DUL KEMIT THE SERIES 42
Sandiwara Asal Selamat
Oleh : Arif Yosodipuro
Kepongahan, keakuan, kekasaran, kearoganan, dan kekakuan Dul Kemit membuat sebagian warga pesantren kecewa. Apalagi ditambah dengan banyaknya program yang gagal. Hampir di seluruh komponen, baik di kalangan eksponen, guru, maupun karyawan merasakannya.
Banyak kebijakan Dul Kemit didambil tanpa musyawarah. Kalaulah musyawarah, peserta diarahkan untuk mengamini dan mengiyakan idenya. Bahkan hasil musyawarah pun dikesampingkan. Bisa jadi hasil musyawarah diabaikan dan mengambil kebijakan yang idenya baru ketemu di jalan. SPORADIS. Kalau ada warga yang menceletuk sesuatu, dan sesuatu itu masuk ke pikirannya, dia diam tanpa ekspresi. Setelah sampai di kamar, ia renungkan kembali. Kemudian ia ambil ide itu dan jadilah keputusan.
Sekalipun kesal, mereka tak berani berterus terang menyampaikan kepada Dul Kemit. Mereka hanya ngedumel, mangkel, menggosip membicarakan di belakang orangnya. Karena sesiapa pun yang berani mengkritisi akan dipelototi, didamprat, dihujat, dimarahi dan diteriaki dengan celotehan yang tak terkendali.
Hal seperti ini sudah dirasakan oleh warga sejak berdirinya pesantren. Misalnya, usai penerimaan calon guru, Dul Kemit memberi kesempatan kepada mereka, satu per satu untuk menyampaikan kesan dan pesannya selama di lingkungan pesantren dan proses penerimaan.
Ada seorang calon guru yang menyampaikan saran, berdasarkan pengamatan dan penglihatannya, agar kegiatan sholat ritual lima waktu dilaksanakaan sebagaimana mestinya. Karena menurutnya hal ini sangat sensitif. Dia khawatir kalau-kalau nanti menjadi perbincangan masyarakat luas.
Usai penyampaian kesan dan pesan semua calon guru, giliran Dul Kemit menanggapinya. Muqaddimahnya biasa saja, datar. Di luar dugaan situasi yang tenang, damai, penuh keakraban dan hikmat itu berubah menjadi TEGANG DAN MENCENGANGKAN.
Mendapat masukan tentang shalat, Dul Kemit teriak lantang kepada pemberi saran di hadapan jamaah dan mengusirnya. “KELUAAAAARRRRR…….!” Bentaknya kasar sambil menggerak-gerakkan tangan kanannya dan mengacung-acungkan jari telunjukkan. “Tidak ada yang sensitif di sini. Kalau saudara menganggap di sini sensitif, lebih baik saudara KELUAR…tidak usah bergabung dengan kami.” Begitulah kurang lebihnya, hardik Dul Kemit.
Spontan, audience bungkam menyunyi, hening, desah nafas pun tak kedengaran. Tubuh mereka mengaku, membeku bagai terendam salju. Kepala mereka menunduk pilu tak berani mendongak tegak. Mereka hanya berkedip dan larak-lirik kepada teman di sebelahnya.
Begitulah ekspresi Dul Kemit menanggapi masukan atau kritikan. Dia sangat reaktif, protektif, dan emosional agresif. Mereka berpikir bahwa apa yang dilakukan Dul Kemit itu hindam, gaya seorang pemimpin dan menanggapinya sebagai hal yang wajar. Ternyata hal ini terus berlanjut sampai saat ini.
Saking takutnya sampai ada warga yang rela mengesot beberapa meter sebelum bertemu Dul Kemit. T…E…R…L…A…L…U. Akibatnya warga memilih diam dan bersandiwara, terutama eksponen yang hari-harinya berkumpul dan bertemu dengannya.
Untuk itu di hadapan Dul Kemit, mereka berpura-pura setia, manggut-manggut, mengangguk-angguk, njih. Nuhun kasingggihan kanjeng dalem Dul Kemit. Kalau Dul Kemit tertawa, mereka ikut tertawa, seperti lawakan OVJ. Kalau Dul Kemit diam, mereka pun ikut diam.
Selanjutnya, ketika dia marah, mereka bungkam, leher tunduk menekuk, hening tak bergeming. CEP KLAKEP, bagai orong-orong yang sedang mengerik terinjak. LANGSUNG BERHENTI. Namun di belakangnya, mereka membicarakan dan menggunjing sepuas-puasnya.
“Kenapa begitu Kang…?” Celetuh kang Ujang.
“Ya iyalah….” Sahut kang Encep serius. “Kalau mereka berani kritik, ya langsung diusir, seperti yang sudah-sudah. Kan sudah banyak eksoponen, karyawan, petugas pertanian yang diusir. Dan yang paling anyar ratusan guru ber-NRG dan ber-SERTIFIKASI diusir, dipecat sepihak dengan sewenang-wenang.”
“O…. gitu ya…..?” Ujar kang Ujang terheran-heran. “Pantes pada milih SANDIWARA ASAL SELAMAT…”