Monday, January 22, 2018

DUL KEMIT THE SERIES 39

DUL KEMIT THE SERIES 39
Tour De Jawa Ujung Wetan Ujung Kulon (4)
Sejahtera Mengawang Hutang pun Menggudang
Oleh : Arif Yosodipuro


Kisah pilu peserta Tour De Jawa Ujung Wetan Ujung Kulon yang digelar oleh Dul Kemit berikutnya adalah HUTANG YANG MENGGUDANG. Karena, rombongan yang mengikuti unjuk diri itu tak semuanya berekonomi mampu. Sebagian ada yang hidupnya pas-pasan, bahkan kurang. Apa lagi bagi mereka yang hidupnya tergantung dan bertopang pada hasil setoran amplop. Bisa Anda bayangkan……?!
Demi mendapat pujian dari sang pimpinan, juga tak mau dikatakan sebagai warga yang TIDAK TAAT, KASLAN, BUGHOT, KELUAR DARI BARISAN, GAK MENDUKUNG PROGRAM, dan semacamnya, mereka memaksakan diri untuk mengikuti program terebut. Tak ayal segala cara pun mereka tempuh asalkan bisa ikut tour.
Demi ikut tour, banyak kordinator “MISKIN,” yang tak mampu membeli sepeda dan membayar biaya, meminta anggotanya dan warga di bawah naungannya untuk urunan, membiayainya. Dengan dalih bahwa ini perintah pimpinan dan untuk menyukseskan program yayasan, mereka mendatangi rumah warga anggotanya, satu per satu menyampaikan sosialisasi dan meminta sumbangan.
Warga koordinator pun memberinya dengan perasaan variatif. Mereka yang ekonominya baik/mampu tak merasa keberatan dan rela mendonasi. Sedangkan mereka yang ekonominya kurang, hidupnya pas-pasan, “MISKIN” merasa keberatan dan memberinya dengan keterpaksaan.
Sementara itu peserta yang bukan koordinator, mereka mencari pinjaman sana-sini untuk memenuhi biaya konsumsi dan akomodasi. Seperti kepada keluarga, kerabat sampai kepada tetangga. Agar mendapat empati, jurus janji manis pun mereka keluarkan. Mereka bilang bahwa selesai sepedaan akan dibayar.
Sedangkan untuk pengadaan sepeda, Dul Kemit kerjasama dengan sebuah dealer memberikan pinjaman (kepada peserta) yang pembayarannya diangsur. Wal hasil, usai sepedaan bukan sejahtera dan bahagia yang mereka dapatkan. Namun, lelah fisik dan lelah pikiran lantaran memikirkan angsuran/ cicilan sepeda dan harus membaryar hutang.
“Tapi…….., mereka mau dan bangga lho, kang,” celetuk kan Ujang kepada kang Encep, menyela.
“Nggak juga, kang. Banyak kok yang mengeluh……. Karena selain hanya capek yang mereka dapatkan, mereka harus menanggung HUTANG YANG MENGGUDANG.” Kata kang Encep membeberkan.

Sumber : Klik di sini

No comments:

Post a Comment