Wednesday, March 21, 2018

Undercover 104

TESTIMONI PRIBADI 9
Usir Sadis Ala Teroris (4)
Oleh : Arif Yosodipuro


Upaya silaturahim dua kali yang buntu tak membuat guru-guru patah semangat. Pendekatan kekeluargaan terus diusahakan. Pada Kamis, 29 Desember 2016, perwakilan guru – Ustadz Sarju, Ustadz Mustaqim, Ustadz Djarot, dan beberapa teman lain – menemui Kapolres Indramayu untuk menyampaikan surat doa bersama akhir tahun.
Mereka ditemui oleh Pak Kapolres, didampingi Kabid Intel, Kabid Operasional, dan Kabid Humas. Pak Kapolres keberatan dan minta agar tidak dilakukan karena timnya sedang banyak tugas dan pengamanan tahun baru. Selanjutnya beliau menawarkan diri untuk memediasi.
Keesokannya, Jum’at 30 Desember 2016 sekitar pukul empat, beliau bersama rombongan datang ke Al-Zaytun. Setibanya di gate, keamanan gate menelepon kantor pusat 2111 memberi tahu tentang kedatangan Kapolres.
Beliau kemudian dipandu oleh petugas keamanan menuju masyikhoh. Syaykh al Ma’had dan beberapa eksponen dekatnya sudah menunggunya. Begitu ketemu, mereka langsung bersalaman lalu berbincang santai.
Setelah berbasa-basi sebagai prolog, Pak Kapolres masuk pada inti pembicaraan maksud kedatangan beliau yaitu menyampaikan keinginan guru-guru untuk bersilaturahim. Dialog imajinernya sebagai berikut:
“Syaykh,” kata Kapolres sambil menata duduknya. “Guru-guru minta bisa bersilaturahmi dengan Syaykh.”
“Gampang Kapten.” Kata syaykh merespon perkataan Kapolres sambil senyum. “Mereka itu relawan. Serahkan kepada syaykh, beres….” lanjutnya sambil menepukkan kedua telapak tangan.
Rupanya kedatangan guru-guru ke Polres dan kedatangan Kapolres Indramayu menemui syaykh inilah yang memicu dan memacu kemarahan sehingga semua guru yang ada dalam rombongan ingin silaturahim dengan syaykh kedua DIREDLIST. Semuanya tidak boleh masuk dan yang ada di dalam ma’had pun diusir.
Guru selain bu Suprapti yang diusir adalah Moch. Yunus, S.Pd. Guru Matematika sejak tahun 1999, Wakil MP (Kepala Sekolah) Bidang Kesiswaan, juga sebagai Mudabbir Asrama Al-Mustofa, dan Pembina Organisasi Pelajar Al-Zaytun (OPMAZ)
Hari-hari waktunya ia habiskan untuk mendampingi oraganisasi pelajar tersebut. Tak jarang beliau sendirian dengan telaten mengarahkan dan mengevaluasi OPMAZ setiap pekan. Maka tak heran kalau beliau sangat dekat kepada santri, terutama pengurus OPMAZ.
Pada hari dan tanggal yang sama (01 Januari 2017) pukul 14.00 WIB, saat sedang bertugas piket di kantor manajemen 130 asrama al-Mustofa, beliau didatangi oleh sekitar 10 petugas keamanan ma’had Al-Zaytun yang dipimpin oleh Tony Ismawan.
Dengan redaksi yang sama, Tony Ismawan menyampaikan kepada Ust. Moch. Yunus bahwa atas perintah pimpinan guru-guru agar menghabiskan masa cuti/ liburan di luar Ma’had. Ust Moch. Yunus menjawab bahwa masa cuti liburannya sudah selesai dan sekarang adalah masa ia bertugas di ma’had.
Namun Tony Ismawan tetap mengatakan bahwa atas perintah pimpinan, ia bersama tim keamanan ditugaskan untuk mengawal ust Moch. Yunus keluar Ma’had. Maka dengan berat hati, saat itu beliau keluar meninggalkan tugas.
Selanjutnya Ust. Supriyadi, S.Si, guru Matematika sejak tahun 1999, Pengurus Manajemen 130 Asrama Al-Mustofa, juga mendapat perlakuan yang sama. Tepatnya pukul 15.30 WIB, saat sedang tidur siang dan sedang tugas piket di asrama, beliau didatangi oleh beberapa petugas keamanan (masuk ke dalam kamar) dipimpin oleh Tony Ismawan.
Sama dengan yang disampaikan kepada Ust. Moch. Yunus, Tony Ismawan menyampaikan kepada Ust. Supriyadi bahwa atas perintah pimpinan guru-guru agar menghabiskan masa cuti liburan di luar Ma’had.
Ust. Supriyadi, guru yang gak banyak omong, langsung mengemasi barang kemudian keluar. Kunci kamar dan BIT-nya pun diminta oleh petugas.
Tak cukup mereka bertiga yang diusir. Ustadzah yang baru saja melahirkan rela bertugas di Ma’had Al-Zaytun pun tak luput dari pengusiran. Beliau adalah Usth. Datin Khairani, S.P., guru IPA sejak tahun 2004, juga staf Sekretariat Pendidikan Al-Zaytun.
Pada Rabu, 4 Januari 2017, pukul 15.30 WIB tiga orang petugas keamanan Ma’had Al-Zatun mendatangi kamarnya. Sang petugas pun menyampaikan kalimat yang sama dengan sebelumnya. “Ustadzah diminta oleh pimpinan untuk menghabiskan waktu liburan di luar ma’had”.
Sungguh memilukan. Ustadzah yang rela bertugas di ma’had pada masa libur sambil mengendong dua anak balitanya (yang besar berusia 3,5 tahun dan yang kecil baru 8 bulan) disuruh pergi begitu saja.
Tak ada bantahan dan tak ingin bersitegang, beliau pun harus rela meninggalkan ma’had dikawal oleh petugas keamanan. Dengan digelayoti dua anak balitanya beliau keluar gate tak tahu harus ke mana karena hari-hari beliau tinggalnya di ma’had.
Siapa lagi dan bagaimana pengusirannya, berlanjut TESTIMONI PRIBADI 10. Usir Sadis Ala Teroris (5)

Sumber : Klik di sini

No comments:

Post a Comment