DUL KEMIT THE SERIES 40
Tour De Jawa Ujung Wetan Ujung Kulon 5
Sehat Tak Dapat Malah Dirawat
Oleh : Arif Yosodipuro
Oleh : Arif Yosodipuro
Menjelang keberangkatan, peserta tour berkumpul di depan pintu gerbang utama, main gate, berbaris rapi membanjar mengikuti seremonial keberangkatan. Agenda acaranya cukup motivatif.
Para peserta tampak sangat antusias dan bersemangat. Usai pembukaan, mereka menyanyikan lagu kebangsaan stanza lengkap sesuai dengan gubahan aslinya secara gegap gempita. Kemudian dilanjutkan janji peserta dengan penuh semangat dan suara lantang yang dipimpin oleh petugas dari peserta terpilih setelah pembacaan asmaul husna. Lalu agenda diteruskan dengan arahan dari ketua jelajah yang nota benenya kyai Dul Kemit sebagai gongnya.
Usai acara seremonial, berikutnya peserta melakukan stretching sebagai pemanasan dan peregangan otot agar lentur dan tidak mudah kram atau salah urat. Seluruh anggota tubuh yang terkait mereka gerak-gerakkan secara bergantian, mulai dari kepala hingga kaki. Gerakan mereka cukup kompak sekompak pelajar yang sedang mengikuti lomba baris berbaris. Mereka focus dan mengikuti instruksi sang pemandu.
Perwakilan Kementrian Pemuda dan Olah Raga yang diundang datang mendapat kehormatan untuk memberangkatkan. Didampingi penggede pesantren yang tidak ikut tour, perwakilan itu memegang bendera start. Ia berdiri di depan dan memberi aba-aba kepada peserta, “satu…, dua….., tiiigaaa……!!!”. bersamaan itu pula dia mengibarkan bendera BREEEET….
Rombongan mulai berkayuh berurutan sesuai nomor. Satu per satu meninggalkan lokasi melaju ke perjalanan panjang yang memakan waktu hampir satu bulan. Bangga dan semangat tampak di raut wajah mereka. Sementara warga pesantren yang tidak ikut, berdiri rapi menjadi pagar betis mengantarkan pemberangkatan. Ungkapan penyemangat mereka teriakkan dibarengi dengan lambaian tangan.
Di awal keberangkatan mereka tampak antusias dan bersemangat. Namun setelah beberapa hari dan beberapa etape dilewati, banyak yang tak bisa melanjutkan. Jauhnya jarak tempuh dan lamanya waktu perjalanan membuat mereka kelelahan, dehidrasi, meriang, juga pantat dan kaki lecet.
Niat dan semangat tak mampu menghantarkan mereka terus berbuat. Dengan terpaksa dan perasaan kecewa, mereka harus rela berpisah dari barisan untuk mendapat perawatan. Ada yang ringan dan ada yang berat. Karena seriusnya, ada yang dirawat hampir sebulan untuk bisa pulih kembali.
“Kasihan ya….” Celetuk kang Ujang empati.
“Iya…..” Sahut kang Encep iba. “SEHAT TAK DAPAT MALAH DIRAWAT….”
Sumber : Klik di sini

No comments:
Post a Comment