Tuesday, May 29, 2018

DUL KEMIT THE SERIES 66

DUL KEMIT THE SERIES 66
Dul Kemit Bersalah, Argumennya Terbantah (2)
Oleh : Arif Yosodipuro



Proses hukum terus menggeliat. Kemenangan sudah dekat, tinggal melewati beberapa saat. Walau halangan terus mencegat, namun semangat tak surut bahkan terus meningkat. Tahap demi tahap dilalui dengan selamat.
Mendengar informasi kasus guru dibawa ke PHI, Dul Kemit mulai gelisah dan gundah. Sungguh sesuatu yang tidak diduga. Bagaimana ini bisa terjadi menjadi pertanyaan besar bagi Dul Kemit. Pasalnya ia sudah mendekati mediator.
Namun tidak dibilang Dul Kemit kalau kurang akal. Upaya penghambatan tak lantas berhenti. Kelicikan dan kecurangan dalam bermain hukum seolah sudah menjadi nasi dan sayur baginya. Kali ini ia mencoba menerapkan psychological shock atau psychological terror.
Bagi Dul Kemit, pengadilan adalah permainan. Tak ada yang perlu dicanggungkan. Yang penting bagaimana ia bisa memenangkan dalam percaturan hukum. Pada sidang pertama yang dijadwalkan, kuasa hukumnya datang terlambat. Sehingga sidang terpaksa ditunda Senin berikutnya.
Dengan begitu, mental guru (penggugat) akan down dan semangatnya berkurang. Selain itu ia juga memprediksi kalau sidang diundur-undur, pihak guru akan mengeluarkan banyak dana. Sehingga, mereka akan kehabisan dan tidak meneruskan tuntutannya.
“Lho Kang katanya disiplin…?” Potong kang Ujang lugas. “Kok terlambat. Gembar-gembornya aja sedang membangun peradaban, Kang.” Kang Encep tak merespon komen rekannya. Ia asyik melanjutkan ceritanya.
Pada sidang berikutnya, kuasa hukum Dul Kemit minta waktu tiga minggu untuk menyusun EKSEPSI. Namun, oleh hakim diberi waktu dua minggu.
“Eksepsi itu apa sih Kang?” Tanya kang Ujang polos.
“Gampangnya, sanggahan atas gugutan,” jelas kang Encep ringkas padat.
“Kalau minta waktu yang lama berarti kuasa hukum tidak siap?” Komen kang Ujang menganalisis.
“Bukan gak siap, Kang,” respon kang Encep cepat. “Karena MEMANG BERSALAH, sehingga kesulitan mencari bukti untuk mendukung argumen eksepsinya. Bahkan tak punyak bukti. Hanya mengada-ada. Atau, dipaksa ada.”
***
Proses sidang terus berjalan. Guru-guru tetap sabar dan semangat walau Dul Kemit LICIK dan CURANG. Setelah eksepsi tergugat diserahkan kepada majelis hakim, selanjutnya giliran kuasa hukum guru (penggugat), menanggapi eksepsi tergugat atau replik.
Dengan sigap dan cekatan, kuasa hukum guru menyelesaikan sesuai dengan waktu yang hakim berikan. Sidang selanjutnya giliran kuasa hukum Dul Kemit menyampaikan duplik. Kembali mereka tidak siap. Mereka tidak hadir pada waktu yang sudah dijaddwalkan. Lagi-lagi, guru diuji kesabarannya.
Pada pekan berikutnya, barulah mereka menyampaikan duplik kepada majelis hakim. Dalam dupliknya, mereka menyebutkan bahwa guru itu adalah RELAWAN, seperti halnya marbot masjid. Kemudian tiga unsur terjadinya hubungan kerja semuanya Tuhan. Pemberi perintah, pekerjaan, dan imbalan semuanya dari Tuhan.
Di dunia pendidikan mana pun tidak ada guru tetap yayasan (ada SK-nya) yang bersertifikasi dibilang relawan sederajat dengan MARBOT kecuali di pesantren Dul Kemit hanya karena akal licik untuk menghindari delik hukum.
“Berarti itu pelecehan donk Kang?” tukas kang Ujang gemas.
Sebagai upaya penggagalan, kuasa hukum Dul Kemit mengajukan putusan sela. Mereka masih mencari celah PHI gagal.
Detik-detik penantian keputusan sela yang akan dibacakan oleh hakim ketua membuat kedua kubu dag dig dug. Wajah-wajah tegang tak tenang menanti kepastian. Frekwensi denyut jantung mencepat sampai-sampai gemeteran.
Ketegangan secara perlahan mulai menenang saat majelis hakim membacakan keputusan sela. Belum selesai pembacaan, suasana berubah. Guru-guru ceria. Eksepsi Dul Kemit ditolak dan ajuan PHI dikabulkan.
“Wah pukulan telak, Kang,” komen kang Ujang sambil berhamdalah dalam hati. “Kalau demikian, Penggugat menang, apa tergugat kalah, Kang?”
“Bisaan Kang Ujang,” sahut kang Encep sambil meringis. “Kaya final Champion Madrid v.s Liverpool. Ya KEOKLAH, 12:0. Dua belas untuk guru dan NOL untuk Dul Kemit.”
***
Sumber : Klik di sini

DUL KEMIT THE SERIES 65

DUL KEMIT THE SERIES 65
Karena Bersalah, Argumen Dul Kemit Terbantah (1)
Oleh : Arfi Yosodipuro



Bola panas perseteruan Dul Kemit dengan ratusan guru terus menggelinding. Puncaknya, guru-guru berhasil membawa penyelesaian kasus ke PHI, Pengadilan Hubungan Industrial. Suatu penyelesaian yang sangat tidak diinginkan oleh Dul Kemit.
Sejak awal, Dul Kemit tidak ingin perseturuannya sampai ke PHI. Dia berusaha menghindar. Dalihnya, masalah ini adalah masalah internal yayasan, bukan ranah ketenagakerjaan. Maka, harus diselesaikan sesuai dengan aturan yayasan.
Sebab itu ia tidak mau datang pada bipartit pertemuan kedua dan juga tripartit. Dengan absen pada pertemuan yang dimediatori oleh Dinas Tenaga Kerja kabupaten, dia pikir tidak ada alasan untuk membawa kasus ke PHI.
“Kita harus berusaha sedapat mungkin kasus ini jangan sampai dibawa ke PHI,” kata Dul Kemit mewanti-wanti orang dekat dan kuasa hukumnya. “Kalau sampai ke PHI, habislah kita.” Lanjutnya menyemangati apologatif.
Mulanya Dul Kemit meremehkan guru. Ia beranggapan bahwa guru-guru tidak akan bisa meneruskan perkaranya pada tingkat pengadilan. Dalam benaknya guru-guru tak mungkin bisa melawannya. Dia merasa paling kuat, paling berkuasa, paling hebat, dan paling super.
“Paling-paling nanti juga akan kembali dan merengek minta diterima,” ocehnya bangga kepada orang dekatnya dan koordinator donatur.
Apalagi pendekatannya kepada pihak Disnaker, khususnya kepada ketua mediator, tampak berhasil. Ketua mediator tidak mau mengeluarkan risalah mediasi. Dul Kemit sudah di atas angin. Dia yakin seyakin-yakinnya bahwa usahanya berhasil dan kasusnya tidak sampai ke PHI karena tidak ada risalah mediasi.
Anggapan itu salah. Guru-guru gigih. Mereka bersatu padu. Satu langkah, satu tekad, satu tujuan, LAWAN KEDHOLIMAN. Dengan semangat yang menggelora dibarengi dengan doa kepada Allah, mereka terus mencari keadilan.
Guru-guru bersama kuasa hukumnya mendesak pihak disnaker agar mengeluarkan risalah mediasi. Entah apa alasannya, ketua mediator enggan untuk mengeluarkan surat tersebut. Enam bulan berlalu, risalah mediasi tak kunjung diterima.
Guru tidak menyerah begitu saja. Mereka tetap bersikukuh, bahkan berargumen keras kepada ketua mediator. Kenapa? Karena mediator tidak melaksanakan kewajibannya sesuai Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi no. 17 tahun 2014, pasal 9.
Dalam Permen disebutkan bahwa “Mediator dalam penyelesaian hubungan industrial mempunyai kewajiban: f. Membuat Risalah penyelesaian hubungan industrial.” Hal ini sangat esensial karena Risalah penyelesaian hubungan industrial adalah salah satu tiket untuk mendaftar di PHI.
Alhamdulillah, sekalipun alot, akhirnya pihak mediator bersedia mengeluarkan risalah mediasi. Usai memberikan risalah, ketua mediator langsung ngacir, ngibrit meninggalkan guru-guru dan kuasa hukum, entah ke mana.
Rupanya, ada yang tidak beres. Pokok masalah diubah. Semula tentang putusan hubungan kerja, menjadi PENGUSIRAN. Aneh kan…? Lagi-lagi, guru-guru harus berjibaku untuk mendapatkan risalah mediasi dengan pokok masalah hubungan industrial.
Semangat mereka tak surut. Mereka lantas mencari ketua mediasi namun tak tampak diri. Tak pata arang. Yakin pada pihak yang benar, mereka lalu berkordinasi dengan tim mediator yang lain agar risalah diperbaiki.
Dengan ulet, penuh semangat, dan argumen yang logis, akhirnya pihak disnaker, anggota mediator, bersedia memperbaiki risalah dengan pokok masalah Pemutusan Hubungan Kerja.
"Alhamdulillah, Kang," sela kang Ujang ikut senang.
Berbekal dengan risalah ini kemudian guru-guru mengajukan guguatan pemecatan sepihak yang dilakukan oleh Dul Kemit ke PHI. Atas pertolongan dan karunia Allah, gugatan pun diterima oleh pengadilan dan diproses secara hukum.
“Gagal donk, Kang, upaya Dul Kemit menghambat PHI?” sahut kang Ujang spontan dengan suara keras.
“Begitulah Kang,” kata kang Encep mengiyakan gemas. “Orang salah, apa pun argumennya pasti akan terbantah.”
***
Sumber : Klik di sini

DUL KEMIT THE SERIES 64

DUL KEMIT THE SERIES 64
Setoran Berkurang, Dul Kemit Meradang
Oleh : Arif Yosodipuro



Satu dasawarsa belakangan, komunitas pesantren mengurang. Jumlah karyawan dari tiga ribuan menjadi sembilan ratusan. Sangat drastis. Mereka keluar dengan berbagai alasan. Namun, alasan yang dominan adalah manajemen dan kepemimpinan Dul Kemit.
Belasan tahun mengabdi tidak ada perkembangan. Upah statis, tak pernah ada kenaikan. Ada karyawan yang home pay-nya hanya tinggal Rp6.000,-. Anak mereka banyak. Rumah masih banyak yang mengontrak. Dul Kemit seolah tutup mata, tutup telinga.
Bila ada karyawan atau civitas lainnya mengundurkan diri, mereka dibilang kaslan, sudah tidak sepaham atau tidak sealiran. Tak ada evaluasi mengapa dan mengapa. Yang ada hanya penyalahan. Mereka yang keluar dicap, dilabeli, diredlist, garis merah.
Dul Kemit selalu benar. Tak pernah salah. Apa pun yang ia lakukan selalu benar. Seolah resistan koreksi dan evaluasi. Dul Kemit tidak pernah membahas kenapa banyak karyawan yang mengundurkan diri.
Ia tidak pernah melihat kondisi karyawan yang hidupnya serba kekurangan. Tidak pernah ada pembahasan peningkatan kesejahteraan karyawan. Apa yang sudah diberikan, dianggapnya cukup. Sampai-sampai ada anak karyawan terkena penyakit kekurangan gizi hingga meninggal. Itu pun Dul Kemit tidak bereaksi.
Paralel dengan karyawan, donatur pun demikian. Puluhan ribu donatur menghilang dari peredaran. Bisa jadi mereka tinggal seribu dua ribuan atau bahkan ratusan orang. Mereka hanya dimintai sumbangan. Tidak ada timbal baliknya.
Padahal ayatnya jelas. Air dari langit turun ke bumi, kemudian menghidupkan tumbuh-tumbuhan. Lalu evaporasi ke langit kembali. Di langit sedemikian rupa diproses untuk diturunkan lagi ke bumi. Begitu siklus ekonomi dalam manajemen ilahiyah. Lhah ini donatur hanya dimintai uangnya saja.
Dengan berkurangnya jumlah anggota donatur, otomatis jumlah setoran yang diterima Dul Kemit pun berkurang. Terlebih setelah mencuatnya kasus perseteruannya dengan ratusan guru yang ia depak dan pecat secara sepihak.
Banyak donatur yang tak lagi simpati kepada Dul Kemit dan berhenti memberikan donasinya. Berbagai informasi dari guru yang gencar di medsos dapat membuka mata para donatur dan menyadarkan mereka bahwa selama ini hanyalah dijadikan orang perahan alias sapi perah. Hanya diambil uangnya saja.
Donasi dari donatur menjadi andalan pemasukan biaya operasional. Karena itu tahu setoran dari koordinator BERKURANG, Dul Kemit MERADANG. Ia panggil mereka dan dikumpulkan di singgasananya.
Bukan untuk diberi hadiah atau bonus sebagai apresiasi kinerja mereka, tapi untuk didamprat, dipelototi, dihujat, dihardik, dimarah-marahi karena target tidak terpenuhi. Mendapat hardikan, para koordinator hanya bisa diam membisu sambil menunduk, mendengarkan sang juragan melampiaskan kemarahan.
“Lho Kang, kok mau maunya?” Celetuk kang Ujang. “Katanya banyak usaha super intensif. Punya pabrik ini, pabrik itu. Kok masih menggantungkan donasi?”
“Ya itu semua hanya pencitraan, Kang. Biar bisa ngeruk uang dari donatur,” sahut kang Encep blak-blakan. “Realitanya gagal total. Gak ada yang menghasilkan. Kalaulah ada, ya masuk rekening Dul Kemit.”
***
Sumber : Klik di sini

DUL KEMIT THE SERIES 63

DUL KEMIT THE SERIES 63
Maunya Memblokir, Ujungnya Diusir
Oleh : Arif Yosodipuro



Upaya guru dalam mencari keadilan terus melaju. Halang rintang yang menghadang terus diterjang. Tak takut karena dipecut dan tak mundur karena digempur. Langkahnya tegap. Lenggangnya mantab. Bicaranya lantang sebagai pejuang.
Melihat semangat dan kekompakan para guru, Dul Kemit was-was. Hatinya tak tenang. Terlebih setelah saksi dari guru memberikan kesaksian dalam persidangan PHI, Pengadilan Hubungan Industrial. Dul Kemit ditelanjangi. Mukanya bagai ditampol kotoran sapi.
Semua kejahatan, kesombongan, dan kearoganan Dul Kemit dibongkar oleh saksi baik dalam persidangan maupun dalam wawancara dengan media. Semua duplik yang diajukan oleh kuasa hukum Dul Kemit terbantahkan oleh keterangan saksi yang bicaranya ceplas-ceplos, jujur apa adanya dalam menjawab pertanyaan.
Mendengar laporan yang tidak mengenakkan, Dul Kemit tak mau kalah. Ia susun rencana licik dan show of force. Ia ingin tunjukkan bahwa ia mempunyai kekuatan dan pendukung. Tahu saksi dari guru 4 orang, ia hadirkan 12 orang.
Dengan saksi yang lebih banyak ini, Dul Kemit berharap bisa menandingi saksi dari guru. Maklum, masih banyak orang-orang yang bisa ia tipu dan ia mobilisasi. Tak tanggung-tanggung, saksi yang dihadirkan dari semua elemen pesantren.
Tak hanya di situ. Dul Kemit ingin mengulang kesuksesan menghadang guru-guru tidak bisa masuk ke pesantren. Maka disusunlah rencana licik. Ia panggil kordinator donatur. Kemudian, ia mengadakan pertemuan bersama kuasa hukumnya.
“Saudara-saudara,” kata Dul Kemit mengawali arahannya, “besok Senin depan giliran kita menghadirkan saksi. Kita harus perketat. Jangan sampai saksi kita bersinggungan atau bertemu dengan guru-guru (penggugat). Jangan berkomunikasi dengan mereka. Jabat tangan juga tidak.”
Kordinator dan kuasa hukum terkesima mendengarkan arahan ekstrim Dul Kemit. “Ente, koordinator,” kata Dul Kemit melanjutkan arahannya. “Siapkan orang sebanyak-banyaknya. Hadirkan mereka ke pengadilan.” Dul Kemit menghela nafas sejenak.
“Sampaikan kepada mereka, jangan berkomumikasi dengan guru-guru. Kalau salam gak usah dijawab. Diajak berjabat tangan, jangan mau. Diajak bicara, gak usah direspon. Pokoknya diamkan saja. Kemudian datang lebih awal. Tutup lokasi persidangan. Kita kuasai. Jangan kasih mereka tempat. Kita blokir.” Kata Dul Kemit serius, mewanti-wanti.
Tunduk pada perintah sang sinuhun prabu Dul Kemit, koordinator langsung berkoordinasi dengan anggotanya. Ia mendata siapa yang akan dikirim ke lokasi pemblokiran. Setelah kordinasi terkumpullah ratusan nama yang siap untuk unjuk kesombongan.
Tepat pada hari H persidangan, ratusan orang suruhan Dul Kemit datang lebih awal. Mereka langsung menguasai beberapa titik lokasi pengadilan. Di antaranya, tempat parkir, halaman dan teras pintu masuk ruang sidang.
Mereka berbaris rapat tanpa bicara, tanpa kata sesuai dengan arahan dan instruksi sang juragan, Dul Kemit. Guru salam tidak dijawab. Diajak salaman tidak mau, tangan disembunyikan. Dipanggil nanamya, menghindar. Mereka telah dikunci mati mulut, pendengaran, dan hatinya. Pokoknya seperti mumi hidup.
Mereka bagai robot yang dipajang di etalase mainan anak-anak, memblokade, memblokir pintu masuk ruang sidang. Tidak ada celah sedikit pun untuk orang lain bisa masuk. Sampai-sampai seorang ibu dari keluarga guru mau masuk saja tidak bisa dan tersirat pesan tidak boleh.
Merasa dihadang dan haknya dilanggar, sang ibu langsung lapor kepada keamanan pengadilan. Pihak keamanan respon dan sigap. Ia langsung mendatangi gerombolan preman penghadang dan mengusirnya.
"Bapak-bapak, kenapa jalan ditutup?" Tanya petugas keamanan dengan sopan namun tegas. "Buka akses untuk jalan. Ini jalan masuk...Tolong bapak buka, jangan ditutup. Beri yang lain untuk lewat,” lanjutnya dengan ramah penuh keakraban. Mereka pun tak bisa berbuat banyak. Tanpa kata, mereka berpindah, berhamburan, membubarkan diri dari pemblokiran.
“Oh gitu ya kang kelakuannya?” Celetuk kang Ujang heran. “Kenapa pakai blokir segala. Memangnya pengadilan milik majikannya?”
“Ya begitulah, kang Ujang ulah Dul Kemit dan orang suruhannya. Sok, sokan,” sahut kang Encep kesal, tak habis pikir. “Dianggap tempatnya sendiri kali. Sehingga bisa berbuat semaunya.”
“Jadi malu donk.” Sambung kang Ujang merespon komentar rekannya. “MAUNYA MEMBLOKIR, UJUNGNYA DIUSIR.”
***
Sumber : Klik di sini

DUL KEMIT THE SERIES 62

DUL KEMIT THE SERIES 62
Misteri Dolar Seharga 37 Milyar (4)
Oleh : Arif Yosodipuro



Entah ini skenario atau modus. PENGURASAN dana segar yayasan terus menggurat. Usai kunjungan wakil presiden, ada kabar bahwa pesantren Dul Kemit akan mendapat bantuan dari WAKIL PRESIDEN.
Suatu ketika Dul Kemit sedang mengadakan pertemuan rutin dengan civitas akademika pesantren; guru, karywan dan eksponen, yang ia namakan BA’DIYAH JUM’AT. Suasana pertemuan yang hidmad dan hening itu terusik oleh gerakan pintu yang terbuka.
Beberapa hadirin menoleh dan ada yang sekadar melirik. Seorang petugas keamanan berseragam putih biru dengan sopan memasuki ruang pertemuan menenteng telepon wireless. Dari jauh tampak sedikit kaku. Karena tugas, ia pun memberanikan diri untuk mendekati Dul Kemit.
“Ada apa le?” sapa Dul Kemit dengan lugat jawa timuran yang kental.
“Ada telepon dari pak Ayyub,” kata petugas keamanan seraya menyerahkan gagang telepon kepada Dul Kemit. Lalu terjadilah dialog yang disaksikan oleh ratusan hadirin.
“Ini orang pak Wakil Presiden mau bicara,” kata Ayyub dalam percakapannya.
“Oh, iya?” Jawab Dul Kemit dengan ceria. “Mana?” Ayyub berhenti bercakap dan seolah memberikan telepon kepada yang katanya orang pak Wakil Presiden.
“Halo, Kyai,” sapa suara yang berbeda dengan Ayyub. “Saya Amung, orang suruhan pak Wapres, mau menyampaikan bahwa pak Wapres akan memberi bantuan kepada pesantren Kyai.” Lanjut orang yang mengaku suruhan wapres memberi tahu.
“Oh iya?” Tanya Dul Kemit girang. Setelah bicara ini dan itu, dialog selesai. Dengan bangga dan riang, Dul Kemit lalu memberi tahu hadirin perihal pembicaraannya dengan orang yang mengaku suruhan Wapres. “Alhamdulillah,” kata Dul Kemit dengan wajah ceria. “Pak Wapres akan memberi bantuan.”
Meyakinkan memang. Pembicaraan yang disaksikan peserta pertemuan menguatkan dan menambah keyakinan. Beberapa hari kemudian Dul Kemit menerima telepon kembali dari orang yang mengaku suruhan wapres.
Pokok pembicaraannya agar bantuan wapres segera turun, Dul Kemit diminta mentransfer uang sebesar 2 milyar (DUA MILYAR). Besar harapan segera turun, permintaan pun dikabulkan. Atas perintah Dul Kemi, maka ditransferlah 2 milyar ke rekening orang yang mengaku suruhan wapres oleh Safrulloh.
***
Untuk memastikan kebenaran bantuan yang akan diterima, Dul Kemit dan beberapa pengurus mendatangi kediaman Wapres. Dul Kemit menjelaskan bahwa orang suruhan Wapres minta ditransfer dana sebesar 2 MILYAR agar bantuan wapres segera turun.
Mendapat kabar tersebut, Wapres bingung. Ia mengakui memang Amung itu orang dekatnya. Tetapi ia tidak yakin kalau Amung melakukan hal tersebut. Oleh karena itu, Wapres kemudian memanggil Kapolda.
Pak Kapolda datang bersama Kareskrim. Berceritalah Dul Kemit dan eksponen yang ikut bersamanya tentang kronologi kejadian. Mereka menjelaskan siapa yang berkomunikasi dan siapa yang mentransfer dana.
Di tengah mendengarkan dengan seksama informasi yang disampaikan oleh Abdul Salim dan Safrulloh, Kapolda menduga bahwa itu penipuan. “Wah penipuan ini,” Komentar Kaporlda. Ia kemudian meminta anak buahnya untuk mengecek rekening pengiriman uang.
Setelah dicek, anak buah Kapolda menyebutkan bahwa ini penipuan. “Penipuan ini, Komandan,” kata anak buah Kapolda memberi tahu kepadanya. Kapolda lalu memberi tahu Wapres dan rombongan Dul Kemit. “Benar, Pak. Penipuan ini.”
Walhasil, yang katanya dana segar di akun yayasan itu habis TERKURAS TIDAK TERSISA.
Kemudian, Kapolda menyarankan untuk melaporkan kejadian ke Polda. Mengikuti saran Kapolda, Syafrulloh dan Abdul Salim berangkat ke Polda untuk di-BAP. Sedangkan Dul Kemit dan Suprayitno meluncur ke rumah adik Dul Kemit.
Anehnya…, Dul Kemit adem ayem sampai saat ini, seolah ia membiarkan berlalu begitu saja. Tak ada upaya mendesak atau memonitor sampai di mana perkembangan laporannya. Padahal 2 MILYAR hilang ke semak belukar yang tak jelas batang dan akarnya.
***
Yang mengherankan lagi, belakangan diketahui adik kandung Dul Kemit, Ayyub, membeli rumah di perumahan elit super mewah yang ada kolam renangnya di BSD. Pintu gerbang saja buka tutupnya pakai remot. Ia juga membeli banyak apartemen dan hotel.
Padahal Ayyub saat itu tidak memiliki pekerjaan tetap. Yang tampak adalah jualan kaset CD. Kadang juga jualan jam rolex dan sepatu Nike KW yang pangsa pasarnya warga pesantren.
“Jangan-jangan uang kita yang buat membeli ini?” celoteh eksponen yang pernah datang ke rumah Ayyub mencoba menyimpulkan.
Tak tahan penasaran, kang Ujang pun langsung menceletuk, “Jangan-jangan orang yang mengaku suruhan Wapres tadi adalah suara adik Dul Kemit, Ayyub, yang disamarkan, Kang?”
“Bisa jadi, Kang,” sambung kang Encep mengiyakan prediksi sahabat dekatnya. “Bisa jadi semua ini adalah skenario Dul Kemit dan adiknya. Mereka berdua kong kalingkong, mbal ngedumbal, hong ngebohong.” Kang Encep mengedipkan mata menahan emosi kekesalannya.
“Dengar-dengar sekarang Dul Kemit sedang berseteru dengan Ayub, adiknya.” Lanjut kang Encep meneruskan ceritanya. “Nggak tegur sapa. Mungkin ketika Dul Kemit menanyakan bagiannya dana sudah dihabiskan adiknya.”
“O… gitu ya kang?”
-
“Berdasarkan indikasi yang ada, iya.” Kang Encep mengingat-ingat dan mengait-ngaitkan kejadian. “Karena gak kebagian, makanya sekarang Dul Kemit membabi buta merampok dana yayasan dengan berbagai cara yang ia kemas seolah tampak legal.”
Sekarang kehidupan Ayyub jauh lebih sejahtera dibanding sebelum bergabung dengan pesantren, sekalipun sekarang tidak harmonis.
***
SUmber : Klik di sini

DUL KEMIT THE SERIES 61

DUL KEMIT THE SERIES 61
Misteri Dolar Seharga 37 Milyar (3)
Oleh : Arif Yosodipuro



TIGA PULUH MILYAR lepas dari genggaman, hilang dari pandangan, dan berpindah dari akun yayasan. Tak ada kabar dari seberang terkait dengan dana yang sudah diserahkan. Harapan terus mengawang dalam kegamangan.
Detak jantung mendebar dahsat, sedahsat dentuman musik goyang di sebuah bar. Hati cemas tak terbatas bisa membuat tubuh melemas. Dul Kemit dan koleganya tak bisa bernafas bebas. Tak sabar dalam kejemuan menunggu kabar.
Sekian bulan berlalu, berita kedatangan mesin pencair belum jelas rimbanya. Apalagi dolar hitam yang sudah dicairkan zat pelapisnya, terhempas ke semak belukar yang tak jelas batang dan akar. Justru Dul Kemit dimintai tambahan dolar.
Jumlahnya cukup menggempar. Dengan berbagai dalih, penelepon minta Dul Kemit menyediakan 2 M (DUA MILYAR) agar dolar bisa segera dicairkan. Walhasil, ibaratnya sudah telanjur basah, permintaan pun dipenuhi tanpa melalui diskusi. DUA MILYAR pindah buku lagi dari akun yayasan ke akun penelepon.
Namun, entah apa yang terjadi. Dana yang Dul Kemit keluarkan belum cukup untuk bisa mendapatkan dolar, yang katanya, sumbangan itu. Katanya Mesin pencair yang sudah dibeli itu tak bisa dibawa. Dan untuk bisa dibawa, lagi-lagi Dul Kemit harus menyediakan dana sebesar Rp850.000.000.
“Lho kok bisa, Kang?” kata kang Ujang reflek, memotong cerita. “Kan sudah dibeli, kok tidak bisa dibawa. A n e h…?!”
“Ya gitulah Kang,” kata kang Encep apatis.
Kali ini tak langsung dipenuhi. Koleganya ada yang berani menyanggah. Dul Kemit mendapat masukan. “Lho kyai, kok nggak bisa?” Kata seorang pengurus mengingatkan. “Kan mesin sudah kita bayar.” Kata Safrulloh menyampaikan alasan.
“Ya itu untuk bisa dibawa, kita harus siapkan dana Rp850.000.000,-.” Bantah Dul Kemit menguatkan.
“Jangan-jangan nggak beres ini? Sebaiknya tidak usah dituruti.” Lanjut Safrulloh menolak.
“Kita sudah telanjur mengeluarkan banyak. Jangan sampai uang yang sudah kita keluarkan itu hilang sia-sia karena kita tidak memenuhi yang ini.” Sanggah Dul Kemit menanggapi masukan dari koleganya.
Sang kolega tak mau berdebat. Ia memilih diam dan membiarkan Dul Kemit mengambil keputusan. Dul Kemit menyuruh H. Sarbini untuk mentransfer dana sejumlah yang diminta. DELAPAN RATUS LIMA PULUH JUTA kembali ditransfer ke rekening penelepon.
Selesaikah? Belum. Drama pengurasan dana yayasan kembali menayang. Bendahara yayasan dikagetkan dengan pendebetan 2 M (DUA MILYAR) tanpa sepengetahuan pengurus lainnya. Usut punya usut, ternyata pendebetan tersebut atas permintaan adik Dul kemit, Ayyub, yang katanya untuk pembelian batubara di Kalimantan.
“Lho kok bisa, Kang?” Kang Ujang kembali memotong cerita kang Encep karena tak kuasa menahan rasa keponya. “Memangnya dia pengurus, kok bisa memerintahkan untuk mendebet?”
“Sepertinya tidak Kang,” sanggah kang Encep menafikan Ayyub sebagai pengurus. “Karena adik Dul Kemit kali.”
“Bisa-bisanya ya, bukan pengurus kok memerintahkan mendebet? ” Gumam kang Ujang mengomentari apa yang dilakukan Ayyub. “Terus sekarang gimana batubaranya?”
“Nggak jelas, Kang.” Kata kang Encep menegaskan. “Setahu saya gak ada kabar sama sekali. Dul Kemit juga tidak pernah menyinggung dalam taushiyahnya, baik di mihrob masjid maupun di pertemuan rutin pekanan, ba’diyah. Padahal dia paling doyan cerita.”
“Jadi fiktif dong?” Sambung kang Ujang menganalisis. “Tega ya…? Uang yayasan dikuras. Padahal itu kan uang pinjaman.”
“Gak peduli kali Kang.” Kata Encep datar. “Akibatnya yayasan menanggung dua beban. Pertama beban hutang dan kedua beban jasa pinjaman.”
“Masya Allah…. Naudzubillahi min dzalik,” kata kang Ujang mengeluhkan apa yang terjadi terhadap yayasan. “Habis dong Kang? Jadi sudah berapa dana yayasan yang dibilang Dul Kemit dana segar itu pindah rekening?”
“Maaf, Kang.” Sahut kang Encep terburu-buru sambil menahan perut. “Pengin ke kamar kecil. Lain kali ya Kang.” Ia kemudian berlari meninggalkan teman dialognya yang penasaran.
***
Sumber : Klik di sini

DUL KEMIT THE SERIES 60

DUL KEMIT THE SERIES 60
Misteri Dolar Seharga 37 Milyar (2)
Oleh : Arif Yosodipuro



Beberapa hari kemudian sepulangnya dari Madrid, Dul Kemit berangkat kembali ke sana bersama dua orang pengurus, Tsaqib dan Safrulloh. Dalam perjalanan, Tsaqib langsung ke Madrid sementara Dul Kemit dan Safrulloh mampir ke Mesir.
Di Mesir, mereka berdua mengunjungi tempat-tempat penting, termasuk daerah penghasil granit. Baru kemudian mereka meluncur ke Madrid menyusul Ayyub dan M. Basyir. Sesampainya di sana, mereka dikenalkan kepada dua orang asing yang berbadan besar dan bekulit hitam oleh Ayyub yang aktif bahasa Inggrisnya.
Dua orang asing itu berpenampilan necis dengan membawa koper. Mereka berdua tak banyak bicara. Seperginya mereka berdua, Ayyub menggelengkan kepala mengarah kepada keduanya. “Itu orangnya,” ucapnya memberi tahu kepada Dul Kemit dan pengurus lainnya. “Gak bisa lama-lama. Mereka sedang diburu,” lanjutnya percaya diri.
Dengan dalih untuk membeli mesin pencair pada kali ini, Dul Kemit dimintai uang lagi sebesar 10 MILYAR. Untuk meyakinkan, Dul Kemit dan Ayyub menunjukkan sample dolar, yang katanya, sudah dicairkan zat pelapisnya. Dolarnya asli, laku digunakan sebagai alat tukar maupun untuk transaksi. Dengan harapan segera mendapat dolar, permintaan uang sebesar itu pun di-oke-kan tanpa diskusi.
LIMA BELAS (15) MILYAR sudah uang yayasan pindah akun namun urusan belum selesai. Dengan alasan ini itu, Dul Kemit dimintai lagi uang sebesar 15 MILYAR. Dana itu pun dipenuhinya tanpa analisis.
Wow….. 30 MILYAR dana cash melayang dengan sangat gampang.
“Segampang itu kang Encep?” Celetuk kang Ujang berkomentar heran. “Nggak sayang, ya?”
“Nggak tahu Kang.” Balas kang Encep apatis. “Karena lagi ada dana segar kali.”
Selanjutnya sambil menunggu perkembangannya, Dul Kemit mengajak rombongannya kembali ke pesantren. Dengan bangga dan meyakinkan, ia menceritakan pengalaman perjalanannya kepada jamaah di mihrob usai shalat Jum’at.
Di antaranya ia menyampaikan bahwa nanti masjid yang sedang dibangun itu akan menggunakan granit dari Mesir. Menurutnya granit mesir memiliki kualitas yang sangat bagus dibanding dengan granit lokal. Bagaimana Cordova pun tak luput dari materi ceritanya.
Dengan gaya retorika yang meyakinkan dan intonasi yang indah dan menggugah, haridirin pun terkesima dan menyambutnya dengan tepuk tangan gemuruh. Semuanya diceritakan. Iya SE…MUA…NYA kecuali transfer dana MILYARAN.
“Terus kapan Dul Kemit terima dolarnya, Kang?” Tanya kang Ujang tak sabar sambil menghela nafas dalam-dalam.
“Wah kurang tahu Kang. Bersambung pada seri berikutnya.” Sahut kang Encep bikin kang Ujang penasaran.
***
Sumber : Klik di sini

DUL KEMIT THE SERIES 59

DUL KEMIT THE SERIES 59
Misteri Dolar Seharga 37 Milyar (1)
Oleh : Arif Yosodipuro



Dul Kemit memasuki ruang kantornya, tempat biasa ia berbincang dan bercakap banyak hal dengan rekan pengurus. Dalam suasana akrab sambil menyandar kursi betawi, ia berkata, “Ada dana segar.”
Ia menganyam jemarinya sambil memandang rekan-rekan yang ada di depannya. Ia tidak memberi tahu dari mana asal dana. Yang pengurus lainnya tahu tiba-tiba ada tambahan dana di akun yayasan 37 milyar.
“Pimpinan negara Pantai Gading yang tumbang,” lanjut Dul Kemit meyakinkan, “memiliki dana jutaan dolar yang disimpan dengan dilapisi zat pengaman. Dana itu akan disumbangkan kepada kita. Namun, untuk mencairkannya perlu dana untuk zat kimia dan mesin pencair.
Rekan-rekannya pun terpancing emosinya. Wajah mereka spontan cerah dan bergairah kegirangan. “Lumayan bisa untuk menyelesaikan bangunan-bangunan.” Sambung Dul Kemit penuh harap. “Ayyub sekarang sedang mengurus dan negosiasi untuk pencairannya.”
Follow up-nya, berangkatlah empat orang – Dul Kemit, Ayyub (adik kandung Dul Kemit), Insinyur Yodi dan M. Basyir – ke Madrid, Spanyol, tempat yang disepakati untuk ketemuan. Mereka berada di sana beberapa hari. Dalam pertemuan itu, Dul Kemit dimintai dana sebesar 5 MILYAR untuk membeli zat kimia pencair.
“LIMA MILYAR, Kang?” kata kang Ujang memotong gemes.
“Iya, 5 milyar,” ujar kang Encep bersemangat.
Karena ada dana segar, permintaan itu diiyakan. Ia lantas menghubungi ketua yayasan, H. Sarbini (sebelum dijabat anak sulungnya), untuk berkomunikasi dengan pihak bank mitranya agar bisa mentransfer dana tersebut.
Mendapat perintah dari pimpinan, H. Sarbini langsung kontak pihak bank. Pihak bank pun mentransfer dana yang diminta itu. Uang sudah pindah rekening tanpa tahu bagaimana wujud zat kimia pencair itu.
Selanjutnya, Dul Kemit dan Insinyur Yodi kembali ke pesantren lebih dulu. Sedangkan Ayyub (adik Dul Kemit) dan M. Basyir masih tinggal di Madrid. Entah apa yang mereka lakukan di sana, negosiasikah, atau apa, hanya Dul Kemit dan Ayyub yang tahu.
“Wah, seru banget Kang,” komen kang Ujang ingin tahu selanjutnya. “Terus gimana?”
“Maaf Kang Ujang, saya mau menjemput istri dulu.” Kata kang Encep mengakhiri ceritanya. “Ntar ya disambung lagi.”
***
Sumber : Klik di sini

DUL KEMIT THE SERIES 58

DUL KEMIT THE SERIES 58
Kiat Kaya Ala Dul Kemit (4)
Oleh : Arif Yosodipuro


Dul Kemit menjadi pemilik tunggal pesantren dengan segala fasilitasnya. Penguasa tunggal, bagai raja-raja di nusantara jaman baheula.
Karyawan yang memelihara ayam atau ikan di lahan pesantren ia larang. Tak ada yang boleh ternak ayam di lahan pesantren. Tak boleh ada yang ternak ikan, lele misalnya, di lahan yayasan. Semuanya distop kecuali Dul Kemit. Digagahi sendiri bersama anak-istrinya.
Saking rakusnya, sampai-sampai ada karyawan yang menanam buah naga. Berkat tangan dinginnya tanaman itu tumbuh subur dan banyak buahnya. Begitu istri Dul Kemit, nyai, tahu ada pohon naga banyak buahnya, pohon itu diaku, diminta paksa sebagai miliknya.
Sang karyawan tidak bisa menolak, kecuali bilang, “Muhun Nyai, mangga ngahaturkeun.” Lalu menelan ludah sambil mengelus dada seperginya nyai. TERTALU….
“Segitunya Kang?” Kata kang Ujang kaget, terheran-heran. “Mungkin dalam hati nyai bilang, ‘loe siape tong berani-beraninye nanem di lahan pesantren. Kan milik gue.’ Gitu kali Kang kalau gaya orang betawi.”
Strategi authority power yang Dul Kemit terapkan sangat jitu dan berjalan mulus. Dengan cara itu ia sangat leluasa dalam mengumpulkan rupiah yang cukup meruah. Semua sumber uang mengalir ke rekeningnya bukan ke kantongnya karena tidak pernah mengantongi uang. He he he he……
Dul Kemit yang dulu tidak mempunyai apa-apa, sekarang apa-apa punya. Dari merampok terselubung itu ia mampu membeli properti, rumah yang harganya miliaran. Selain itu ia juga membeli tanah yang luasnya puluhan hektar di sekitar pesantren. Bahkan ratusan hektar di daerah asal nyai dan sudah diatasnamakan putra sulungnya, Gus Memet.
Tak ada kata yang layak disebut kecuali WOOOW….
***
“Jadi inti kiat kayanya Dul Kemit apa Kang?”
“Setidaknya ada empat, Kang Ujang. Yaitu monopoli, brand cheating, authority power, dan good packing.”
“Apa sih kang maksudnya?”
“Yaelah, Kang Ujang?!” Kata kang Encep meledek. “Monopoli itu mengganggahi sendiri, orang lain tidak boleh, diproteksi. Brand cheating, ya bahasa gampangnya memalsu merek, yang sudah saya bilang tadi. Membajak lah Kang.
Seperti memalsu merk obat, makanan, pakaian dll. Pernah kan dengar sepatu adidas KW? Merknya adidas tetapi yang buat bukan adidas dan kualitasnya pun beda. Sama dengan kopi beli di luar pesantren. Kemudian dibranded kopi pesantren. Panen sendiri.”
“Terus kalau authority power dan good packing, apa?”
“Authority power maksudnya kekuatan kekuasaan. Jadi dengan kekuasaan yang dimiliki, ia berbuat semaunya. Seperti ikan yang sebenarnya milik yayasan masuk ke dapur atas nama Dul Kemit dan Gus Memet karena mereka berkuasa.”
“Lalu good packing maksudnya…..,” kang Encep menghela nafas dalam-dalam sambil sendawa sebelum meneruskan, “dikemas dengan baik, baik kemasan fisik berupa bungkus maupun propaganda. Misalnya garam. Sebenarnya sudah orsinil karena prosesnya alami.”
“Kemudian untuk mengangkat value atau nilai garam tersebut, Dul Kemit mempropagandakan di masjid. Retorikanya dikemas sedemikian indahnya sehingga membuat pendengar terpesona dan terkesima. Selain itu bungkusnya pun dikemas semenarik mungkin.”
“Oalah, paham abdi Kang.” Kata kang Ujang sambil manggut-manggut kaya kepala cepot ketimpa kelapa.
***
Sumber : Klik di sini

DUL KEMIT THE SERIES 57

DUL KEMIT THE SERIES 57
Kiat Kaya Ala Dul Kemit (3)
Oleh : Arif Yosodipuro


Akulah sang penguasa. Akulah sang dewa. Barangkali kalimat itu yang ada di benak Dul Kemit. Sehingga tutur kata dan tingkah lakunya tak boleh dikritisi. Tak boleh disanggah. Pilihan jawaban hanya satu, one option only. Bukan yes or no, tetapi yes saja.
Mungkin saduran dari Al-Qur’an “Sami’na wa atho’na” ini yang menjadi dasar pijakannya, menjadi dalil naqlinya. Sehingga apapun yang dikatakan harus dilaksanakan, sekalipun tidak masuk nalar, sekalipun itu BOHONG dan CURANG.
Ketaatan warga pesantren ini dimanfaatkan oleh Dul Kemit untuk menutupi akal jahatnya. Dengan kerakusannya, Dul Kemit dalam qurun waktu tertentu bisa meraup untung melimpah. Sampai-sampai yayasan berhutang kepadanya belasan milyar. Padahal dia tidak mengeluarkan modal. Ya, TANPA MODAL.
Modalnya dari yayasan. Uangnya dari yayasan. Caranya…? Ya tadi….NYALO. Dia ambil belanjaan dulu bayar belakangan. Misalnya dia belanja kecap. Harga, katakanlah Rp15.000,- Kemudian dia jual ke yayasan Rp25.000,-
Karena dia yang berkuasa, dia yang menentukan harga berapa saja dia mau. Selanjutnya bon tagihan atas nama dia. Dia menagih ke yayasan baru setelah itu dia bayar ke toko tempat ia belanja. Dia tidak keluar uang sepeser pun, namun dapat keuntungan segunung.
Keuntungannya bukan jutaan, tapi milyaran. Iya, MILYARAN.
CERDAS KAN… kyai Dul Kemit?
“Rupanya begitu caranya. Tega ya?” celoteh kang Ujang menyimpulkan di tengah mendengarkan cerita kang Encep dengan seksama. “Pantes yayasan punya hutang ke dia,”
“Kang Ujang mau niru? Kata kang Encep mencoba memancing temannya, menginvestigasi. “Gak berkah kang, dunia akhirat.”
***
Ternyata kerakusannya menurun kepada penerusnya. Setali tiga uang, jejak Dul Kemit diikuti putra sulungnya. Anak yang digadang-gadang menjadi penerima estafet tahta juga ikut menjarah aset yayasan. Ekstrimnya MENGGARONG.
Empang-empang yayasan airnya pada mulai surut. Sehingga ikan-ikan yang dulu ditanam oleh petugas pertanian bermunculan. Melihat ikan yang banyak, Gus Memet matanya hijau. Ia suruh petugas untuk menguras empang dan mengambil ikannya. SEMUANYA.
“Lho Gus, jangan semua. Yang indukan jangan,” kata petugas memberi masukan, mencegah. Karena indukan akan dijadikan untuk pembibitan. Namun tak digubris oleh Gus Memet.
“Gak usah. Semuanya saja,” kata Gus Memet sambil ngotot, memaksakan diri. Petugas hanya bisa mengelus dada. Yang mengherankan lagi. Ikan-ikan hasil tangkapan itu yang beratnya mencapai 1,5 ton dikirim ke dapur pesantren, bonnya atas nama GUS MEMET dengan harga yang tidak wajar.
Tahu nggak, berapa harga per kilonya? LIMA PULUH RIBU. Berapa kalau dikali 1,5 ton? Coba kita kalikan 1500 x Rp50.000. Hasilnya Rp75.000.000. Wow jumlah yang menggiurkan bukan? Nggak ngerawat, nggak modal. Hanya dengan empat kata, “gak usah, semuanya saja.”
Apa itu nggak MENGGARONG? Empang, empang yayasan. Ikan, ikan yayasan. Yang merawat petugas yayasan. Lha masuk dapur pesantren, kok atas nama dia dan yayasan suruh bayar. Harusnya tidak, kan?
“Coba mikir, kang. MIKIR…..!!!!” Kata kang Encep serius dengan perasaan kesal sambil menunjuk-nunjuk keningnya sendiri.
“Jadi bapaknya MERAMPOK, anaknya MENGGARONG Kang?” Sambung kang Ujang menguatkan rekannya sembari menggerak-gerakkan bibirnya. “Weleh, weleh. Kumaha eta?”

Sumber : Klik di sini