Monday, January 2, 2017

Undercover 89

UNDERCOVER 89


SURAT TERBUKA DEWAN GURU, MANAJER PENDIDIKAN, MUDABBIR ASRAMA, DAN PENGURUS LAJNAH UNTUK SEMUA SIVITAS MAHAD AL-ZAYTUN


Memperhatikan perkembangan situasi, baik di kalangan guru-guru, lingkungan dalam/luar Mahad, dan di media sosial yang dirasakan semakin keluar dari esensi yang sebenarnya merupakan bentuk respon Dewan Guru terhadap pernyataan Syaykh Al-Zaytun, maka kami, Dewan Guru, Manajer Pendidikan, Mudabbir Asrama, dan Pengurus Lajnah merasa perlu menerbitkan surat terbuka untuk seluruh sivitas guna mengklarifikasi fakta yang ada agar tidak berkembang menjadi opini dan prasangka yang mengarah kepada fitnah.
Adapun kronologi kejadian adalah sebagai berikut: Jumat, 18 November 2016, tepatnya dalam Dzikir Jumat (Forum Syaykh Al-Zaytun menyampaikan pesan-pesan setelah salat Jumat di Masjid Al-Hayat Al-Zaytun) Dalam kesempatan tersebut Syaykh Al-Zaytun, A.S. Panji Gumilang, menyampaikan pernyataan antara lain, banyak guru nyeruwat, otaknya diisi asu edan dan sebagainya (Silahkan simak melalui video lengkap di youtube).
Selanjutnya Dzikir Jumat tersebut kemudian diunggah ke situs youtube. Dalam video tersebut jelas digunakan pembukaan resmi versi LKM dan dimunculkan pula logo LKM di sudut kiri atas. Hal ini dapat jelas menunjukkan bahwa video ini resmi keluarkan oleh LKM. Namun, saat ini video tersebut sudah diremove, hanya ada salinan yang diunggah oleh channel video saya. (https://youtu.be/hDxhzILb21c)
Menanggapi pernyataan Syaykh pada Dzikir Jumat tersebut yang tersiarkan melalui youtube, maka dirasakan perlu untuk meminta klarifikasi atas pernyataan itu dengan pertimbangan sebagaimana termaktub dalam surat somasi pertama yaitu: Penggunaan ungkapan yang tidak pantas untuk guru, baik sebagai pribadi maupun sebagai korps, di hadapan peserta didik, Penyampaian statemen bernada ancaman yang meresahkan korps guru, Penyampaian isu yang memecah belah sivitas mahad, Penggiringan opini yang menistakan sosok guru di depan peserta didiknya, Penyampaian ungkapan yang terasa berlebihan menggambarkan Syaykh sebagai pihak tunggal yang paling berjasa dan, Penggunaan forum Dzikir Jumat yang tidak semestinya karena dijadikan ajang untuk menghakimi guru secara sarkasme untuk ke sekian kali. Selama dua pekan setelah menyatakan hal tersebut Syaykh dikabarkan sakit, suaranya tidak keluar sehingga selama dua kali salat Jumat itu pula Syaykh tidak bisa hadir. Akhirnya, perwakilan guru menyampaikan permohonan untuk bersilaturahim kepada Syaykh Al-Zaytun pada Jumat, 9 Desember 2016, pukul 09.00 WIB dengan telah menempuh prosedur sebagai berikut: Pemberitahuan secara lisan melalui telepon pada pkl. 18.00 WIB oleh Drs. Anang Sundayana dan diterima oleh petugas piket Kantor Masyikhah, yakni Saudara Maswindra, S.Kom. Pemberitahuan secara tertulis melalui surat yang diantar oleh petugas Sekretariat Pendidikan, Saudara Manroni. Selanjutnya surat tersebut diterima oleh petugas piket Kantor Masyikhah, yakni Saudara Maswindra, S.Kom. Jumat, 9 Desember 2016, pukul 09.00 WIB, perwakilan guru dari berbagai instansi, yakni, Ketua/Anggota Dewan Guru, Manajer Pendidikan semua satuan pendidikan, Pengurus Lajnah, Mudabbir Asrama, yang berjumlah 49 orang datang ke Masyikhah untuk bersilaturahim sebagaimana surat ajuan yang sudah disampaikan sebelumnya untuk meminta klarifikasi tentang pernyataan dalam Dzikir Jumat 18 November 2016 tersebut. Namun, kenyataannya Syaykh tidak berkenan menerima perwakilan guru ini. Perwakilan dari Pengurus YPI/Petugas Kantor 2005 juga tidak satu pun yang menemui. Akhirnya, tiga orang perwakilan dari Dewan Guru, yang terdiri dari Ketua dan Wakil Ketua Dewan Guru, yakni Ali Aminulloh, Sarju, dan Arif Yosodipuro menemui Ust. Abdul Halim untuk menanyakan tentang tentang surat pemberitahuan yang telah dikirim sebelumnya. Namun, Ust. Abdul Halim menyatakan bahwa surat tersebut belum dibaca. Karena mendapatkan jawaban seperti itu, akhirnya kami kembali beraktivitas seperti biasa. Siang harinya, usai salat Jumat, dalam dzikirnya, Syaykh Al-Zaytun menyampaikan pernyataan: Selama santri libur satu bulan, Syaykh juga libur satu bulan; tidak ada yang boleh menghadap, kecuali jika perlu/dipanggil. Syaykh melontarkan pernyataan bahwa telah terjadi pungli dan korupsi di asrama. Saat itu juga ditunjuklah Imam Prawoto, Abdul Halim, Abu Tsabit, Ihsan Fathan Mubina sebagai tim investigasi/tim audit. Jumat, 16 Desember 2016 saat Dzikir Jumat, Syaykh Al-Zaytun kembali menyampaikan pernyataan yang bernada tuduhan bahwa penanggung jawab asrama terbukti melakukan pungli dan korupsi. Itu jahat dan mendidik peserta didik tidak baik. Merespon dua kali pernyataan Syaykh Al-Zaytun dalam Dzikir Jumat, yakni pada 9 dan 16 Desember 2016, maka kami bermaksud menyampaikan pernyataan keberatan kami dalam surat somasi kedua yang berisikan: Ungkapan Syaykh dalam Dzikir Jumat 9 Desember 2016 yang menetapkan diri akan libur sebulan. Pernyataan ini menyiratkan bahwa Syaykh tidak berkenan menerima tawaran kami untuk bersilaturahim. Dari hati yang paling dalam, kami hanya berharap dapat berkomunikasi langsung antara kami, sebagai guru Al-Zaytun, dengan Syaykh, semata-mata untuk menjernihkan situasi agar tidak berkembang menjadi isu yang dapat memecah keutuhan sivitas Mahad. Pernyataan tendesius dan bernada tuduhan yang dialamatkan kepada mubabbir tanpa melalui proses validasi dan verifikasi terlebih dahulu telah mengarah pada opini bahwa guru, dalam hal ini mudabbir, sudah menyandang predikat bersalah, yakni melakukan pungli dan korupsi. Berikutnya, pada Sabtu, 17 Desember 2016, guru sejumlah 99 orang, sebagai perwakilan dari Dewan Guru, Manajer Pendidikan, Pengurus Lajnah, dan guru-guru, datang untuk kedua kalinya ke Masyikhah masih dengan maksud yang sama, yakni bersilaturahim. Maksud kedatangan ini adalah untuk menanyakan kembali tentang pernyataan Syaykh Al-Zaytun dalam Dzikir Jumat yang pertama (18 November 2016) dan yang kedua (9 Desember 2016). Akan tetapi, sekali lagi, Syaykh kembali tidak berkenan menemui perwakilan guru ini. Dari Pengurus YPI/Petugas Kantor Masyikhah juga tidak ada satu pun yang menemui. Bahkan, sebelum kami tiba di Masyikah, pintu gerbang sudah ditutup dan digembok dari dalam. Hanya petugas keamanan yang menemui sambil menanyakan maksud dan tujuan kedatangan kami. Kami akan menyampaikan surat permohonan silaturahim itu kepada Syaykh. Namun, surat itu hanya diterima oleh petugas keamanan, sembari mengatakan bahwa surat ini akan diberikan kepada Sekretaris Yayasan, Ust. Abdul Halim. Dalam kesempatan itu pula, kami sekaligus sertakan kembali surat somasi 1 dan 2. Demikian kronologi ini kami susun semata-mata untuk mengklarifikasi upaya-upaya kami yang sebenarnya dari agar tidak berkembang ke arah hal-hal yang lain. Sesungguhnya kami sangat meyayangkan bahwa keinginan kami untuk bersilaturahim ditanggapi dengan sikap curiga yang berlebihan. Hal ini ditunjukkan dengan penghembusan isu berupa ancaman penggantian terhadap semua guru yang melakukan silaturahim tersebut. Tidak hanya sampai di situ, dalam salah satu briefing pagi karyawan LKM di halaman Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin, salah satu Eksponen 2005 bahkan dengan terang-terangan menyatakan bahwa banyak guru yang telah melakukan pungli dan korupsi. Mereka ini harus diganti dan dihabisi. Tentu hal seperti ini sangat bertolak belakang dengan semangat kami untuk menyelesaikan permasalahan dengan penuh kebaikan. Bila kita menilai dengan hati bersih dan pikiran jernih, pernyataan ini tentulah sangat berbahaya dalam sebuah kehidupan bersama yang telah dirintis dan dibangun dengan penuh kebersamaan, baik dalam keadaan lapang maupun sempit. Pernyataan agitatif ini dapat memecah-belah dan mengadu domba antarsivitas Mahad, khususnya antara korps guru dan korps karyawan. Imbasnya tidak hanya di kalangan internal, tetapi melebar ke kalangan eksternal, yaitu sahabat-sahabat Koordinator/Perwakilan Al-Zaytun di daerah, dan juga alumni. Kami merasa telah dijatuhkan nama baik dan kehormatan kami sebagai seorang pendidik Al-Zaytun. Maksud dan keinginan kami tidak lain dan tidak bukan hanya untuk bersilaturahim, tetapi justru penistaan yang kami dapat. Kami sedang tidak menuntuk pesangon, sedang tidak menuntuk kenaikan honor, atau sedang menutut materi lainnya. Kami hanya ingin meminta klarifikasi terhadap pernyataan Syaykh dalam tiga kali Dzikir Jumat tersebut. Sekali lagi, surat ini kami buat semata-mata untuk menghindari fitnah dan prasangka yang tidak semestinya. Semoga surat terbuka ini dapat menjadi berita penyeimbang terhadap informasi yang beredar di berbagai kalangan. Demikian, semoga semua pihak dapat mengambil esensinya. Terima kasih. Indramayu, 1 Januari 2017