Monday, April 30, 2018

Undercover 120

TESTIMONI PRIBADI 21
Siapa di Balik Pengusiran 116 Guru Al-Zaytun (3)

Episode Pembisik Ternyata Licik



Banyak teman-teman yang bercerita tentang BS, termasuk komen di medsos. Seperti yang disampaikan oleh Pak Abduh di wall saya, testimoni 19. Siapa di Balik Pengusiran 116 Guru Al-Zaytun (2), Episode Bond 007 Beraksi.
Dia mengatakan bahwa saat diskusi bersamanya membahas riset terapan, Pak Abduh menyampaikan usul namun usulnya tidak digubris. Pertemuan tersebut dimonopoli dan terkesan monolog. Dia yang banyak bicara dan yang lain hanya sebagai pendengar setia.
Beda Pak Abduh, beda lagi dengan Ust. Anang Sundayana yang juga bercerita tentang BS. Selasa pagi, 03 April 2018, ketika itu kami berdua sedang rehat di rumah Ust. Suarsa setelah olahraga menggowes Haurgeulis – Bantawaru.
Di sela-sela kami menyeruput kopi ditemani dengan nasi ketan susu, Ust. Anang bilang bahwa BS pernah diberi sanksi oleh Ketua Dewan, Ust. Nawawi, karena indisiplin. Pada waktu Idul Fithri, semua guru harusnya di ma’had untuk mengikuti shalat Id, namun BS justru di rumah dengan alasan ISTRINYA MELAHIRKAN.
Tak percaya begitu saja, Ust. Nawawi menelepon istrinya dan istrinya bilang bahwa dia dan suaminya sedang berada di mall. Mendengar jawaban tersebut, Ust. Nawawi merasa dibohongi. Ia kemudian memberi sanksi kepadanya tidak boleh shilah, pulang ke keluarga dalam qurun waktu tertentu.
Mendapat sanksi tidak boleh shilah, dia galau dan goncang. Dia melakukan berbagai manuver dan pendekatan bagaimana bisa shilah. Karena itu ia mendekati Ust. Anang Sundayana, yang kala itu sebagai MP-nya (Kepala sekolah). BS merengek minta saran dan bantuan bagaimana agar Ust. Nawawi mengizinkan dia bisa shilah.
Banyak track record kecurangan dan kelicikan BS dalam mencapai tujuan pribadi. Sebenarnya, Syaykh sendiri juga sudah mengakui dan memahaminya. Hal ini terbukti ketika Syaykh memerintahkan penambahan anggota Dewan Guru dan nama BS dicantumkan sebagai calon anggota yang diajukan oleh Ketua Dewan Guru, beliau tidak berkenan dan meminta agar nama BS dicoret.
“Jangan dia. Orang suka nelikung dari belakang,” ujar Syaykh kepada Ketua Dewan Guru, menolak BS.
Dan klimaks kelicikan BS adalah memata-matai rekan seprofesinya demi mendapatkan nama baik dan pujian dari pimpinan, yang istilahnya ngatok, njilat, dsb. untuk keuntungan pribadi.
Buah dari kelicikannya itu sekarang ia dipercaya oleh Syaykh sebagai Ketua Majelis Guru. Padahal sebelumnya Syaykh tidak mau dan tidak berkenan. Bertolak belakang dengan slogan yang digemborkan TIDAK ADA AKAR ROTAN PUN JADI.
Memang diakui atau tidak, Syaykh mengalami kesulitan mencari siapa yang akan dipercaya. Guru-guru senior yang dianggap memiliki kemampuan manajerial tinggal beberapa orang. Dari Dewan Guru tinggal Ust. Ali Aminulloh, Purnomo, Alfi Satria, Wina Safitri dan Usth. Siti Umawaroh.
Sementara manajer pendidikan tinggal Ust. Herman Sururi, Rizal Eko, Iis Humairoh dan Usth. Nur Aliyah. Sedangkan dari guru adalah dua ustadz yang sedang menempuh pendidikan S3, Ust. Nur Kholis dan Ust. Irvan.
Dari mereka yang ada, Ust. Ali Aminulloh sudah dicurigai dan mulai disangsikan. Karena itu untuk menghilangkan jejak dan menghapus image, Dewan Guru didimisionerkan kemudian diganti dengan Majelis Guru dan diangkatlah BS sebagai ketuanya sebab dianggap berjasa memata-matai koleganya.
Apakah Syaykh juga KORBAN KELICIKAN BS sehingga membuat keputusan yang salah mengusir, menghadang dan memecat 116 guru secara sepihak?

Sumber : Klik di sini

Undercover 119

TESTIMONI 20
Siapa di Balik Pengusiran 116 Guru Al-Zaytun (2)

Episode Ditektif Bond 007 Beraksi



Upaya Dewan Guru bersama jajaran di bawahnya, Manajer Pendidikan, Ketua Lajnah, dan Mudabbir Asrama untuk memperbaiki manajemen pendidikan Al-Zaytun terus dilakukan. Di antaranya diterapkannya ISO Prosedur Kerja.
Sebagai ujicoba, ISO ini diterapkan di Manajemen Asrama. Personel yang ditugaskan untuk menanganinya adalah gabungan dari Dewan Guru, dan guru yang dianggap memiliki kompeten di bidang ini.
Dari Dewan Guru adalah saya, sebagai MQR, Manager Quality Representative, dan Usth. Suprapti sebagai anggota, dibantu oleh Ust. Sumpena Hidayat, yang masa tugasnya satu semester. Dampak hasilnya cukup lumayan, sekalipun belum maksimal.
Targetnya adalah memulai mendisiplinkan santri dari asrama. Karena asrama merupakan wahana interaksi awal dalam kehidupan mereka. Harapannya, setelah kehidupan santri kondusif di asrama akan memengaruhi interaksi kehidupan yang lain, seperti di sekolah dan di tempat umum. Dan ke depan program penerapan ISO akan merambah kepada manajemen pendidikan dan lajnah.
Sehubungan dengan itu, Dewan Guru sedang menggondok dan mempersiapkan TUPOKSI di setiap jajaran manajemen. Yaitu Bidang Manajemen Pendidikan ditanggaungjawabi oleh Usth. Suprapti. Bidang Kesekretariatan ditanggungjawabi oleh Ust. Noviastono dan Usth. Wina Safitri, Lajnah ditanggungjawabi oleh oleh Ust. Sarju dan organisasi pelajar, OPMAZ saya sebagai penanggung jawabnya.
Secara marathon, kami berijtima’ dan berdiskusi membahas tugas tersebut tak kenal lelah. Karena target kami semester kedua (II) tahun akademik 2016-2017, Januari 2017, TUPOKSI tersebut bisa selesai dan bisa diaplikasikan.
Sembari menyiapkan TUPOKSI, Dewan Guru juga melakukan koordinasi dengan jajaran di bawahnya membahas program peningkatan kualitas pendidikan dan manajemen. Karenanya setiap semester kami mengadakan raker, rapat kerja, membahas program yang akan kami lakukan pada semester hadapan.
Termasuk yang kami lakukan pada akhir semester kedua tahun ajaran 2015-2016. Tepatnya 07 Juni 2016 bersamaan dengan 02 Romadhan 1437 H. Tema yang diusung adalah
“PENYEMPURNAAN MANAJEMEN
MENUJU KEBANGKITAN PENDIDIKAN AL-ZAYTUN 2016.”
Niat baik kami ini ternyata dipantau dan diawasi oleh Bond 007 suruhan Ust. Abu Fathir. Rupanya selain Ust. Fahmi ada guru lain yang direkrut, yaitu Ust. Budi Satrio. Secara personal yang bersangkutan tidak bercerita kepada saya.
Kami tahu kalau dimata-matai setelah acara selesai, ada personal panitia bagian konsumsi yang bercerita. Saat itu saya tak memedulikannya. Saya baru klik, setelah kejadian pengusiran dan penghadangan 116 guru. Karena kami tak ada niatan lain kecuali perbaikan pendidikan.
Untuk memastikan berita tersebut setelah sekian lama untuk saya tulis dalam testimoni ini, saya inbox ke WA Ustadzah Sri Suryati. Berikut transkripnya (diedit penulisannya).
“Assalamu ‘alaikum. Bu tolong diceritakan kronologi Budi Satrio ngomong ke ibu waktu raker.” Kata saya menanyakan.
“Pak Arif maaf kalau cerita saya tidak lengkap..karena saya agak lupa. Yang intinya aja ya. Waktu lagi break sesi pertama yaitu makan snack, DG (Dewan Guru), bu Marmi menghampiri saya dan bu Ira koordinasi pembagian snack.
Tidak lama berselang pak Budi (Budi Satrio maksudnya) datang untuk mengambil snack. Sambil makan dia berbicara sama saya dan bu Ira. Katanya, ‘Bu kalau ada apa apa yang mencurigakan kasih tau saya ( BS).
Saya dan bu Ira ngomong, mencurigakan apa pak? Ya nanti juga ibu tau. Pada saat itu saya dan bu Ira bingung. Terus pak Budi ngomong lagi, mereka itu di bawah saya bu sambil menunjukkan tangannya ke arah bu Marmi yang sedang kumpul dengan DG (Dewan Guru) yang lain dan MP (Manajer Pendidikan atau kepala sekolah).
Setelah bu Marmi selesai berbincang- bincang, dia ke meja konsumsi lagi. Lalu saya ceritakan apa yang dikatakan Budi Satrio kepada bu Marmi. Kata bu Marmi jangan ditanggapi bu dia memang begitu gayanya sok mau jadi pemimpin sama seperti waktu di id*ri*h.
Setelah kejadian silaturahim yang pertama saya baru paham bahwa pak Budi sedang jadi mata-mata untuk dilaporkan ke atas.”
Ternyata Bond 007 sedang beraksi. Pantesan, ada karyawan juga keamanan yang sering memergoki saudara Budi Satrio sedang berbincara berdua dengan serius baik kepada Ust. Abu Fathir maupun kepada Syaykh Al-Zaytun.

Sumber : Klik di sini

Sunday, April 29, 2018

Undercover 118

TESTIMONI PRIBADI 19
Siapa di Balik Pengusiran 116 Guru Al-Zaytun (1)

Episode Memasang Agen Bond 007



Gonjang-ganjing dan kemelut dalam manajemen pendidikan Al-Zaytun pimpinan Syaykh A.S. Panji Gumilang bermula dari ajuan dana yang diajukan oleh manajer pendidikan (kepala sekolah) melalui Dewan Guru.
Ketika itu ketua Dewan Guru, Ust. Ali Aminulloh, bersama bendahara, Usth. Sumarmi menyampaikan ajuan dana untuk keperluan manajemen pendidikan, MI, MTs, MA. Oleh pihak yayasan dijawab, “Memang masih ada dana bos?”
Selang beberapa hari kemudian Dewan Guru diperintahkan untuk merinci dana bos, berapa yang masuk dan berapa yang sudah digunakan, lalu berapa yang masih ada. Tak mau menunda-nunda, Ketua Dewan Guru langsung beraksi. Ia menyuruh bendahara, Usth. Sumarmi untuk mengecek.
Usth. Sumarmi lantas mengecek semua administrasi yang berhubung kait dengan pengeluaran dana bantuan pemerintah, BOS. Di saat sedang melakukan pengecekan itulah dia menemukan sebuah keganjilan.
Keganjilan itu adalah ditemukannya sebuah surat tugas dari Syaykh Al-Zaytun kepada Ust. Ali Aminulloh untuk memindahkan dana BOS dari rekening sekolah ke rekening pribadi Syaykh A.S Panji Gumilang.
Melihat kejanggalan tersebut para manajer pendidikan dari tingkat MI, MTs, dan MA protes kepada Ketua Dewan Guru dan menyampaikan bahwa bila demikian mereka sepakat tidak mau menanda tangani SPJ dana BOS. Karena mereka yang menandatangani LPJ, ujungnya masuk ke rekening pribadi.
Berpangkal dari sinilah, mereka mulai mengkritisi bahwa telah terjadi mismanajemen dan disorientasi/ penyimpangan pengelolaan dana BOS. Kritikan-kritikan itu sering mereka sampaikan dalam pertemuan terbatas maupun dalam obrolan di waktu luang.
Rupanya kritikan itu sampai juga ke telinga orang kepercayaan, kaki tangan Syaykh, yaitu Ust. Abu Fathir. Isu yang beredar guru-guru dianggap vokal. Dan mereka yang vokal ditandai khusus. Segala gerak-gerik dan perkataan guru mulai dipantau.
Untuk mendapatkan informasi siapa-siapa yang vokal, Ust. Abu Fathir lalu memanggil khusus guru yang dianggap bisa dipercaya untuk menjadi informan. Di antaranya adalah Ust. Fahmi. Berikut informasinya.
“Saat sedang rehat wawancara pada penerimaan santri baru, Juni 2016, Ust. Abu Fathir memanggil saya. Dia bilang, ‘Antum bisa masuk ke DG (Dewan Guru), MP (Manajer Pendidikan), asrama dan guru-guru. Tolong laporkan ke ane guru-guru yang sudah tidak sejalan.... Ini tugas, untuk keamanan kita.’"
“Saya jawab, maksudnya apa bi?”
“Ya guru-guru yang menjelek-jelekkan syaykh.”
“Kemudian saya bilang, Oh gitu bi. Ma'af bi, saya guru. Jadi kalau abi tugaskan saya di luar tugas guru mohon ma'af, saya tidak bisa. Namun, kalau hal-hal yang berkait dengan tugas saya sebagai guru pasti akan saya laksanakan.”
Mendengar jawaban Ust. Fahmi seperti itu, Ust. Abu Fathir emosi, gesture wajah berubah dan mata sedikit melotot. Tak ingin berpolemik, Ust. Fahmi lantas bersalaman dan meninggalkannya.
Seperti di film aja, ya? Memasang agen Bond 007.

Sumber : Klik di sini

Undercover 117

TESTIMONI PRIBADI 18
Menghadang Ujungnya Meminang (2)
Oleh : Arif Yosodipuro


“Yah…., masih sepi.” Kata saya dalam hati setibanya di kantor Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) Bandung di Jalan Surapati, Senin, 26 Maret 2018. Hanya beberapa petugas keamanan berseragam kecoklatan yang tampak berdiri berjaga-jaga.
Tak mau baper, saya berjalan bersama Ust. Anang Sundayana dan Ust. Mustaqim mendekati penjual kupat tahu yang mangkal tepat di depan kantor. Saya memesan dua porsi. Ust. Anang tidak pesan karena sudah sarapan dari rumah.
Usai menikmati kupat tahu yang khas sambal kacangnya, saya masuk ke halaman kantor PHI. Larak-lirik sebentar, mengamati suasana. Teman-teman yang lain mulai berdatangan. Tegur sapa dan jabat tangan penuh keakraban mewarnai perjumpaan mereka.
Kuperhatikan seorang ustadzah sedang duduk di bangku dekat kantin sambil menggedong anak laki-lakinya berusia empat tahunan. Dia adalah usth. Istianah Abdillah. Satu dari 116 guru yang diusir. Saya mendekatinya dan ikut duduk di sampingnya.
Informasinya ustadzah Istianah Abdillah juga didatangi oleh ustadzah lain dan dibujuk untuk kembali masuk ke mahad. Untuk memastikan, saya bertanya kepadanya tentang kebenaran berita tersebut.
“Bu katanya pernah didatangi Bu Iis (Iis Humairoh)?” Tanya saya to the point sambil memandangi anaknya yang malu-malu.
“Oh pas awal-awal,” jawabnya mantab sembari memegangi putranya. “Sama saudara juga yang dari gate. Ya…. namanya…., saya jawab aja iya.” Katanya, mengenang kejadian. “Pakai surat Bu. Bikin surat ajuan, diserahkan nanti waktu pengambilan barang. Pas pemanggilan, nanti hari Selasa Bu, ya?” lanjutnya menirukan ucapan ustadzah yang menemuinya.
“Pas hari itu Bu Khosiroh datang ke rumah. Sama Bu Khosiroh saya diajak jalan-jalan. Saya ditelepon sama pak Nakam, ‘Bu jam dua ditunggu Abi Tsabit.’ Aduh pak nggak bisa dateng nih lagi di perjalanan. Jadi gak bisa.” Katanya, memberi alasan.
“Ibu ditelepon pak Tsabit, nggak?” Tanya saya ingin tahu lebih jauh.
“Nggak. Pak Nakam aja.”
“Memang perlu keberanian ya untuk mengambil sikap?”
“Iya sih. Kita tahu ini salah, masa dibiarkan…?” katanya datar tapi tersirat keberanian dan kepastian.
“Awal-awal memang dirayu? Bu Iis yang dateng?”
“Bu Iis, Bu Nur Aini.”
“O.. Bu Nur Aini. Bu Nur Aini juga ndatengi ke rumah ibu? Apa istilahnya? Bujuk gitu?”
“Iya.” Katanya singkat. ‘Ayolah…Nggak didholimi kok di sana. Memang ibu merasa didholimi di sana?’ lanjutnya menirukan.
“Hanya bu Nur Aini dan Bu Iis saja. Nggak ada yang lain?”
“Ada bu Heni.”
“Bu Heni juga?”
“Bu Heni mah bareng sama bu Iis. Kalau bu Nur Aini sama saudara, Mbak Leni.”
“Bu Leni?”
“Mbak Leni, guru baru yang istrinya gate.”
“O guru baru. Kalau guru baru berarti yang baru diterima itu?”
“He emmm. Kalau yang sering datang itu Mas Nur.”
“Mas Nur siapa?”
“Saudara yang di gate.”
“Dari suami apa dari istri?”
“Dari saya.”
“O dari Ibu. Saudaranya Ibu, di gate?”
“Nur Mahdi, yang tugas di gate.”
“Oh itu. Itu saudara. Namanya Nur Mahdi?”
“Iya. Sepupu.” Tangannya membelai-belai kepala putranya. “Kalau istrinya bilangnya gini. ‘Wong sudah tua ini. Memang karakternya sudah begitu biarin aja nanti juga diganti wong sudah tua.’
“Ingat hari dan tanggal kapan bu Iis dan bu Nur Aini datang ke rumah?”
“Lupa. Ya awal-awal. Pebruari apa Januari? Januari deh.”
Dialog pun berhenti setelah saya anggap cukup. Kemudian saya mengalihkan topik pembicaraan dan selanjutnya menimbrung dengan teman-teman lain yang sedang asyik bercengkerama.
Rupanya usai menghadang, pihak yayasan diam-diam meminang guru-guru yang mereka anggap bisa direkrut kembali. Oalah…. Menghadang Ujungnya Meminang ya….

Sumber : Klik di sini

Saturday, April 28, 2018

Undercover 116

TESTIMONI PRIBADI 17
Menghadang Ujungnya Meminang (1)
PHI Bandung H-1



Penghadangan kepada ratusan guru bersertifikasi yang dilakukan oleh manajemen Al-Zaytun pimpinan Syaykh A.S Panji Gumilang sangat berasa dampaknya, khusunya ketersediaan tenaga pendidik.
Tidak berhasilnya Ust. Alwi membujuk Ustadz Yusaefudin dan teman-teman untuk kembali mengajar di mahad dengan cara bertaubat, tidak membuatnya lantas berhenti dan patah semangat. Maha Agung Allah dengan segala kekuasaannya.
Sabtu, 31 Maret 2018, dengan qadla Allah saya dipertemukan dengan sahabat lama yang dulu pernah bersama mengabdi di Al-Zaytun. Namun karena alasan keluarga, yang bersangkutan mengundurkan diri. Pertemuan yang membuat saya kaget dan tidak percaya.
Pagi itu saya menemui rekan saya yang sedang menjadi panitia seleksi calon guru SMPIT (maaf tidak saya sebut nama SMP-nya). Tak ada yang aneh saat saya tiba lokasi seleksi, di SD Perumnas II Subang.
Para calon guru pria dan wanita bergerombol berbincang secara terpisah, yang pria membuat kelompok tersendiri demikian juga yang wanita. Entah apa yang mereka bicarakan. Saya hendak bergabung dan menyapa tapi saya urungkan karena belum ada yang saya kenal.
Beberapa saat kemudian, mereka dikumpulkan dalam satu ruangan dan dibriefing mengenai teknis dan hal-hal yang berkaitan dengan seleksi. Saya belum bisa bertemu dengan rekan saya karena ia memberi briefing, terpaksa harus menunggu.
Menjelang sesi test berikutnya, para peserta menunggu di depan ruangan. Mereka duduk-duduk di tembok berkeramik setinggi 40-an cm. Saya mencoba mendekati mereka dan ingin berkenalan untuk menghilangkan kejenuhan.
Saya berjabat tangan sambil mengenalkan diri. “Arif,” kata saya sembari menatap wajah mereka akrab. Dari sekian orang yang salami ada satu sosok jangkung, ramah, dan santun yang spontan membongkar memori saya.
Dalam hati langsung berucap, “Kok sepertinya pernah tahu orang ini? Di mana ya?” Pikir saya mengelana mencari jawaban. Tak ingin dikerangkeng oleh perasaan ingin tahu, saya beranikan diri untuk bertanya. “Kok kaya pernah kenal?” Kata saya sambil memegang erat tangannya tak segera saya lepas saat berjabat tangan.
“Saya Ust. BADRUS, Bi,” sahutnya dengan ramah dan akrab.
“Masya Allah,” spontan saya terheran dan saya tepuk pundaknya sambil jinjit. “Iya, iya. Sekarang tinggal di mana?” lanjut saya seperti juru sidik yang sedang menginterogasi. Perbincangan semakin inten dan mengasyikkan. Maklum sudah lama tak ketemu.
Setelah bincang sana, bincang sini, sampai juga pada masalah pengusiran dan penghadangan ratusan guru Al-Zaytun yang tak lain adalah rekan dia. “Saya heran dan tidak percaya,” kata Ust. Badrus dengan ekspresi wajah sedih. “Kok sampai sebegitunya.” Lanjutnya seraya menyahut gelas aqua dan menyeruputnya.
“Pantesan saya dulu dihubungi oleh Ust. Alwi diajak masuk lagi,” katanya mengenang peristiwa saat ia dihubungi Ust. Alwi. “Ayo masuk lagi. Sekarang lagi butuh guru nih,” sambungnya menirukan ucapan Ust. Alwi.
““Oooo…. jadi Ust. Alwi menghubungi sampeyan… Kapan itu Pak?” Tanya saya menelusuri.
“Dulu sebelum saya dengar berita kejadian (pengusiran). Tapi saya nggak mau. ‘Nggak ah,’ kata saya kepada pak Alwi.”
Obrolan pun berakhir saat panitia memanggil nama Ust. Badrus. “Sebentar, Bi. Nanti kita sambung lagi. Sekarang giliran saya (test).”
“Oh iya, silakan,” jawab saya sambil memukul lengannya. “Terima kasih.
Ternyata banyak rekan-rekan guru baik yang merah atau bukan yang dihubungi oknum utusan Al-Zaytun untuk diajak kembali mengajar.
Siapa lagi….? Bersambung pada testimoni berikutnya….

Sumber : Klik di sini

DUL KEMIT THE SERIES 56

DUL KEMIT THE SERIES 56
Kiat Kaya Ala Dul Kemit (2)
Oleh : Arif Yosodipuro



Dul Kemit terus melenggang tanpa ada yang menghadang, melangkah tanpa ada yang mencegah, dan semaunya berbuat tanpa ada yang mencegat. Kiprahnya bagaikan anak manusia yang pertama kali turun ke bumi, Adam dan Hawa.
Ia bagai berkelana di Gurun Sahara, Afrika, bagai berselancar di Pantai Ombak Tujuh, Sukabumi, tanpa pesaing, bagai berburu di Amazon sendirian. Ia bagai bermain sepak bola di stadion Camp Nou, Spanyol, tanpa lawan.
Terlebih setelah dihadang dan diusirnya guru-guru yang kritis, cengkeraman kekuasanaanya semakin kokoh. Tak ada yang mengaru biru. Lenggangnya lapang, langkahnya bebas sebebas angin berhembus ke semua arah.
Tindakannya tak ada yang berani mengingatkan. Dia yang berkuasa, yang memutuskan, dan yang menanda tangani semua dokumen dan ajuan, termasuk harga komoditi. Berapa yang dia mau itulah yang menjadi harga dan harus diterima oleh dapur pesantren. Tidak bisa ditawar apalagi ditolak.
Aji mumpung sebagai kyai benar-benar ia maksimalkan dalam mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Sebenarnya dalam jual beli itu sah-sah saja mencari keuntungan. Hanya caranya yang tidak elegan, bahasa agamanya tidak halal. Masa garam Rp30.000,-/kg? Terlalu kan…?
Seharusnya dia berpikir bagaimana pesantren bisa menghemat anggaran dan memaksimalkan penggunaannya untuk kesejahteraan santri, guru, dan karyawan. Ini tidak. Justru yayasan dipeloroti, digerogoti. Ekstrimnya DIRAMPOK secara halus.
“Pantas saja tidak ada rasa kasihan kepada wali santri, Kang,” sela kang Ujang sambil geleng-geleng kepala. “Santri yang belum bisa bayar tagihan tidak boleh masuk mengikuti kegiatan belajar mengajar. Padahal kan terima donasi dari donatur tiap bulan. Untuk apa ya, Kang?
“Ya untuk bayar tagihan ke dia,” sahut kang Encep kesal, menimpali komentar sahabatnya. “Pokoknya bayar ke dia harus didahulukan. Yang lain belakangan. Dan berapa pun yang dia mau harus ada hari itu juga.”
Lucunya belanja kopi dari luar kemudian diklaim sebagai kopi produk pesantren, hasil tanam sendiri, dengan harga yang WOOOOOW…. Per kilonya Dul Kemit patok harga setinggi langit. Mau tahu atau tahu banget….? Belinya kisaran Rp30 – 60 ribu/kg. Kemudian dengan brand cheating dia jual seharga Rp225.000,-
“Apa sih Kang brand cheating?”
“Itu… nipu cap atau label merk.”
“Lho, kok pembelinya percaya ya?” Kang Ujang terheran-heran.
Parahnya lagi, Kopi itu Dul Kemit yang beli, dia yang jual, dan dia yang mengantongi untungnya. Tagihannya dimasukkan ke dalam tagihan yayasan. Yayasan yang suruh bayar. Hebat kan kyai satu ini?
“Kata pendukung setianya dia itu turunan rosul Kang.” Koment kang Ujang mengait-ngaitkan dengan fenomena yang terjadi. “Calon pemimpin negeri masa hadapan yang akan bisa membebaskan hutang negeri ini. Sang pembaharu peradaban.”
“Peradaban…?” Sanggah kang Encep sinis sambil nyengir. “PERADABAN NGIBUL DAN BOHONG.” Kang Encep gemes dan geram. “Sudah ah, Kang. Baper saya nyeritakan Dul Kemit. Bawaannya pengin emosi. Dilanjutkan lain waktu aja.”

Sumber : Klik di sini

DUL KEMIT THE SERIES 55

DUL KEMIT THE SERIES 55
Kiat Kaya Ala Dul Kemit (1)
Oleh : Arif Yosodipuro



“Kang Ujang dengarkan pantunku.” Panggil kang Encep kepada rekan dekatnya ingin berbagi cerita.
“Apaan sih Kang?” Sahut kang Ujang agak ogah-ogahan. “Kaya penting aja?”
“Kadieu pirengkeun.” Sambungnya sambil senyum kemudian membaca pantunnya.
Kalau ingin buat kebaya
Pergilah anda ke tukang jahit
Kalau ingin cepat kaya
Ikutilah kiat ala Dul Kemit
“Ha ha ha …. bisaan, Kang Encep.” Komentar kang Ujang tergugah emosinya mendengar pantun rekan karibnya.
Kekuasaan Dul Kemit absolut. Cakarnya semakin kuat mencengkeram. Paruhnya semakin tajam mematuk. Ocehannya semakin memesona seindah murai batu yang sedang birahi merayu betina. Dia bagaikan dewa yang titahnya tak boleh dibantah. Sabda pandikaning ratu tan kena dibantah.
Hal ini membuat keserakahan kyai Dul Kemit semakin menjadi. Semua aset pesantren pelan tapi pasti hampir semuanya sudah dikangkangi, dipindahtangankan kepada anak-anaknya. Lahan-lahan yang seharusnya menjadi aset dan milik pesantren diatasnamakan anaknya.
Tak cukup disitu. Dia terus mencari trik dan intrik untuk bisa mendapatkan rupiah. Pundi-pundi yang membuat orang bungah itu terus ia kumpulkan seolah ia akan hidup langgeng, kekal selamanya. Semua pos yang bisa mendatangkan uang dikuasainya dengan tanpa ada celah.
Kalau dulu warga pesantren, karyawan atau pun pengurus pesantren, ada yang bisa memasok kebutuhan dapur, sekarang semuanya distop. Tak ada yang boleh menyuplai kecuali kyai Dul Kemit dan istri anaknya.
SEMUANYA. Sekali lagi semuanya. Segala hal yang dihajatkan oleh dapur pesantren sampai hal yang remeh-temeh dipasok oleh Dul Kemit. Tahu, tempe, kecap tak luput dari item list yang harus disuplainya.
Ia suruh orang kepercayaan belanja di luar. Kemudian sebelum dikirim, barang-barang belanjaan tadi dimark up harganya yang membuat hati menjerit. Ekstrimnya makelarlah, calo di terminal. Kalau istilah kerennya BROKER, biar kaya jaman now.
Bayangkan… garam dapur yang di pasaran hanya Rp1500/kg, Dul Kemit jual ke dapur pesantren Rp30.000/kg. Wow…. keren kan…? Apa nggak gila itu. Modalnya hanya berkoar-koar di masjid sebagai ajang promosi dan melabeli garam dengan GARAM ORGANIK.
Yang lebih gila lagi, ikan lele. Memeliharanya di empang yayasan. Nyaris tidak ada perawatan. Kalaulah ada, karyawan pesantren yang melakukanya dan karyawan digaji oleh pesantren. Dul Kemit tak mengeluarkan biaya sepeser pun. Iya, TAK SEPESER PUN.
Kemudian begitu panen dia yang memanennya dan dikirim ke dapur pesantren dengan harga yang fantastis, mencengangakan. Mau tau…..? Rp50.000,-/ kg. LIMA PULUH RIBU per kilo. Apa nggak hebat gilanya. Tidak ada di negeri ini, pelosok mana pun, yang ikan lele seharga Rp50.000,- kecuali di pesantren Dul Kemit. Di pasaran paling mahal Rp24.000 – Rp25.000,-
Dulu telor pun istrinya yang masok. Namun sekarang, itung-itung bagi rezeki juga memberi lahan pangan kepada generasinya, telor yang semula menjadi hak pasok istri Dul Kemit, nyai, diestafetkan atau diwariskan kepada putra sulungnya, Gus Memet.
Mengikuti jejak pendahulunya, orangtuanya, Gus Memet pun mengambil untung yang luar biasa. Kalau di pasaran harga telor berkisar 23-24 ribu per kilo, Gus Memet jual telor ke pesantren Rp4000,- lebih tinggi dari pada harga eceran di kampung-kampung. Keuntungan bisa enam sampai delapan ribu.
Sementara kebutuhan telor setiap pekannya tidak kurang dari enam ton. Jadi, berapa keuntungan yang diperoleh Gus Memet setiap pekannya? Katakanklah untungnya Rp6000,- Kemudian dikali enam ton. Setidaknya Dia meraup keuntungan sekitar Rp36 jutaan (6 ton x Rp6000,-) sepekan. Sebulan berapa…? Lumayan kan…?! Bisa kasih belanja empat orang istri….
“Masa sih Kang, Gus Memet punya istri empat?” Potong kang Ujang heran mendengar orang yang ia anggap pengayom ternyata suka kawin.
“Wah sudah bukan rahasia lagi, Kang.” Sahut kang Encep mantab dengan penuh keyakinan. “Banyak kok informasinya, coba cari di google atau di facebook.”
“Oalah….” respon kan Ujang tak mengira ternyata kelakuan Gus Memet tak pantas jadi panutan. “Pantes berani punya istri empat. Seminggunya Rp36 juta…” gumamnya menyetujui teman bicaranya.
“Sudah dulu ya, Kang.” Kata kang Encep menyudahi ceritanya. “Lain waktu dilanjut lagi. Saya shalat ashar dulu. Masih banyak ceritanya.”
“Ah, Kang Encep,” kata kang Ujang protes tak ingin distop. “Lagi seru-serunya. Ya udahlah. Saya juga belum Ashar.” Gerutunya pada diri sendiri. “Ditunggu ya Kang.”

Sumber : Klik di sini

DUL KEMIT THE SERIES 54

DUL KEMIT THE SERIES 54
Guru Mencari Keadilan 2
Oleh : Arif Yosodipuro


Tidak adanya kesepakatan pada pertemuan pertama, kedua pihak membuat deal bahwa pertemuan dilanjutkan pada pekan berikutnya pada hari yang sama.
Detik-detik hari penantian bipartit pertemuan kedua membuat hati kedua pihak dag dig dug. Perasaan hap hip hup mengiringi setiap jantung berdetak. Harapannya pada pertemuan yang telah disepakati oleh kedua pihak itu bisa menyelesaikan masalah.
Pagi menjelang pukul 07.00, rombongan guru meluncur dari posko menuju kantor Dinas Tenaga Kerja Kabupaten. Mereka diterima oleh Kabid PHI dan petugas lainnya. “O.. silakan pak.” Sapa Kabid ramah seraya mempersilakan duduk.
“Terima kasih, Pak.” Sahut ketua rombongan. Mereka masuk ke ruang yang diperuntukkan pertemuan lalu duduk di kursi yang sudah tersedia. Suasana hening sejenak. Tak ada percakapan di antara rombongan guru dan pak Kabid.
Beberapa saat mereka saling menunggu, belum ada yang memulai percakapan. Untuk mencairkan iceberg, seorang romobongan mencoba berbasa-basi. “Sehat, Pak?” tanyanya membuka dialog.
“Alhamdulillah,” sahut Kabid PHI, “Jam berapa tadi berangkatnya?”
“Jam 07.00 lebih dikit, Pak.”
“Gimana lancar?”
“Alhamdulillah, Pak, lancar.”
“Kita tunggu, Pak. Dari pihak kyai Dul Kemit belum datang. Sudah saya hubungi tetapi tidak nyambung.” kata Kabid apologi sambil memutar lengan bawah kirinya, menengok jam tangan untuk melihat waktu.
“Iya, Pak.” Sahut ketua rombongan memahami. “Gak pa pa kita tunggu sampai mereka datang.”
Detik berganti menit, menit pun berganti jam. Hingga menjelang senja, perwakilan Dul Kemit tak tampak muka juga tanpa berita. Sebagai pertanggungjawaban, pak Kabid pun menghubungi kembali pihak Dul Kemit menanyakan perkembangannya, namun tak mendapat jawaban.
“Mohon maaf, bapak-bapak. Saya hubungi tidak ada jawaban. Sepertinya perwakilan Dul Kemit tidak datang.” Katanya menyimpulkan.
“Lalu bagaimana, Pak?” Tanya ketua rombongan dengan serius menunggu kepastian.
“Ya berarti lanjut ke TRIPARTIT, pak.” Kata pak Kabid menjelaskan. “Karena pihak Dul Kemit tidak datang, otomatis BIPARTIT gagal.” Lanjutnya sembari memandang apologatif kepada rombongan.
Mendengar jawaban seperti itu, wajah rombongan tampak datar. Sekalipun kecewa tetapi tidak ditampakkan. Harapan bipartit pupus. Upaya musyawarah untuk mufakat dalam penyelesaian antara kedua pihak tanpa campur tangan pihak ketiga gagal.
Sebernarnya setelah sekian jam menunggu, sementara hingga waktu yang ditentukan belum ada kabar dari pihak Dul Kemit, rombongan guru sudah menduga bahwa utusannya tidak bakalan datang. Dan, dugaan mereka benar, sampai batas waktu yang ditentukan lewat, mereka tidak datang.
“Jadi dilanjut tripartit, minggu depan Pak?” Tanya ketua rombongan, memastikan sambil bersiap-siap berdiri untuk pamit.
“Iya, Pak.” Ujar pak Kabid singkat. Jemari tangannya dimainkan, dianyam lalu dibuka secara bergantian hingga beberapa kali.
“Baik, Pak.” Sambung ketua rombongan. “Kalau begitu, kami mohon pamit, Pak.” Rombongan secara bersamaan berdiri seperti dikomando. Satu persatu mereka berjabat tangan dengan Kabid PHI sambil bersenyum, mengangguk dan sedikit membungkukkan badan menunjukkan adab kesopanan.
“Maaf, Pak ya.” Celetuknya berbasa-basi. “Sampai ketemu minggu depan.” Pesannya sambil tangan kanannya sibuk menjabati rombongan. Wajahnya sedikit lesu yang disembunyikan akibat menunggu cukup lama namun tak ada kabar dari Dul Kemit.
Mereka keluar ruang menuju tempat parkir diiringi oleh Kabid hingga teras pintu kantor. Dengan memendam tanya “Kenapa Dul Kemit atau utusannya tidak muncul,” mereka berjalan bergerombol lalu masuk mobil. Sekalipun begitu, mereka tetap yakin dan teguh pendirian.
Tujuh hari lagi mereka harus menunggu untuk bisa bertemu dengan Dul Kemit atau utusannya pada pertemuan TRIPARTIT. Rasa optimis dan semangat silaturahim memacu adrenalin mereka untuk tidak putus asa dan menyerah.
Mereka yakin bahwa Dul Kemit masih memiliki nilai-nilai humanisme dan etikat baik sehingga mau hadir pada pertemuan TRIPARTIT yang dijadwalkan. Terlebih dia adalah sosok yang diagungkan dan sering menggembar-gemborkan disiplin dan tanggaung jawab.
Minggu berikutnya rombongan guru kembali meluncur ke kantor disnaker kabupaten. Seperti kedantangan sebelumnya, mereka diterima oleh Kabid yang memang menjadi tugas dan kewajibannya.
Di ruang pertemuan yang sudah disiapkan, sambil menunggu pihak Dul Kemit datang rombongan berbincang ngalor-ngidul dengan Kadisnaker. Namun, apa yang terjadi? Ternyata hingga matahari tergelincir di ufuk barat, mereka tidak datang tanpa informasi.
Entah apa sebenarnya yang menjadi alasan Dul Kemit tidak mau menyelesaikan masalah perselisihan dia dengan guru di Disnaker. Infonya, dia berargumen bahwa perselisihan dia dengan guru adalah masalah internal yayasan dan tidak layak untuk dibawa ke Disnaker.
Boleh saja Dul Kemit bilang begitu, namun guru-guru yakin seyakin-yakinnya bahwa kasus mereka layak untuk dibawa kepada ketenagakerjaan. Karena menurut mereka bahwa kasus pemecatan sepihak yang dilakukan Dul Kemit memenuhi unsur ketenagakerjaan.
TRIPARTIT gagal, senasib dengan BIPARTIT. Berhentikah guru-guru mencari keadilan? Apa langkah berikutnya yang akan ditempuh?
"Kepo Kang." Komen kang Ujang sudah tak sabar. "Terus apa yang dilakukan guru-guru?"
"Tahan dulu Kang." Jawab kang Encep bikin gemes.

Sumber : Klik di sini