Wednesday, March 21, 2018

Undercover 105

TESTIMONI PRIBADI 10
Usir Sadis Ala Teroris (5)
Oleh : Arif Yosodipuro


Sejak kali kedua kedatangan guru-guru yang ingin bersilaturahim, keamanan mendapat instruksi khusus. Mereka pun langsung berkoordinasi untuk menentukan aksi dan antisipasi. Gambar hasil jepretan mereka analisis dan orangnnya mereka kenali satu per satu sampai mereka mendapatkan data guru yang ikut dalam rombongan silaturahim.
Hasil koordinasi dan analisis itu mereka input dan dijadikan patokan kemudian diprint out untuk dibagikan kepada titik penjagaan, kepada syaykh, kepala keamanan, kantor keamanan pusat, dan ketibaan di gate.
Selanjutnya, guru-guru diklasifikasikan ke dalam tiga golongan, guru merah, guru kuning dan guru putih. Guru-guru yang masuk dalam list rombongan ke masyikhoh kedua untuk bersilaturahim dikategorikan sebagai guru merah.
Karena itu siapa pun yang masuk daftar guru “merah” mereka hadang tidak boleh masuk dan mereka usir keluar ma’had. Tidak peduli, ALUMNI sekalipun. Sekali lagi ALUMNI sekalipun. Termasuk yang dialami oleh Ananda MUHAMMAD RAHMATULLAH, S.PD.I.
Siapa yang tidak kenal Ust. Rahmatullah. Ia rela meninggalkan jenjang pendindikan yang sedang ditempuh dan mengulangi dari kelas I MTs di Ma’had Al-Zaytun. Dia adalah santri terbaik, cerdas dan tangkas. Johan menjadi langganannya setiap semesternya.
Kecintaannya dengan ALMAMATER tak disangsikan lagi. Hidup dan dirinya hanyalah untuk Zaytun. Hal ini ia buktikan dengan tetap menjadai guru, dari guru sandaran sampai menjadi guru tetap. Padahal kalau mau, ia dapat mencari pekerjaan yang lebih dari guru di luar.
Ust. Rahmatullah adalah alumni pertama serba bisa. Dia adalah generasi yang digadang-gadang. Karena dia dan teman-temannya adalah harapan sebagai generasi penerus. Dengan ikhlas dan sabar ia geluti profesi guru demi generasi masa hadapan.
Bahasa Arab bidang studi yang diampunya sejak tahun 2005. Kemampuan IT-nya pun bisa diadu. Karena itu ia dilirik oleh Ust. Hartono, untuk menjadi staf Bidang Kurikulum MTs. Al-Zaytun, mendampinginya dalam menyusun proram.
Namun sayang, kecintaannya itu harus berakhir. Ia dimasukkan pada list guru merah. Gara-garanya ia membela guru-gurunya yang sekaligus pimpinannya yang dihadang tidak boleh masuk. Ia dimintai tolong untuk mengambilkan dokumen yang ada di kantor MP.
Sebagai bakti kepada guru yang sekaligus pimpinannya, ia ambilkan dokumen tersebut. Tenyata ada yang memperhatikannya. Apa yang ia lakukan kemudian dilaporkan oleh guru yang cari muka kepada orang kepercayaan Syaykh.
Tragisnya pada Rabu, 4 Januari 2018 beriringan dengan Bu Datin, pukul 20.15 WIB saat berada di kamar 429 asrama al-Fajr, ia didatangi enam orang petugas keamanan dipimpin oleh Zainal Abidin. “Ustadz,” kata Zainal Abidin menyampaikan pesan dari pimpinannya. “Ustadz diminta oleh pimpinan untuk menghabiskan waktu liburan di luar ma’had.”
“Memang kenapa?” Kata Ust. Rahmatullah spontan. “Sampai kapan?” lanjutnya ingin penjelasan. “Saya sudah ada rencana kok, juga sudah beli tiket kereta untuk tanggal 6 Januari. Tanggal enam saja saya cutinya. Sekalian nyelesaikan jadwal.”
“Wah saya kurang paham, Ustadz. Kami hanya ditugaskan.” Lanjut Zainal.
“Sekarang sudah malam. Besok sajalah… Kontrakan saya kan jauh di Surabaya. Tidak di sekitar sini.”
Zainal tak peduli. Ia terus bertahan. “Maaf Ustadz, perintah pimpinan begitu. Malam ini juga Ustadz diminta melanjutkan cuti di luar ma’had. Silakan Ustadz kemasi barang-barang. Nanti kami antar ke gate.”
“Gak usahlah dikawal... Biar saya sendiri aja.” Kata Ust. Rahmatullah meminta.
“Tidak bisa, Ustadz. Perintah pimpinan kami ditugasi untuk memastikan Ustadz Rahmatullah keluar ma’had.”
Ustadz Rahmatullah tak bisa mengelak. Ia pasrah kemudian mengemasi barangnya. Usai itu, ia diantar oleh keamanan ke tempat parkiran motor di sebelah barat gedung Ali bin Abu Thalib dengan mobil untuk mengambil motor.
Dengan pikiran menerawang dan tidak percaya dengan apa yang menimpa dirinya, Ust. Rahmatullah pun melajukan kuda besinya meninggalkan ma’had yang dicinta sambil mencari ke mana tempat sementara untuk singgah sebelum ke Surabaya menemui istri tercintanya.
Subhanallah. Dia adalah satu dari sekian ALUMNI YANG TERBAIK. Hanya gara-gara menolong mengambilkan dokumen gurunya yang juga pimpinannya, ia dimasukkan dalam daftar GURU MERAH. Lantas…. apakah sebenarnya yang KAU CARI…..?

Sumber : klik di sini

No comments:

Post a Comment