Tuesday, January 30, 2018

Undercover 84

RENUNGAN KEMALAMAN..
Akibat Galau Tingkat Tinggi, Cabut dari Pondok

Oleh : Abdul Imanuddin


Banyak karyawan pondok pesantren yang sudah jengah dan muak setengah mati melihat kelakuan Dul Kemit n kroco2nya...

Seperti pagi ini, datang seorang ex karyawan yang beberapa bulan lalu keluar dari tempat ia mengabdi buta selama bertahun-tahun....Ia merasa galau dan tidak tenang bekerja di pondok. Pikirannya kacau. 
Banyak hal yang menurutnya sudah tidak sesuai dengan tuntunan Islam. Mantan karyawan ini dulu bertugas di pabrik beras. Selama di sana, ia mendapati kenyataan yang sangat pahit.

Celengan Dul Kemit, inisial K, melejit karirnya menjadi penguasa pabrik beras melebihi karyawan yang lain. Padahal siapa dia, bagaimana asal usulnya, tiba2 menduduki posisi paling tinggi, petantang petenteng di depan karyawan seenaknya. Sampai2 supir pribadi dul kemit saja nunduk2 manut. 
Sebenarnya banyak karyawan yang sudah jengah juga dengan kondisi ini. Tapi tidak bisa berbuat apa-apa....


Bagaimana dengan Anda??? Segeralah ambil langkah waras sebelum terlambat...

Sumber : Klik di sini

DUL KEMIT THE SERIES 43

DUL KEMIT THE SERIES 43
Jeritan Hati Guru 1; Menjeritlah
Oleh : Arif Yosodipuro


Kepongahan Dul Kemit yang mengusir guru-guru ber-NRG dan ber-SERTIFIKASI yang sudah mendedikasikan diri selama hampir dua dasawarsa, mengurai kekecewaan dan beragam perasaan. Seperti yang dirasakan oleh Halimah.
Awalnya Halimah enggan menceritakan dan mengungkit-ungkit masa lalu yang sudah ia kubur dalam-dalam dari memori kehidupannya. Ia pikir “Ah sudahlah. Yang lalu biarlah berlalu.” Namun setelah mendapat perlakuan semena-mena dari Dul Kemit, ia pun tak kuasa membendungnya. Tembok tebal setebal tembok china, tanggul besar sebesar tanggul bendungan Jati Luhur, akhirnya jebol mempertahankan prinsip tersebut.
Awal kisah bermula dari keikutsertaan Halimah bergabung dengan pesantren yang dirintis oleh Dul Kemit. Halimah yang masih bujang, lugu dan polos, masih fresh graduate, mendapat tawaran dari seseorang utusan pesantren untuk bergabung. Karena ada kecocokan, Halimah pun mengiyakan ajakan tersebut tanpa sepengetahuan orangtuanya. Ia khawatir kalau mereka tahu akan melarangnya atau tidak mengizinkannya.
Dengan kelihaian deplomasi dan narasi sang utusan menyampaikan kepada Halimah bahwa fasilitas yang disediakan komplit, sekomplit jamu tolak angin yang komplit pliiiiit. Gaji melebihi gaji PNS, mendapat makan tiga kali, dapat susu, disediakan perumahan yang luasnya satu hektar per orang. Bangunan rumahnya tinggi bukan seperti rumah penduduk sekitar. Pintunya 2,5 meter, sehingga leluasa keluar masuk. Pokoknya dijamin siiiip lah.
Dengan hati berbunga-bunga, Halimah merasa ada harapan mendapat kehidupan yang mapan dan layak di masa hadapan. Ia bersama rekan-rekan barunya hasil rekrutan sang coordinator/ perwakilan berangkat ke komplek pesantren dengan kendaraan roda empat.
Komplek pesantren yang terletak nan jauh dari perkotaan dan tempat tinggal, membuat Halimah dan teman-teman penuh Tanya. Tempat itu asing, tak terkenal. Namanya pun baru Halimah dengar dari sang koordinator. Jauhnya jarak tempuh membuat Halimah dan teman-teman kelelahan sehinga rasa penasaranya hilang. Lambat laun mereka tertidur pulas, tahu-tahu sudah sampai di tempat tujuan.
Begitu mata terbuka, mereka terbelalak melihat bangunan yang megah sekalipun masih sedang dalam pengerjaan. Ornamennya beda dengan bangunan lain. Seolah mereka berada di negeri lain, bukan di negeri sendiri. Mereka berjalan menuju penginapan yang disediakan panitia sambil tidak percaya.
Selama masa proses penerimaan, semua calon guru tidak boleh ke mana-mana dengan alasan keamanan. Mereka selalu diawasi, tidak boleh keluar pesantren, tidak boleh meninggalkan penginapan tanpa arahan pemandu. Hari-hari selama masa menunggu hasil test / pengumuman sampai mereka ditugaskan – hanya tidur, makan, tidur, makan.
Hal ini membuat perasaan Halimah dan teman-temannya putus asa, gundah gulana, gusar tak sabar, khawatir. Terlebih keberangkatan mereka tidak diketahui orangtua. Mereka tidak betah dan ingin cepat pulang untuk memberitahu keluarga.
Halimah tak bisa menyembunyikan perasaan galaunya. Ketika ia mendapat giliran untuk menyampaikan pesan kesan, ia utarakan di depan Dul Kemit dan audience lainnya. “Selama menunggu,” ucapnya menyampaikan perasaannya, “perasaan saya tersiksa. Hari-hari hanya makan, tidur, makan, tidur. Mau keluar tidak boleh, lingkungannya terbatas pada penginapan. Rasanya hati ini ingin MENJERIT.” Lanjut Halimah polos memelas.
Lagi-lagi, mendengar ungkapan calon guru seperti di atas, Dul Kemit bukan menenangkan, meredam, melindungi. Justru sebaliknya. Ia MARAH, MENGUMPAT, mata melotot, dan alisnya menjabrik. “Kalau mau MENJERIT, MENJERITLAH…..,” Hardik Dul Kemit geram. “DIKASIH SANTAI, DIKASIH MAKAN ENAK MASIH SAJA PROTES. Gombel (nama panggilan untuk sapi) saja bisa ANTENG, tenang.” Lanjutnya sambil manyun.

Sumber : Klik di sini

DUL KEMIT THE SERIES 42

DUL KEMIT THE SERIES 42
Sandiwara Asal Selamat
Oleh : Arif Yosodipuro


Kepongahan, keakuan, kekasaran, kearoganan, dan kekakuan Dul Kemit membuat sebagian warga pesantren kecewa. Apalagi ditambah dengan banyaknya program yang gagal. Hampir di seluruh komponen, baik di kalangan eksponen, guru, maupun karyawan merasakannya.
Banyak kebijakan Dul Kemit didambil tanpa musyawarah. Kalaulah musyawarah, peserta diarahkan untuk mengamini dan mengiyakan idenya. Bahkan hasil musyawarah pun dikesampingkan. Bisa jadi hasil musyawarah diabaikan dan mengambil kebijakan yang idenya baru ketemu di jalan. SPORADIS. Kalau ada warga yang menceletuk sesuatu, dan sesuatu itu masuk ke pikirannya, dia diam tanpa ekspresi. Setelah sampai di kamar, ia renungkan kembali. Kemudian ia ambil ide itu dan jadilah keputusan.
Sekalipun kesal, mereka tak berani berterus terang menyampaikan kepada Dul Kemit. Mereka hanya ngedumel, mangkel, menggosip membicarakan di belakang orangnya. Karena sesiapa pun yang berani mengkritisi akan dipelototi, didamprat, dihujat, dimarahi dan diteriaki dengan celotehan yang tak terkendali.
Hal seperti ini sudah dirasakan oleh warga sejak berdirinya pesantren. Misalnya, usai penerimaan calon guru, Dul Kemit memberi kesempatan kepada mereka, satu per satu untuk menyampaikan kesan dan pesannya selama di lingkungan pesantren dan proses penerimaan.
Ada seorang calon guru yang menyampaikan saran, berdasarkan pengamatan dan penglihatannya, agar kegiatan sholat ritual lima waktu dilaksanakaan sebagaimana mestinya. Karena menurutnya hal ini sangat sensitif. Dia khawatir kalau-kalau nanti menjadi perbincangan masyarakat luas.
Usai penyampaian kesan dan pesan semua calon guru, giliran Dul Kemit menanggapinya. Muqaddimahnya biasa saja, datar. Di luar dugaan situasi yang tenang, damai, penuh keakraban dan hikmat itu berubah menjadi TEGANG DAN MENCENGANGKAN.
Mendapat masukan tentang shalat, Dul Kemit teriak lantang kepada pemberi saran di hadapan jamaah dan mengusirnya. “KELUAAAAARRRRR…….!” Bentaknya kasar sambil menggerak-gerakkan tangan kanannya dan mengacung-acungkan jari telunjukkan. “Tidak ada yang sensitif di sini. Kalau saudara menganggap di sini sensitif, lebih baik saudara KELUAR…tidak usah bergabung dengan kami.” Begitulah kurang lebihnya, hardik Dul Kemit.
Spontan, audience bungkam menyunyi, hening, desah nafas pun tak kedengaran. Tubuh mereka mengaku, membeku bagai terendam salju. Kepala mereka menunduk pilu tak berani mendongak tegak. Mereka hanya berkedip dan larak-lirik kepada teman di sebelahnya.
Begitulah ekspresi Dul Kemit menanggapi masukan atau kritikan. Dia sangat reaktif, protektif, dan emosional agresif. Mereka berpikir bahwa apa yang dilakukan Dul Kemit itu hindam, gaya seorang pemimpin dan menanggapinya sebagai hal yang wajar. Ternyata hal ini terus berlanjut sampai saat ini.
Saking takutnya sampai ada warga yang rela mengesot beberapa meter sebelum bertemu Dul Kemit. T…E…R…L…A…L…U. Akibatnya warga memilih diam dan bersandiwara, terutama eksponen yang hari-harinya berkumpul dan bertemu dengannya.
Untuk itu di hadapan Dul Kemit, mereka berpura-pura setia, manggut-manggut, mengangguk-angguk, njih. Nuhun kasingggihan kanjeng dalem Dul Kemit. Kalau Dul Kemit tertawa, mereka ikut tertawa, seperti lawakan OVJ. Kalau Dul Kemit diam, mereka pun ikut diam.
Selanjutnya, ketika dia marah, mereka bungkam, leher tunduk menekuk, hening tak bergeming. CEP KLAKEP, bagai orong-orong yang sedang mengerik terinjak. LANGSUNG BERHENTI. Namun di belakangnya, mereka membicarakan dan menggunjing sepuas-puasnya.
“Kenapa begitu Kang…?” Celetuh kang Ujang.
“Ya iyalah….” Sahut kang Encep serius. “Kalau mereka berani kritik, ya langsung diusir, seperti yang sudah-sudah. Kan sudah banyak eksoponen, karyawan, petugas pertanian yang diusir. Dan yang paling anyar ratusan guru ber-NRG dan ber-SERTIFIKASI diusir, dipecat sepihak dengan sewenang-wenang.”
“O…. gitu ya…..?” Ujar kang Ujang terheran-heran. “Pantes pada milih SANDIWARA ASAL SELAMAT…”

Sumber : Klik di sini

DUL KEMIT THE SERIES 41

DUL KEMIT THE SERIES 41
Tour De Jawa Ujung Wetan Ujung Kulon 5
Usai Berkayuh Maut Menjemput
Oleh : Arif Yosodipuro



Perjalanan tour yang jauh dan lama memerlukan kondisi fisik yang prima. Belajar dari pengalaman tour-tour sebelumnya ada yang meninggal karena kelelahan dan fisik yang tidak mumpuni, Dul Kemit menetapkan agar setiap peserta mengikuti MCU, Medical Check Up.
Tunduk dan patuh pada perintah sang penguasa dan pemberi instruksi, para peserta berbondong-bondong mendatangi rumah sakit yang ditunjuk. Satu per satu mereka diperiksa oleh tenaga medis. Usai pemeriksaan, ada peserta yang dengan bangganya memamerkan hasil MCU-nya dalam status medsosnya, facebook. Ada yang meng-upload gambar saat mereka tiba di rumah sakit, ada juga gambar saat mereka mengantre, dan ada juga yang berupa kalimat redaksi.
Dengan hasil check up tersebut, peserta bisa mengukur diri atau setidaknya memahami kondisi kesehatannya. Sekalipun begitu, ada beberapa peserta yang memaksakan diri padahal kondisi kesehatan kurang baik, termasuk ada yang memiliki riwayat penyakit yang memerlukan perawatan intensif. Mereka tetap ikut tour karena kepatuhan dan ketakutannya kepada Dul Kemit, sang penguasa TUNGGAL.
Wal hasil, pemaksaan diri itu berakibat fatal. Entah secara kebetulan atau memang sudah menjadi qadha’ Allah, usai mengikuti Tour De Jawa Ujung Wetan Ujung Kulon, ada beberapa peserta yang kesehatannya semakin menurun, alias drop. Ada yang kadar gulanya semakin tinggi karena berhenti total setelah tour. Ada pula yang asma dan serangan jantungnya kambuh.
Tragisnya dikabarkan ada dua orang peserta yang meregang nyawa, menghadap kepada Allah Yang Maha Kuasa, Sang Pemilik Jagad Raya. Sontak kejadian ini menjadi pukulan kepada keluarga almarhum yang ditinggalkan. Kesedihan dan rasa duka yang mendalam tak bisa dihindarkan karena harus berpisah dengan orang yang dicintai.
Tak ada yang bisa dilakukan oleh Dul Kemit kepada keluarga almarhum kecuali mengutus perwakilan untuk berta’ziyah sebagai dorongan moral serta memberikan nasihat bahwa almarhum itu mati syahid karena telah bergabung dengan Tour De Jawa Ujung Wetan Ujung Kulon yang bertema CINTA TANAH AIR. YAYASAN KAYA; WARGA SEJAHTERA.
Lagi-lagi kang Ujang tak kuasa menahan ibanya. Iya langsung menyela kang Encep, “Aduh kasihan ya kang…..? Gak ada yang ngurus keluarga yang ditinggalkan.”
“Iya kang, kasihan. USAI BERKAYUH MAUT MENJEMPUT.” Kata kang Ujang sedih.

Sumber : Klik di sini

Tuesday, January 23, 2018

DUL KEMIT THE SERIES 40

DUL KEMIT THE SERIES 40
Tour De Jawa Ujung Wetan Ujung Kulon 5
Sehat Tak Dapat Malah Dirawat
Oleh : Arif Yosodipuro



Menjelang keberangkatan, peserta tour berkumpul di depan pintu gerbang utama, main gate, berbaris rapi membanjar mengikuti seremonial keberangkatan. Agenda acaranya cukup motivatif.
Para peserta tampak sangat antusias dan bersemangat. Usai pembukaan, mereka menyanyikan lagu kebangsaan stanza lengkap sesuai dengan gubahan aslinya secara gegap gempita. Kemudian dilanjutkan janji peserta dengan penuh semangat dan suara lantang yang dipimpin oleh petugas dari peserta terpilih setelah pembacaan asmaul husna. Lalu agenda diteruskan dengan arahan dari ketua jelajah yang nota benenya kyai Dul Kemit sebagai gongnya.
Usai acara seremonial, berikutnya peserta melakukan stretching sebagai pemanasan dan peregangan otot agar lentur dan tidak mudah kram atau salah urat. Seluruh anggota tubuh yang terkait mereka gerak-gerakkan secara bergantian, mulai dari kepala hingga kaki. Gerakan mereka cukup kompak sekompak pelajar yang sedang mengikuti lomba baris berbaris. Mereka focus dan mengikuti instruksi sang pemandu.
Perwakilan Kementrian Pemuda dan Olah Raga yang diundang datang mendapat kehormatan untuk memberangkatkan. Didampingi penggede pesantren yang tidak ikut tour, perwakilan itu memegang bendera start. Ia berdiri di depan dan memberi aba-aba kepada peserta, “satu…, dua….., tiiigaaa……!!!”. bersamaan itu pula dia mengibarkan bendera BREEEET….
Rombongan mulai berkayuh berurutan sesuai nomor. Satu per satu meninggalkan lokasi melaju ke perjalanan panjang yang memakan waktu hampir satu bulan. Bangga dan semangat tampak di raut wajah mereka. Sementara warga pesantren yang tidak ikut, berdiri rapi menjadi pagar betis mengantarkan pemberangkatan. Ungkapan penyemangat mereka teriakkan dibarengi dengan lambaian tangan.
Di awal keberangkatan mereka tampak antusias dan bersemangat. Namun setelah beberapa hari dan beberapa etape dilewati, banyak yang tak bisa melanjutkan. Jauhnya jarak tempuh dan lamanya waktu perjalanan membuat mereka kelelahan, dehidrasi, meriang, juga pantat dan kaki lecet.
Niat dan semangat tak mampu menghantarkan mereka terus berbuat. Dengan terpaksa dan perasaan kecewa, mereka harus rela berpisah dari barisan untuk mendapat perawatan. Ada yang ringan dan ada yang berat. Karena seriusnya, ada yang dirawat hampir sebulan untuk bisa pulih kembali.
“Kasihan ya….” Celetuk kang Ujang empati.
“Iya…..” Sahut kang Encep iba. “SEHAT TAK DAPAT MALAH DIRAWAT….”

Sumber : Klik di sini

Monday, January 22, 2018

DUL KEMIT THE SERIES 39

DUL KEMIT THE SERIES 39
Tour De Jawa Ujung Wetan Ujung Kulon (4)
Sejahtera Mengawang Hutang pun Menggudang
Oleh : Arif Yosodipuro


Kisah pilu peserta Tour De Jawa Ujung Wetan Ujung Kulon yang digelar oleh Dul Kemit berikutnya adalah HUTANG YANG MENGGUDANG. Karena, rombongan yang mengikuti unjuk diri itu tak semuanya berekonomi mampu. Sebagian ada yang hidupnya pas-pasan, bahkan kurang. Apa lagi bagi mereka yang hidupnya tergantung dan bertopang pada hasil setoran amplop. Bisa Anda bayangkan……?!
Demi mendapat pujian dari sang pimpinan, juga tak mau dikatakan sebagai warga yang TIDAK TAAT, KASLAN, BUGHOT, KELUAR DARI BARISAN, GAK MENDUKUNG PROGRAM, dan semacamnya, mereka memaksakan diri untuk mengikuti program terebut. Tak ayal segala cara pun mereka tempuh asalkan bisa ikut tour.
Demi ikut tour, banyak kordinator “MISKIN,” yang tak mampu membeli sepeda dan membayar biaya, meminta anggotanya dan warga di bawah naungannya untuk urunan, membiayainya. Dengan dalih bahwa ini perintah pimpinan dan untuk menyukseskan program yayasan, mereka mendatangi rumah warga anggotanya, satu per satu menyampaikan sosialisasi dan meminta sumbangan.
Warga koordinator pun memberinya dengan perasaan variatif. Mereka yang ekonominya baik/mampu tak merasa keberatan dan rela mendonasi. Sedangkan mereka yang ekonominya kurang, hidupnya pas-pasan, “MISKIN” merasa keberatan dan memberinya dengan keterpaksaan.
Sementara itu peserta yang bukan koordinator, mereka mencari pinjaman sana-sini untuk memenuhi biaya konsumsi dan akomodasi. Seperti kepada keluarga, kerabat sampai kepada tetangga. Agar mendapat empati, jurus janji manis pun mereka keluarkan. Mereka bilang bahwa selesai sepedaan akan dibayar.
Sedangkan untuk pengadaan sepeda, Dul Kemit kerjasama dengan sebuah dealer memberikan pinjaman (kepada peserta) yang pembayarannya diangsur. Wal hasil, usai sepedaan bukan sejahtera dan bahagia yang mereka dapatkan. Namun, lelah fisik dan lelah pikiran lantaran memikirkan angsuran/ cicilan sepeda dan harus membaryar hutang.
“Tapi…….., mereka mau dan bangga lho, kang,” celetuk kan Ujang kepada kang Encep, menyela.
“Nggak juga, kang. Banyak kok yang mengeluh……. Karena selain hanya capek yang mereka dapatkan, mereka harus menanggung HUTANG YANG MENGGUDANG.” Kata kang Encep membeberkan.

Sumber : Klik di sini

Sunday, January 21, 2018

DUL KEMIT THE SERIES 38

DUL KEMIT THE SERIES 38
Tour De Jawa Ujung Wetan Ujung Kulon (3)
Demi Tenar - Anak Isteri Telantar
Oleh : Arif Yosodipuro



Tour De Jawa Ujung Wetan Ujung Kulon yang digelar oleh Dul Kemit menyisakan banyak kisah pilu bagi sebagian peserta. Satu di antaranya, tak diperhatikannya keluarga.
Sejak mendaftarkan diri menjadi peserta tour perhatiannya pindah, beralih, bergeser tertuju pada sepeda. Sampai-sampai uang belanja yang seharusnya diberikan kepada isteri pun dioper penggunaannya untuk kepentingan sepedaan. Yang untuk beli perlengkapanlah, yang untuk beli aksesorislah, dan tetek mbengek, apa saja, yang terkait dengan tour.
Padatnya jadwal latihan dalam mempersiapkan tour yang akan digelar cukup lama, membuat para peserta jarang di rumah dan kurang memperhatikan anak dan isteri. Ini semua mereka lakukan demi mendapat pujian dari sang pimpinan, juga tak mau dikatakan sebagai warga yang TIDAK TAAT, KASLAN, BUGHOT, KELUAR DARI BARISAN, GAK MENDUKUNG PROGRAM, dan semacamnya, mereka memaksakan diri untuk mengikuti program terebut, sekalipun dengan cara ngutang.
Ketakutannya itu mengalahkan kewajiban utama. Menafkahi keluarga yang menjadi kewajiban utama bagi seorang suami itu mereka abaikan. Seolah dinomorduakan, terkalahkan oleh ketaatannya kepada pimpinan. Mereka seolah buta dan tuli terhadap keluhan anak dan isteri. Protes, kritikan dan keluhan dari isteri mereka biarkan begitu saja. Kepiting lima merapat ke dedaunan. Yang penting dapat nama di depan pimpinan.
Beras habis, uang saku anak tak ada, uang belanja kurang, bedak dan make up isteri habis pun tak dipedulikan. Banyak sebagian isteri peserta yang menyampaikan keluhannya kepada kawan, kolega dan tetangganya karena tidak diperhatikan setelah suaminya mengikuti program tour sepeda.
Mungkin karena sangat kesal kepada suaminya yang tak acuh, cuek, dan tak memperhatikannya, ada seorang isteri peserta tour sepeda yang meng-upload video keluhan dan kekesalannya ke medsos. Cukup mencengangkan. Videonya sudah di-share oleh banyak warga netizen. Berikut perkataannya:
Orang laki tahunya gowas-gowes, gowas-gowes….Peda bae dipegangin. Bini boro tau pegang apa nggak. loe itu kelonin bini, bukan sepeda yang dikelonin. Lama-lama gue buakar sepeda. Bleg aja ama sepeda bae. Apa-apa sepeda, apa-apa sepeda. Kali bini bedaknya habis dibeliin…..
“Oalah…. kasihan ya kang?” Komen kang Ujang iba.
“Ya kasihan gak kasihan, kang.” Kang Encep memandang kang Ujang tajam. “Wong merekanya mau dan bangga. Mau gimana lagi? Itu mah baru satu dari sekian banyak isteri yang merasa tidak diperhatikan suaminya lantaran mengikuti tour sepeda Dul Kemit. BANYAK kok yang LAIN.” Kata kang Encep menambahkan.
“Kok tega ya……..?”
“Begitulah, kang. DEMI TENAR ANAK ISTERI TELANTAR….”

Sumber : Klik di sini

DUL KEMIT THE SERIES 37

DUL KEMIT THE SERIES 37
Tour De Jawa Ujung Wetan Ujung Kulon (2)
Qorun Jaman Now


Rombongan tour mengular sepanjang lebih dari satu kilometer. Mengenakan kostum yang seragam, berbaris menggowes di sepanjang jalan yang padat arus lalu lintasnya, membuat mereka bangga diri. Dul Kemit pun membusungkan dada. Seolah hanya merekalah yang bisa berbuat dan paling super.
Kebanggaan diri itu mereka pertontonkan, tidak hanya selama dalam perjalanan tetapi juga di tempat peristirahatan. Sesampainya di pos peristirahatan, setelah menggowes sejauh jarak tertentu per etape, mereka berbaris, kemudian dengan bangganya menyanyikan lagu kebangsaan secara lengkap, semua stanza aslinya.
Uforia dan arogansi Dul Kemit bertambah karena di setiap pos penginapan, etape, ia dan rombongan disambut oleh pejabat setempat, setingkat kabupaten, kodim, ataupun polres. Dengan kelihaian deplomasi belutnya, Dul Kemit memasukkan kata-kata hipnosisnya untuk memengaruhi mereka. Tak ayal pejabat yang baru sekali bertemu dengannya pun terkesima dan terangguk-angguk dengan celotehan sang arogan tersebut.
Usai istirahat semalam, keesokannya, mereka melanjutkan “TOUR DE PAMER-nya” menuju etape berikutnya. Ada yang kagum dengan aksi tersebut. Tetapi, ada pula yang jengkel, khususnya para sopir yang terpaksa harus menunggu beberapa saat karena jalan mereka terganggu. Wajah mereka besengut, muram, kesal, dan jengkel. Tak jarang klakson mobil berbunyi menulikan telinga sebagai ekspresi dan luapan kekesalan mereka yang tergesa-gesa ingin segera lewat.
Sementara itu, para netizen mengkritik pedas event yang dilakukan Dul Kemit dan rombongan. Aksinya dinilai pemborosan, muspro, tak ada manfaatnya baik secara kesehatan maupun kesejahteraan, hanya buang uang, hanya untuk mencari kepuasan sendiri. Tak ubahnya hanya PAMER.
“Ah masa sih hanya pamer?” Tanya kang Ujang heran. “Kan katanya bertema BELA TANAH AIR, YAYASAN KAYA, WARGA SEJAHTERA, (maaf, tapi yang kaya hanya DUL KEMIT).”
“Iya benar. HANYA PAMER.” Kata kang Encep meyakinkan. Dulu, Qorun ummat Nabi Musa as. berkeliling kota dengan membawa harta kekayaannya untuk memamerkan diri bahwa dia orang kaya. Kini, Dul Kemit berkeliling pulau JAWA dengan membawa rombongannya, untuk memamerkan diri bahwa dia orang KUAT DAN BERKUASA di pesantrennya.
“Oalah…gitu…? Gak beda ya…..dengan Qarun.” Komen kang Ujang datar.
“Betul, kang. QORUN JAMAN NOW, gitu lo.” lanjut kang Encep gemas.

Sumber : Klik di sini

Saturday, January 20, 2018

DUL KEMIT THE SERIES 36

DUL KEMIT THE SERIES 36
Tour De Jawa Ujung Wetan Ujung Kulon
Pamer Arogansi
Oleh : Arif Yosodipuro


Kritikan terus mengalir terhadap program Dul Kemit yang (semuanya) gagal. Satu di antaranya program olah raga bersepeda yang diberi nama ASSAT, ASOSIASI SEPEDA SPORT SESAAT. Program ini 9 tahun MATI SURI. Tak terdengar kabar, tak ada baunya, tak ada denyut nadinya. MELEMPEM, NGELOKRO.
Pada hal dulunya program ini diagung-agungkan, diunggul-unggulkan. Dengan berbagai kemasan orasi, Dul Kemit memengaruhi warga pesantren agar mau bergabung. Jurus otoritas mulai digunakan untuk menghipnosis. Kata-kata manisnya mampu menerobos pori-pori dan pembuluh darah sehingga banyak warga peesantren yang terbius dan tak sadarkan diri mengamini ocehannya.
Melihat program mandeg, seorang netizen mengkritisinya. Dengan tegas dan menohok melalui meme yang dibuatnya, ia bilang, “ASSAT BUBAR.” Mendapat kritikan tajam, Dul Kemit menggeliat. Ia tolak pinggang, kaki mengangkang dan kepala mendongak layaknya sang BUTO RAHWANA. Imajinernya, dia bilang, “Kurang ajar. Berani-beraninya kritik gue. Awas loe.” Ia melangkah sambil petantang-petenteng kemudian berteriak, “TIDAK…. ASSAT TIDAK BUBAR. Lihat aja nanti…”
Untuk menutupi kegagalan dan membuktikan bahwa ASSAT masih eksis, dibuatlah program DADAKAN, SPORADIS, ASAL COMOT, NEMU DI JALAN, TAK TERSISTEM, dan ASAL NJEPLAK seperti orang mabuk, yaitu TOUR DE JAWA UJUNG WETAN UJUNG KULON. Untuk mewujudkan ide mabuknya, Dul Kemit mulai berorasi di setiap kesempatan.
Lagi-lagi MARKETING SPEECH-nya didengar dan mampu menggoyang dan menggoyahkan pikiran warga pesantren. Ucapan manis dan hipnosisnya bisa memengaruhi pikiran mereka, ditambah dengan bumbu ancaman dan pelabelan. Siapa yang tidak ikut, KASLAN, GAK MENDUKUNG PROGRAM, BUGHOT, KHIANAT, GAK TAAT, dan yang mengerikan, KELUAR DARI BARISAN GAK MASUK SURGA.
Wal hasil, Dul Kemit mampu mengumpulkan ratusan orang pengikut dan pendukung bualannya. Dengan sombong dan congkaknya ia bersama rombongan mulai berkelana MEMAMERKAN AROGANSINYA. Tujuannya, selain agar orang tahu kalau ASSAT masih ada, ia juga ingin menunjukkan, khususnya kepada guru yang ia usir, bahwa ia KUAT, TAK TERGOYAHKAN. Seolah ia bilang, “INI LHO AKU. KALIAN TAK ADA APA-APANYA.”
“Oalah kang kang, gowes ribuan kilometer hanya untuk PAMER AROGANSI……” celetuk kang Ujang mengomentari. “Terus gimana…..?” lanjutnya penasaran.
“Gimana tanggapan masyarakat journalis, gimana dampak pada keluarga peserta, seru kang the series berikutnya.” Kata kang Encep berjanji.

Sumber : Klik di sini

Wednesday, January 17, 2018

DUL KEMIT THE SERIES 35

DUL KEMIT THE SERIES 35
Ingkar Janji




Pada tahun-tahun awal berdirinya pesantren, Dul Kemit mengumbar janji manis kepada para karyawan untuk menyemangati mereka. Dengan janji manis itu, mereka rela bertungkus lumus, bekerja siang malam tanpa banyak menuntut. Dengan suka cita mereka pun rela diupah rendah yang jauh dari stadar nasional maupun regional.

Karena relanya, ketika mereka ditanya berapa gajinya, jawabnya hanya senyum sambil bilang, “ALHAMDULILLAH CUKUP’” Selain itu mereka pun bersedia tidak pulang bertemu keluarga demi target kerja yang harus mereka selesaikan.


Seiring dengan perjalanan waktu dan perkembangan suasana, terjadilah gonjang-ganjing di lingkungan karyawan. Mereka mencium bau tak enak, akal busuk Dul Kemit. Rasa tak puas dan gerah mulai merebak di kalangan karyawan. Gosip sana gosip sini hampir sering terdengar ketika mereka saling bertemu.


Untuk meredam gejolak para karyawan agar tidak meluas dan berdampak buruk, Dul Kemit mengumpulkan mereka di suatu tempat. Di situ Dul Kemit berorasi simpatik. Ia meyakinkan dan menyemangati para karayan agar tetap rela bekerja dengan penuh dedikasi.


Dul Kemit mengeluarkan senjata mematikan dengan mengatkan, “SAUDARA-SAUDARA, KITA BANGUN MA’HAD INI ADALAH UNTUK ANAK CUCU KITA. INI NANTI YANG MENEMPATI, YANG MENGISI ANAK-ANAK SAUDARA…..” Dengan kata-kata yang menghipnosis tersebut, karyawan pun tertebuai dan terkulai lemas tak berdaya. Gejolak pun mereda dan kondisi kembali stabil.


Namun, apa yang terjadi setelah itu. Dari tahun ke tahun ternyata banyak karyawan yang tidak bisa menyekolahkan anaknya di pesantren yang mereka bangun dengan alasan tak memiliki biaya. Dan teranyar di semester genap tahun 2018, RATUSAN SANTRI tak boleh masuk ke ma’had mengikuti pembelajaran sekembalinya dari libur semester karena belum MELUNASI TAGIHAN. Hampir sebulan pembelajaran sudah berjalan, mereka (yang tidak boleh masuk) berkeliaran/ KELELERAN di luar ma’had.


MANAKAH JANJI Dul Kemit yang katanya membangun ma’had untuk ANAK KARYAWAN…..? Ternyata Dul Kemit INGKAR JANJI….”Dasar PENGOBRAL JANJI….” gerutu seorang karyawan kesal.


Sumber : Klik di sini