupi kekurangan dan kedzaliman. Dibalik sorban, kacamata hitam!!!
Bullshit!!! Kaburo maqtan Inda Allahi antaquluna Mala taf'alun!!!
Dari ribuan jadi ratusan dari ratusan jadi puluhan, kemajuan macam apa yang dibanggakan?!
Diminta transparan dia bilang asu edan, kecuali dia jadi cacing kepanasan karna takut semua aset, tilepan, yang sudah masuk saku kanan kiri depan belakang atas bawah ketahuan.
Kalau ketahuan "maling" habislah wibawa, kepercayaan dll, mata tidak bisa berbohong oleh karenanya setiap acara selalu ada kacamata hitam menutupi mata yang sudah banyak salah tingkah!!
Bukan bicara soal aset, duniawi adalah hal yg kecil, lingkup kecil, kita bicara tentang tujuan pendidikan dan generasi yang dititipkan, harus tercekik leher karna biaya pendidikan dan kebiri pendapatan, karyawan jadi sukarelawan, dibuatnya seperti dagelan, anehnya pendukungnya mengiyakan bahwa itu adalah kebenaran bukan kesalahan, bahwa itu adalah manusiawi bukan keberingasan, sekali lagi DAGELAN!!!

Sumber : Klik di sini

Thursday, February 15, 2018

DUL KEMIT THE SERIES 49

DUL KEMIT THE SERIES 49
Guru Mencari Keadilan 1
Oleh : Arif Yosodipuro


Kebengisan dan kearoganan Dul Kemit tidak membuat nyali para guru ciut dalam mencari keadilan. Pengusiran dengan semena-semena yang dilakukan oleh Dul Kemit justru memicu dan memacu adrenalin mereka untuk terus semangat.


Berbagai upaya mereka tempuh. Semua instansi terkait dihubungi dan dilapori. Variatif tanggapan mereka. Respon verbalnya bagus-bagus. Namun, kurang aksi. Satu di antaranya instansi yang dilapori adalah Kemenaker, Kementerian Tenaga Kerja. Instansi ini cukup responsif.

Mendapat laporan mengait dengan otoritasnya, Kemenaker langsung menginstruksikan Disnaker, Dinas Tenaga Kerja, setempat untuk menindak lanjuti. Maka diagendakanlah mediasi dengan mengundang kedua pihak, guru dan Dul Kemit untuk berunding tanpa campur tangan pihak ketiga.

Sesuai dengan kesepakatan, bipartit dijadwalkan pukul 09.00. Sejumlah perwakilan guru sudah hadir sejak sebelum acara dimulai. Sementara pihak Dul Kemit belum juga tampak batag hidungnya pada waktu yang ditentukan. Mereka merasa sok hebat dan berkuasa.

Guru terpaksa harus menunggu mereka berjam-jam. Inilah satu dari kedholiman Dul Kemit. Kalau dia yang punya acara, orang lain disuruh tepat waktu. Namun, kalau acara dengan orang lain, dia sembarangan menanggapinya. Datang semaunya.

Entah apa yang ada di benak mereka dan apa yang membuat mereka lambat. Apakah orang yang akan diutus belum bisa menemui Dul Kemit untuk meminta wejangan. Ataukah ini sengaja diulur sebagai shock theraphy, psychowar, untuk menjatuhkan mental lawan.

Pihak disnaker terus memantau dan berkomunikasi sekalipun sedikit gusar. Setiap ditelepon, utusan Dul Kemit mengiyakan dan mengatakan siap datang. Tapi tidak juga tiba. Walau demikian, guru sabar menunggu dengan penuh keyakinan dan semangat.

Baru setelah hampir SEMBILAN jam ditunggu, mereka nongol pada 17.00 lewat. Menjelang shalat Maghrib, senja. Dengan sikap arogan dan membusungkan dada, mereka sok di atas angin. Berlagak orang yang dipentingkan.

Dalam pantauan disnaker, bipartit pun dimulai. Pada giliran guru berbicara, sebelumnya sang juru bicara mengingatkan kepada utusan Dul Kemit agar disiplin datang tepat waktu. Kemudian ia menyampaikan usulan.

Utusan Dul Kemit tak bisa menjawab. Mereka tak ubahnya sekadar jongos, kacung, hanya seperti kurir atau porter yang biasa menawarkan jasa panggul. Hanya sebagai konduktor. Tak ada kewenangan, tak ada otoritas.

“Maaf kami tidak bisa menjawab sekarang. Akan kami sampaikan dulu kepada pimpinan kami,” kata seorang utusan Dul Kemit berkelit. Kemudian ia menyampaikan bahwa pertemuan akan dilanjutkan pada pekan berikutnya. Mereka sekalian menentukann hari, waktu dan tempat.

Bipartit pertama pun berakhir dengan tanpa ada keputusan. Guru pulang dengan tangan hampa, menunggu pertemuan berikutnya.

Sumber : Klik di sini

DUL KEMIT THE SERIES 48

DUL KEMIT THE SERIES 48
Siasat Berbuah Laknat 2
Oleh : Arif Yosodipuro



Polisi mulai beraksi. Tahap-tahap penyelidikan sampai penyidikan pun dilakukan untuk mendapatkan informasi dan bukti. Satu persatu para saksi dimintai keterangan, juga terlapor. Setelah mengorek informasi dari para saksi, polisi menyimpulkan dengan menggelar perkara bahwa kasus tersebut memenuhi persyaratan untuk dilanjutkan ke pengadilan.
Status Dul Kemit berubah dari terlapor menjadi tersangka. Mendengar berita yang mengagetkan itu, Dul Kemit mencak-mencak, tak terima, tak menyangka bahwa aksinya akan berbuntut panjang yang mengusik ketenangannya hingga menyeretnya ke pengadilan.
Saking emosinya menghadapi tuduhan, ia tak mampu mengontrol diri. Dalam sebuah pertemuan litbang tahunan ia ungkapkan kekesalannya di depan peserta. Ia sampaikan kekecewaannya. Ia menganggap bahwa koleganya tidak membantunya menghadapi masalah hukum yang sedang menerpanya.
Dul Kemit mencari cara berkelit. Sebagai upaya bela diri, juga untuk memengaruhi kepolisian agar tidak meneruskan kasusnya ke pengadilan, ia meminta kepada pengikut dan pendukungnya untuk melakukan DEMO, mass pressure, tekanan masa.
Tak tanggung-tanggung. RIBUAN ORANG dikerahkan. Tunduk, patuh dan sendiko dawuh pada titah ulun kyai Dul Kemit, mereka pun nurut. Mereka berkumpul di Parkir Timur Senayan kemudian melakukan long march menuju Mabes Polri. Di sepanjang perjalanan, mereka membentangkan spanduk juga yel-yel.
Seorang peserta demo, yang nota benenya seperti Sangkuni, yang kerjaannya hanya memanas-manasi dan yes man, dengan percaya diri berteriak lantang.
“KYAI DUL KEMIT BUKAN TERORIS…. KYAI DUL KEMIT SEORANG PENDIDIIIIIKKKK…..”
Teriakan itu disambut gegap gempita oleh peserta demo lainnya. Demo dagelan dan sandiwara ini menuntut dua hal, yaitu menolak status Dul Kemit sebagai TERSANGKA kasus pemalsuan dokumen dan meminta Mabes Polri TIDAK MENAHANNYA.
Selain demo, agar Dul Kemit bisa lolos dari jeratan hukum positif, dia mengutus orang kepercayaan, sebut saja Fulus Mulus, untuk mengirim “GEMBOLAN” kepada praktisi hukum, seperti jaksa dan sejawatnya. Ia datangi jaksa yang menangani kasus sambil membawa salam gembolan dari sang junjungan.
Hafal akan permainan licik Dul Kemit, Hamim Prayitno pun tak mau kalah. Dengan berbagai upaya ia lakukan untuk bisa menyeret Dul Kemit ke meja hijau, pengadilan. Dia pun mencari dukungan, back up, baik materi maupun non materi.
Usaha Hamim Prayitno cukup ampuh, mampu mengunci mati Dul Kemit tak berkutik. Sementara upaya Dul Kemit sia-sia.. Gigit jari. Show of mass mereka tak membuahkan hasil. Tak berefek. Nothing but loose. Sang pemalsu dokumen tetap diseret ke pengadilan untuk mempertanggungjawabkan pelanggaran hukumnya.
Sidang mulai digelar di pengadilan negeri. Saksi dari masing-masing pihak dihadirkan, juga tersangka, Dul Kemit, namun tidak hadir. Hanya diwakili oleh kuasa hukumnya. Ketika dimintai keterangan oleh wartawan, ia menyebutkan bahwa kliennya sedang sakit.
Karena tak pernah hadir dalam persidangan, pihak pengadilan mengalami kesulitan dalam membacakan keputusan sidang. Apalagi, Dul Kemit bersembunyi di singgasananya yang dijaga ketat dan intensif oleh orang-orang setianya secara berlapis-lapis 24 jam non stop.
Tahu akan kelicikan Dul Kemit, pengadilan tak kurang akal. Disusunlah skenario eksekusi. Setelah menunggu sekian lama situasi mereda, Kepala Pengadilan Negeri mengundang Dul Kemit untuk bersilaturahim. Undangan tersebut diterima dengan senang hati tanpa ada kecurigaan.
Pada hari yang ditentukan, Dul Kemit bersama beberapa orang terdekatnya berangkat ke pengadilan dengan hati berbunga-bunga. Sementara pihak pengadilan sudah menyiapkan seluruh personal terkait dalam keadaan siaga.
Sesampainya di pengadilan, situasinya wajar, biasa-biasa saja. Para petugas menyambut kehadiran Dul Kemit dengan ramah, akrab, penuh senyum. Setelah basa-basi, Dul Kemit dipersilakan ke lantai II di mana kepala pengadilan sedang menunggu.
“Silakan kyai. Bapak (kepala pengadilan maksudnya) sudah menunggu di atas.” kata petugas bersenyum sambil menganggukkan kepala.
Dul Kemit dan rombongan menuju lantai dua. Ia diterima oleh kepala pengadilan. Mereka saling bersalaman dan tegur sapa. Sementara polisi sahbara yang dari tadi sudah siap siaga langsung merapat, ambil posisi, memblokade ruangan.
DAAAAARRRR…!!! Bagai halilintar menyambar. Suasana berbalik 360 derajat. Dul Kemit yang mulanya tampak gagah dengan pakaian necis dan kacamata hitamya berubah seperti singa terbius, lemas tak bertaring. Pasalnya ia terpertangkap.
Ternyata undangan kepala pengadilan itu hanyalah tip dan trik untuk memancing Dul Kemit keluar dari persembunyiannya. Dengan begiitu, pengadilan bisa membacakan tuntutan dari keputusan sidang.
Kesangaran Dul Kemit tak segarang penampilannya. Bagai babi hutan masuk perangkap. Ia berontak, berusaha kabur. Namun, polisi sudah memblokadenya dengan senjata lengkap. Ia meronta, menangis seperti balita minta dibelikan balon.
Dul Kemit harus menerima kenyataan pahit. Ia dinyatakan bersalah dan divonis, sekitar 10 BULAN PENJARA. Tak ada yang bisa ia perbuat kecuali pasrah, juga orang-orang yang datang bersamanya hanya bisa menelan ludah, iba.
“Jadi…., kalau begitu bener donk Kang, Dul Kemit malsu dokumen?” Tanya kang Ujang memotong cerita kang Encep. “Ya iyalah, Kang.” Jawab kang Encep sambil melotot. “Wong buktinya jelas kok. Begitulah….. SIASAT BERBUAH LAKNAT. Baru tahu, kena batunya.” Kang Encep nyengir….
AKANKAH TERULANG KEMBALI…..?

Sumber : Klik di sini

DUL KEMIT THE SERIES 47

DUL KEMIT THE SERIES 47.
Siasat Berbuah Laknat 1
Oleh : Arif Yosodipuro


Hampir semua perseteruan dengan Dul Kemit menemui jalan buntu. Tak ada penyelesaian. Satu-satunya solusi hanyalah…. USIIIIIRRRR…...!!! Tak terkecuali. Termasuk yang menimpa seorang pengurus teras pesantren, sebut saja Hamim Prayitno, wakil ketua yayasan.

Entah apa yang menjadi pemacu dan pemicu perseteruan Dul Kemit dengan koleganya itu. Tak banyak yang tahu. Warga tahunya bahwa Hamim Prayitno tidak lagi ada di pesantren. Selidik punya selidik, diketahui bahwa ada kebijakan Dul Kemit yang tidak bisa ia terima. Dari pada makan hati, Hamim Prayitno memilih meninggalkan pesantren untuk sementara waktu, ingin menenangkan diri.

Beberapa bulan, Hamim Prayitno tak kunjung kembali ke pesantren. Tidak ngantor, tak tampak batang hidungnya. Lenyap bak tersapu tsunami. Meja kursinya yang hari-hari tak lepas dari tubuhnya kosong tak bertuan.

Melihat Hamim Prayitno tidak aktif, Dul Kemit mengatur strategi dan siasat. Ia rombak pengurus pesantren, tanpa musyawarah, tanpa pemberitahuan kepada Hamim Prayitno. Ia menyuruh orang kepercayaannya menemui notaris dengan membawa formasi pengurus yang baru.

Agar terkesan bahwa perubahan pengurus itu hasil musyawarah, dibuatlah berita acara kehadiran yang ditandatangani oleh semua pengurus, termasuk Hamim Prayitno. Karena Hamim Prayitno tidak ada maka tanda tangan kehadirannya dipalsu.
Beberapa bulan kemudian, setelah hatinya nyaman, Hamim Prayitno ingin kembali ke pesantren. Namun apa yang terjadi? Ia terkaget dan kecewa bukan kepalang. Ternyata namanya sudah tidak lagi tercatat sebagai pengurus dan pangeran (anak Dul Kemit), Gus Memet, sebagai ketua yayasan. Terlebih lagi, tanda tangannya dipalsu.

Mendapat perlakuan DHALIM dan LICIK dari Dul Kemit, Hamim Prayitno tak terima. Ia kemudian melaporkan Dul Kemit ke Mabes Polri atas pemalsuan dokumen. Bak gayung bersambut, Mabes Polri menindaklanjuti dan memproses laporan Hamim Prayitno.

"Oalah, inginnya bersiasat, kok malah dipolisikan." Celetuk kang Ujang memotong. "Terus gimana, Kang? 

"Jeda dulu Kang, bersambung pada volume berikutnya." Jawab kang Encep sambil mengikik.

Sumber : Klik di sini

Sunday, February 11, 2018

Undercover 87

UNDERCOVER 87
SIARAN PERS
PENGABDIAN TULUS RATUSAN GURU YANG DIBALAS KESEWENANGAN
Oleh : Abdul Imanuddin

Sejumlah 116 Guru yang mengajar di Yayasan Pesantren Indonesia (YPI) Ma'had Al-Zaytun Blok Sandrem, Desa Mekarjaya, Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu- Jawa Barat, sedang mencari keadilan dalam Kasus PHK sepihak yang dilakukan oleh Yayasan tempat mereka bekerja. Pada hari Kamis Tanggal 11 Januari 2018 Para Guru beserta kuasa hukum dari LBH Bandung mendaftarkan gugatan ke Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Kelas I A Kota Bandung dengan Perkara No 11/ Pdt.Sus-PHI/ 2018/ PN.Bdg.

Peristiwan ini bermula dari Para Guru yang mengusulkan perbaikan terhadap sistem manajemen pendidikan dan asrama juga menyarankan yayasan untuk mendaftarkan ISO agar sistem manajemen menjadi aktuntabel dan transparan. Para Guru juga mengkritisi penggunaan dana (Bantuan Operasional Sekolah) BOS yang semula dana tersebut masuk ke rekening Madrasah Aliyah Ma’had Al-Zaytun dipindahbukukan ke rekening pribadi A.S Panji Gumilang sebagai Ketua Pembina Yayayan Pesantren Indonesia yang merangkap sebagai pimpinan Ma’had Al-Zaytun.


Pada Hari Jumat tanggal 18 November 2016 bertempat di Masjid Al-Hayat Mahad Al-Zaytun, A.S. Panji Gumilang dalam pidatonya menyatakan “banyak guru nyeruwat, otaknya diisi asu edan”. Ungkapan kasar tersebut dinyatakan setelah Para Guru menyampaikan kritikannya terhadap YPI Mahad Al-Zaytun.


Pada tanggal 9 Desember 2016, Para Guru mengunjungi kediaman A.S. Panji Gumilang dengan tujuan untuk bersilaturahmi dan meminta klarifikasi soal pernyataannya dalam pidato sebelumnya. Namun, A.S. Panji Gumilang menolak untuk ditemui. Selanjutnya pada tanggal 18 Desember 2016 A.S. Panji Gumilang kembali berpidato dan dalam pidatonya menuduh penanggung jawab asrama melakukan pungli dan korupsi.


Pada tanggal 18 Desember 2016 Para Guru masih beritikad baik untuk menemui A.S. Panji Gumilang dengan tujuan untuk bersilaturahmi dan mengklarifikasi pernyataannya, namun A.S. Panji Gumilang tidak mau ditemui dan kediamannya dijaga oleh petugas keamanan. Upaya Para Guru berlanjut dengan meminta mediasi kepada Kapolres Indramayu dengan tujuan untuk dipertemukan dengan A.S. Panji Gumilang. Pada 30 Desember 2016 Kapolres Indramayu beserta Kapolsek Gantar berusaha memediasi antara Para Guru dengan A.S. Panji Gumilang, namun tidak ada hasilnya.
Pada 6 Januari 2017 Para Guru dilarang masuk ke lingkungan Kampus Pesantren Al-Zaytun dengan dihadang dengan pagar rantai dan puluhan petugas keamanan serta ratusan orang yang tidak dikenal, bahkan tidak diperbolehkan melakukan Sholat Jum’at di masjid Pesantren Al-Zaytun. Hal itupun terjadi pada tanggal 9 Januari, serta, 2, 3 dan 6 Februari 2017. Tindakan Yayasan Pesantren Indonesia yang melarang guru untuk masuk ke pesantren melaksanakan tugas juga diketahui oleh Pengawas MA Kemenag Kab. Indramayu.


PHK SEPIHAK
Setelah rangkaian kejadian yang dialami oleh Para Guru, akhirnya Para Guru di PHK secara sepihak melalui “Surat Keputusan Syaykh Ma’had Al-Zaytun No 013/AZ-k/V-1438/II-2017” Tentang Penetapan Guru yang Tidak Aktif Mengajar. Surat tersebut tidak dikirimkan langsung kepada Para Guru, melainkan Para Guru mengetahuinya dari Kementerian Agama Kabupaten Indramayu. Surat tersebut menandakan bahwa telah terjadi PHK sepihak yang dilakukan oleh Yayasan.


Tindakan Yayasan Pesantren Indonesia Ma`had Al-Zaytun yang melarang Para Guru untuk melaksanakan tugas mengajar dan tidak membayar upah Para Guru dari bulan Desember 2016 hingga saat ini, telah melanggar Pasal 93 ayat (2) huruf F UU No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan. Serta melanggar Pasal 151 Jo. Pasal 155 UU Ketenagakerjaan.
Atas tindakan Yayasan Pesantren Indonesia Ma`had Al-Zaytun tersebut, Para Guru menuntut pemenuhan hak-hak sebagaimana diatur Pasal 156 ayat (2), ayat (3), dan ayat (4), UU Ketenagakerjaan.


#SAVE116
Bandung, 11 Januari 2017
116 orang Guru Pencari Keadilan
Narahubung
Hardiansyah (0813 7324 0557),
Mustakim (0852 9550 6036),
Sarju (0878 2892 9726)

Wednesday, February 7, 2018

Undercover 86

Undercover 86
Oleh : Abu Bakar




Sabar/putus asa, beda tipis
Saya pernah jadi dosen di IAI, bahkan pernah menjadi panitia akreditasinya.
Ruang rektor hanya nama saja, ngga pernah ditengok(sangat jarang).
Mahasiswa...!
Jangan menuntut rektor ya..
Kasihan, rektornya aja lagi berjuang menahan malu(dikira kalau jadi rektor, ngga usah ngurus titel), ternyata syarat rektor S2-nya harus.
Ya kalian harus sabar, nunggu angkatan 3 selesai, insya Allah si rektor juga selesai S2nya (itu kalau tesisnya selesai juga).
Oh iya, spp jalan terus ya..
Kasihan di IAI banyak yang belum lunas, jadi lunasi dulu, "negara" belum mampu untuk memberi beasiswa kepada kalian, karena sedang banyak program, yang tidak pernah usai, kalian tahu kan...
Sabar ya..
Serahkan semuanya kepada Allah,
Mahasiswa hanya pasrah, pasrah dengan keadaan.
Bagaimana prof Syamsul Arifin

Sumber : Klik di sini


Undercover 85

Undercover 85
Oleh : Muhammad Ikhsan
Alumni Persada (Angkatan 2)


Waktu 2 tahun yang lalu saya kesana untuk mengurusi Reuni angakan 2, ada yg membuat kami paninitia tercengang ketika disela-sela pertemuan dengan ketua dewan guru saat itu (yg saat ini masih ada)

Dia menyampaikan kepada kami

"Ada ga temen2 (Persada) yang udah S2, bilang suruh daftar dosen disini dong, disini masih kekurangan dosen, atau Ijazah mereka dipinjamkan dulu untuk syarat akreditasnya, tidak mengajarpun tidak apa"

Disitu saya berfikir, bahwa tempat ini tidak ada bedanya dengan tempat lain yang bobrok, menggunakan segala cara demi tercapai tujuan.. 

Sumber : Klik di sini






Tuesday, February 6, 2018

DUL KEMIT THE SERIES 46

DUL KEMIT THE SERIES 46
Menganggap Gampang, Ujungnya Wisuda Mengambang
Oleh : Arif Yosodipuro


Berkoarnya ia seorang pendidik. Slogannya “Mendidik Hanya Untuk Ibadah.” Praktiknya wow…. menyusahkan. SUSAH … SUSAH… SUSAH…SUSAAAAAHH......BUINGIIIT gitu lo. Santri susah, wali santri susah, mahasiswa susah…… Pokoknya serba susah dech. he he he he…
Ide boleh segudang. Namun, apa gunanya kalau semuanya tumbang?
Dinamika akibat ulah Dul Kemit silih berganti. Kali ini menimpa mahasiswa institut. Mereka yang seharusnya sudah diwisuda terkatung-katung menunggu waktu yang tidak jelas. Sementara mereka harus tetap membayar uang kuliah.
Hal ini dikarenakan keserakahan dan kepelitan Dul Kemit. Merasa hebat dan berkuasa, semuanya digagahi. Semua dipegang sendiri. Tidak ada distribusi tugas dan kewenangan. Tidak ada job sharing. Semuanya harus dia. REKTOR dia. Kepala ALIYAH dia, MTs dia. Sampai PAUD pun harus dia.
Ia menganggap dirinya paling super, sesuper SUPER BOY, sesuper CAPTAIN AMERICA. Sesuper HULK, sesuper THE SIX MILLION DOLLARMAN. Sesuper TARSAN, dan sesuper tokoh film lainnya. Karena itu apa saja dianggap ENTENG dan dianggap GAMPANG.
Mulanya dengan semangat pendidiknya, Dul Kemit membuka universitas. Didukung oleh SDM yang beretos kerja dan ketaatan tinggi, semuanya bisa berjalan dengan baik sekalipun masih banyak kekurangan.
Promosi digencarkan. Dengan menawarkan prodi yang lagi ngetren; kedokteran dan IT, mahasiswa pun berdatangan. Dalam sekali angkatan bisa ratusan mahasiswa yang mendaftar. Sungguh prestasi yang membanggakan untuk universitas yang baru lahir.
Perkuliahan demi perkuliaha berjalan sesuai dengan jadwal. Namun, kelancaran perkuliahan tidak dibarengi dengan kelancaran administrasi, yakni PERIZINAN. Padahal pintu sudah dibuka lebar. Universitas diresmikan langsung oleh menteri pendididkan. Kemudian, pengurusan izin sudah mengantongi rekomendasi wakil presiden. Kurang apa…?
Kenyataannya, kuliah sudah berjalan hampir empat tahun, pengurusan izin universitas belum kelar dan izin pun tidak keluar. Akhirnya pil pahit harus ditelan. Karena tidak ada izin, maka tidak boleh mengadakan kegiatan perkuliahan.
Baru setelah mendapat peringatan, Dul Kemit menginstruksikan stafnya untuk menyelesaikan pengurusan. Mereka pontang-panting, ngebut mengurus. Namun sayang, sang pemberi rekomendasi sudah tidak menjabat lagi, ababnya sudah tak mandi. Izin pun tidak diberi.
Akibatnya, UNIVERSITAS DITUTUP. Mahasiswa harus gigit jari. Mereka sudah mengorbankan waktu, tenaga, dan dana namun sia-sia. Harapan menjadi seorang sarjana dari universitas yang dipuja sirna tak ada berita.
Gagal membangun universitas, Dul Kemit bermanufer mendirikan institut. Kalau dulu menginduk diknas, kini ia menginduk kementerian agama. Upaya pendirian isntitut berjalan lancar karea ada kedekatan dengan sang pejabat. Izin operasional institute dapat digenggam.
Lagi-lagi, Dul Kemit bangga diri. Kursi rektor ia duduki. Merasa berkuasa dan izin sudah di tangan, ia santai dan menganggap gampang. Ia lupa bahwa ia berada dalam wilayah berkonstitusi yang harus ditaati bahwa syarat menjadi rektor itu minimal S2. Dia terlena dan sibuk dengan manufer politiknya.
Giliran akan mewisuda, Dul Kemit kelimpungan. Pasalnya ia sebagai rektor tidak bisa mewisuda mahasiswanya karena terganjal oleh pendidikan akademisnya yang belum S2. Sementara dia tidak rela rektor dijabat oleh orang lain, sekalipun mereka sudah S2.
Baru setelah itu ia kuliah S2 untuk memenuhi persyaratan. Akibatnya mahasiswa yang seharusnya sudah diwisuda, terpaksa harus rela (meskipun nggerundel, ngedumel, mangkel) menunggu Dul Kemit menenteng ijazah S2. Namun, SPP bayar terus.
"Padahal saya bela-belai kuliah lebih dulu demi ada mahasiswanya dan menunda anak kuliah ujung-ujungnya malah begini. GAK JELAS." Kata seorang tetangga kang Encep mengeluh.
"Kok gak pindah atau keluar saja Kang?" Tanya kang Encep kepo.
"Sudah telanjur, Kang. Sudah banyak dana yang keluar. Nanggung." Jawabnya sedih.
Harusnya Dul Kemit belajar dari yang sudah-sudah. Allah sebenarnya sudah memberi serangkaian peringatan tetapi sepertinya peringatan itu tak pernah diperhatikan. Padahal peringatan Allah itu menjadi pelajaran bagi orang-orang yang mau berpikir.
Coba kalau Dul Kemit cerdas, tidak serakah, dan menganggap enteng, jabatan rektor bisa diserahkan kepada yang lebih berkompeten. Atau jauh-jauh hari, dia segera kuliah S2 sejak dibukanya isntitut. Sehingga, di tahun ketiga, dia sudah bergelar sarjana S2 dan syah mewisuda mahasiswa isntitut angkatan pertama tepat pada waktunya.
Hadeuh….MENGANGGAP GAMPANG, UJUNGNYA WISUDA MENGAMBANG….

Sumber : Klik di sini

DUL KEMIT THE SERIES 45

DUL KEMIT THE SERIES 45
Dicekoki Ide Baru Warga pun Membisu
Oleh : Arif Yosodipuro


Kelihaian Dul Kemit dalam berorasi membuat para pendengarnya terkesima, terutama yang baru mengenalnya. Mereka pasti akan bilang, “Wah hebat orang ini.” atau, “Ini figur pimpinan masa depan,” sekalipun mereka itu pejabat tinggi negara setingkat wakil presiden maupun sekelas ketua badan legislatif. Mereka akan menggeleng-gelengkan kepala mendengar ucapan sang tukang ngibul.
Lazimnya, para tamu penting yang berkunjung ke pesantren Dul Kemit, mereka diajak berkeliling seputar komplek pesantren. Mereka dipandu melihat fasilitas yang dimiliki, mulai dari sekretariat pendidikan sampai ke dapur santri, dari hulu hingga hilir. Mendengarkan penjelasan sang pemandu yang dibumbui dengan kibulan-kibulan mengagumkan, para tamu pun menelan ludah, takjub. Spontan berkomentar, “LUAR BIASA.”
Untuk membentengi diri dari para pengkritik, juga untuk membungkam warga agar tidak mengkritik, Dul Kemit mengeluarkan statemen yang seolah benar dan dibenarkan. Dengan bangganya, statemen itu disadur oleh netizen pengagumnya dan mengunggah ke medsos di wall statusnya.
“MEMBANGUN BANGSA TIDAK ADA CERITA UNTUNG DAN CERITA RUGI. YANG ADA HANYA KEJAYAAN BANGSA.”
Sepertinya pernyataan itu bagus dan benar. Namun kalau dianalisis mendalam, secara implisit ada pengabaian pertanggung jawaban. Membangun bangsa itu menggunakan uang rakyat. berhasil dan tidaknya suatu program harus dipertanggung jawabkan. Surplus dan defisit sebuah anggaran pun harus dilaporkan kepada publik melalui lembaga otoritas.
Seperti yang dilakukan oleh aparat di negara-negara maju. Bila ia gagal maka dengan suka rela mengundurkan diri dan menyerahkan kepada yang lebih mampu, bukan mempertahankan jabatan dengan tidak ada perkembangan, protektif, dan tak mau dikritik.
Di Jepang contohnya, pada 2011 Perdana Menteri Naoto Kan mengundurkan diri karena mendapat tekanan dan kritikan yang dianggap tidak menunjukkan kepemimpinannya pasca bencana alam, tsunami aceh, yang juga menerjang negara sakura itu.
Mengikuti seniornya, pada 2016, Menteri Ekonomi Akira Amari, pun mengundurkan diri setelah dirinya dituduh korupsi, menerima suap dari sebuah perusahaan sekalipun Perdana Menteri Shinzo Abe menginginkan yang bersangkutan tetap pada jabatannya.
Menanggapi statemen terselubung tersebut, netizen yang tidak sependapat berkomentar, “Itu adalah ucapan orang (pemimpin) yang tak bertanggung jawab.” Sementara netizen lain berucap, “Menghamburkan uang rakyat dengan semena-mena. Ungkapan itu menggambarkan ketidakpedulian sang pemimpin terhadap manajemennya. Statemen tersebut hanyalah alibi dan apologi dalam melegitimasi sang pemimpin berbuat semaunya, bebas tanpa syarat.”
Bagaimana pimpinan berprinsip seperti itu. Pantas saja dia tidak mau dikritik atas kegagalan demi kegagalan yang ia lakukan. Sebab itu, Dul Kemit tidak segan-segan akan menggunakan jurus pamungkas, aji-aji GEBUG BAWONO. Kalau sampai ada warga yang berani menilai, atau mengkritik dia. Yaitu “USIIIIIRRRRR…..!!!”
Berbagai kiat akan ia lakukan untuk membungkam mulut warga pesantren agar tidak bersuara. Satu di antaranya adalah PENGALIHAN ISU. Soal membuat pengalihan isu, Dul Kemit suhunya. Warga dijejali dengan isu-isu baru. Masalah satu belum tuntas, ia keluarkan isu baru sebagai pengalih. Warga dibuat tak berjeda untuk fokus menilai programnya. Mereka dibuat tak berkesempatan berpikir secara nalar.
Sederet proyek Dul Kemit yang gagal dan tidak dipertanggungjawabkan mulai dari mengirim warga ke luar negeri, yang dikirim hanya anaknya. Tanam durian, hilang durian hilang uangnya. Pelihara sapi, sapi habis tak jelas, ujungnya dulu milik yayasan menjadi milik pribadi. Program impor sapi, sapinya mati, keuntungan ia nikmati. Dan masih banyak lagi.
Agar warga tak sempat berpikir tentang program yang gagal, ia gulirkan program baru yang lebih spektakuler. Gagal program impor sapi, ia gulirkan program BAMMAS, Bawang Memabangun Masjid. Bawangnya mati, uang tak kembali. Sebagai alibi, kemudian ia ubah menjadi Bawa Masyarakat Menuju Sejahtera.
Selanjutnya, gagal program bammas, dimunculkan lagi program menyelesaikan menara. Menara yang sudah didesign begitu rupa, di tengah pengerjaan, ia tambah tingginya melebihi kapasitas. Akibatnya menara miring, sehingga mandeg pembangunannya.
JANGAN ADA CELAH. Bukan Dul Kemit kalau tidak ada ide baru. Gagal merampungkan pembangunan menara, ia keluarkan lagi ide lain. Yaitu membangun danau dan taman masjid yang diberi nama, DANAU AIR, TAMAN KEMBANG EMAS.
Warga pesantren kembali dihipnosis oleh sang hipnotis verbal dan dimobilisasi untuk mengumpulkan dana. Per orang ditarget untuk membayar dengan kurs atau seharga satu pot. Berapa pot kesanggupan warga untuk berdonasi.
Beda dengan program bammas yang ketika itu kurs yang dipakai adalah karung. Usai sosialisasi, gayanya Dul Kemit mengeluarkan kalkulator, kemudian tak tik tuk, mengitung-itung. Awalnya per orang ditarget 100 -200 karung. Namun dalam perjalanan, target berubah, naik menjadi 300 karung. Kemudian dengan retorika hipnosisnya, target berubah lagi menjadi ribuan karung.
Jadi berapa karung yang disanggupi oleh para donatur, bammaser, itulah yang harus dibayar. Kalau tidak salah, per karung dihargakan Rp22.000,- Misalnya, sanggupnya 1000 karung maka donatur harus bayar donasi sejumlah Rp22.000.000,-
Agar tampak tidak memaksa, mereka diminta menulis kesanggupan, berapa karung atau pot yang ia sanggupi. Namun kenyataannya, target kesanggupan sudah ditunaikan atau sudah terpenuhi masih saja diminta untuk menambah. Mereka diledek dan didesak terus agar mau menambah.
Wal hasil, sekalipun hampir semua program yang ia canangkan GATOT, GAGAL TOTAL, warga pesantren masih saja mengagumi dan membelanya. Banyak, yang secara sengaja atau tidak, mengutarakan statemen apologi. “Lebih baik pernah mencoba meskipun gagal dari pada tidak sama sekali.” Ada lagi yang berkomentar lain. “Tomas Edison itu mengalami seribu kali kegagalan sebelum mencapai kesuksesan.”
Ucapan-ucapan tersebut seolah menjadi pembenaran atas kegagalan program, yang secara implisit memberi keleluasaan kepada Dul Kemit untuk mengulangi kegagalan demi kegagalan berikutnya.
Begitulah cara Dul Kemit mengendalikan isu. Kelihaian Dul Kemit meramu orasi IDE BARU sebagai PENGALIH ISU yang hipnosis mampu membuat warga MEMBISU.

Sumber : Klik di sini

DUL KEMIT THE SERIES 44

DUL KEMIT THE SERIES 44
Jeritan Hati Guru 2; Bagai Makan Buah Simalakama
Oleh : Arif Yosodipuro



Manajemen kumaha aing, arogan, kaku, dan beku yang diterapkan Dul Kemit membuat hati civitas akademika pesantren ketakutan. Hari-hari mereka dihadapkan kepada suasana yang mencekam, seram dan mencengangkan.
Hal ini membuat mereka tak berkutik. Hati selalu was-was. “Jangan-jangan kena marah. Jangan-jangan kena semprot. Jangan-jangan kena omel. Jangan-jangan Dul Kemit melotot,” dan sederet “jangan-jangan” serta kekhawatiran lainnya yang menghantui perasaan mereka sebelum dan ketika bertemu dengan Dul Kemit.
Demi mempertahankan diri tetap berada di pesantren, mereka, termasuk guru, harus menyembunyikan perasaan tersebut sambil menjalankan tugas dengan beban tidak tenang dan khouf. Warga tidak ada keleluasaan dalam berbuat. Semuanya harus bersumber dan sepengetahuaan Dul Kemit sekalipun hal teknis yang remeh temeh.
Kekakuan manajemen Dul Kemit ini membuat para guru dilematis. Mereka selalu berbenturan dengan dua hal yang berbeda, menghadapi banyak masalah. Di satu sisi, mereka harus tunduk patuh kepada Dul Kemit, dan di sisi lain mereka juga harus menampung aspirasi santri dan wali santri.
Banyak hal yang membuat guru harus mengelus dada karena kebijakan Dul Kemit. Misalnya, sesuai dengan hasil litbang, telah ditetapkan bahwa inventaris asrama yang rusak karena pemakaian, perbaikan atau penggantiannya ditanggung oleh penghuni asrama, alias santri. Seperti lampu, kran air, dll. Realitanya, santri sudah membayar namun kerusakan belum juga diperbaiki padahal urgen.
Selanjutnya santri komplain ke guru yang sedang piket di asrama. Lalu Guru bertanya kepada petugas atau karyawan yang membidanginya. Kata karyawan dana atau barang pengganti belum ada dari yayasan. Sementara pengurus asrama (guru) tidak boleh menarik iuran.
Karena setiap ajuan perbaikan dan penggantian yang diajukan tidak segera ditindaklanjuti, maka pengurus asrama berinisiatif mengajak anak-anak menabung untuk mengatasi perbaikan dan penggantian inventaris asrama, khusunya kamar masing-masing. Besarnya Rp40.000 per anak untuk setahun. Tapi, karena keputusan ini bukan dari Dul Kemit maka tindakan tersebut dicap sebagai tindakan korupsi dan pungli.
Dalam hal kegiatan keagamaan, lembaga bina qiraat dan tahfidh qur’an yang diberi kewenangan untuk membina santri, tidak boleh mengadakan lomba qiraat dan tahfidh qur’an. Padahal ini sebagai kreasi dan inisiasi bagian dari bentuk pembinaan sebagai perangsang. Secara psikologi, tentu hal ini membungkam daya kreasi, inovasi dan motivasi. Sementara mereka dituntut untuk kerja maksimal dan hasil yang optimal.
Belum lagi permasalahan santri sekembalinya ke kampus setelah libur semester harus melunasi tagihan. Mereka yang belum lunas, tidak boleh masuk pesantren. Sungguh pemandangan yang menyayat hati dan mengiris-iris jiwa selaku pendidik.
Bagaimana tidak, mereka terkatung-katung, terlantung-lantung, berkeliaran di sekitar pesantren menunggu orangtua masing-masing mencari uang untuk pelunasan. Ada pula yang menumpang di rumah sahabat mereka. Bahkan pembelajaran sudah berjalan satu bulan pun belum diizinkan masuk. Padahal pesantren juga menerima bantuan dari pemerintah untuk mereka yang tidak mampu.
IRONIS memang. Yang karyawan bertungkus lumus mendedikasikan diri kepada pesantren, yang donatur memberikan donasinya. Ibaratnya, yang karyawan DIPERAS TENAGANYA dan yang donatur DIPERAS DUITNYA. Namun, anak mereka tidak bisa masuk karena belum bisa melunasi tagihan.
Kebijakan lain yang membikin kepala guru nyut-nyutan adalah perizinan dan libur sekolah. Perizinan sering dilanggar oleh cucu-cicitnya sendiri. Pernah libur sekolah diperpanjang karena cucunya masih berlibur di luar negeri. Agar terkesan cucunya tidak terlambat, maka libur ditambah harinya alias diperpanjang.
Masih tentang libur sekolah, berdasarkan konsultasi dan ajuan Badan Musyawarah Guru, libur sekolah ditetapkan mulai tanggal sekian sampai sekian. Kemudian ketetapan itu disampaikan kepada santri dan wali santri. Namun karena sesuatu hal dan kepentingan, libur sekolah yang sudah ditetapkan itu berubah di tengah jalan.
Padahal, wali santri dari luar daerah, luar pulau, dan luar negeri sudah memesan (booking) tiket. Otomatis, mau nggak mau, mereka harus membatalkan. Tak jarang mereka gigit jari karena tiket hangus. Belum lagi mereka harus mere-schedule izin ke atasan/ pimpinan bagi mereka yang bekerja. Kalender pendidikan yang dicetak besar-besar seolah hanya pajangan dan hiasan dinding belaka.
Sungguh sangat dilematis bagi guru menghadapi hal yang demikian. Tak jarang guru menjadi bamper, mendapat dampratan, umpatan dan cacian dari wali santri sebagai luapan kekesalan mereka dari kebijakan Dul Kemit. Guru tak bisa berbuat banyak kecuali mendengarkan. Dan kalau marah mereka sudah reda, mereka hanya bilang, “Maaf Bu/ Pak, kami hanya menjalankan tugas. Ini sudah menjadi keputusan kyai Dul Kemit.”
Keputusan yang semaunya sendiri itu membuat guru harus memutar otak untuk menyiasatinya agar tidak kena damprat dan umpatannya. Memang, bagai MAKAN BUAH SIMALAKAMA.

Sumber : Klik di sini