Wednesday, March 21, 2018

Undercover 102

TESTIMONI PRIBADI 7
Usir Sadis Ala Teroris (2)
Oleh : Arif Yosodipuro


Hilang permatanya. Sejak keberangkatan bu Prapti ke Ma’had Al-Zaytun, ibunya merasa kehilangan. Karena dialah yang paling dekat dan perhatian kepadanya. Apalagi pada saat berangkat, kondisi ibunya baru saja membaik dari stroke.
Saat awal sepeninggal sang ayah, ibunya terjatuh di kamar mandi yang menyebabkan beliau lumpuh, mulut perot dan susah untuk bicara. Dengan qadla Allah, juga perawatan yang intens karena bu Prapti di sampingnya, ibunya bisa pulih dan bisa berjalan, walau masih memakai tongkat.
Seiring dengan berjalannya waktu, rasa rindu mengaru biru, memaksa kehendak untuk bertindak, mendorong hati untuk beraksi. Namun apa daya kondisi fisik semakin menua, rasa rindu pun harus rela hanya tersimpan dalam dada.
Kerinduan mendalam yang tak bisa tersalurkan membuat ibunya kepikiran dan sering kambuh penyakitnya. Klimaksnya akhir semester kedua (awal tahun 2000), ibunya masuk rumah sakit dalam keadaan koma di ICU rumah sakit Yarsis Solo. Tiga hari belum sadarkan diri.
Mendengar kabar tersebut ia segera pulang, menengoknya. Begitu bertemu, ia pegang tangan ibunya erat-erat. Seketika itu ibunya langsung bereaksi. Hanya saja kondisi badannya sudah mati separoh. Dianggapnya sudah ada reaksi maka ibunya dipindah ke ruang rawat.
Konflik batin bergejolak, dua pilihan saling mencari perhatian dan tarik-tarikan. Keluar dari ma’had mencari dana untuk biaya perawatan. Atau, tetap di ma’had tapi rumah dijual. Ia kembali dihadapkan kepada dua pilihan yang amat sulit.
Dengan berbagai pertimbangan, ia pun menetapkan ma’had sebagai pilihannya. Sementara rumah dijual untuk biaya pengobatan ibunya. Selama masa perawatan, dia selalu berada di sampingnya. Dia tuntun ibunya berdzikir sampai akhirnya wafat dalam pelukannya. Baginya ibu adalah permatanya. Dengan meninggalnya sang ibu, maka hilanglah permata itu.
Inilah yang menjadi motivasi dirinya untuk tetap bertahan di mahad walau bagaimanapun kondisinya. Ia sudah korbankan rumah dan rela meninggalkan ibunya maka ia harus serius dalam membimbing anak-anak di Mahad Al-Zaytun.
Yang ia inginkan adalah dengan pengabdian di mahad secara totalitas, Allah jadikan dirinya sebagai hamba yang sholehah sehingga doa surga untuk kedua orangtuanya dikabulkan oleh-Nya. Karena itu tekadnya adalah akan tetap mengabdi dan tidak akan keluar dari Ma’had Al-Zaytun.
Namun, Allah berkehendak lain. Pasalnya Ahad, 01 Januari 2017 pada pukul 14.10 saat hendak berangkat ke Dewan Guru untuk tugas piket, ia didatangi lima personil keamanan yang dipimpin oleh Toni Ismawan. “Maaf Ustadzah, atas perintah pimpinan, guru-guru agar menghabiskan masa cuti/ libur di luar Ma’had.” Kata Toni dengan hati-hati.
“Lho,” sahut bu Suprapti reflek. “Saya sedang mengerjakan banyak tugas ini. Menyiapkan soal-soal KSM Matematika, mengecek ajuan seleksi TU, juga mengecek persiapan pembelajaran semester genap. Gimana? ” Lanjutnya kaget sambil tak percaya.
“Iya Ustadzah.” Kata Toni bertahan “Atas PERINTAH PIMPINAN, saya bersama tim keamanan ditugaskan untuk MENGAWAL USTADZAH SUPRAPTI KELUAR MA’HAD.” Lanjutnya berargumen.
Bu Prapti pun tak bisa mengelak. Ia lantas kembali ke kamar 333 Al Musthafa untuk mengambil barang (baju dll.), perlengkapan satu pekan, karena dia disuruh menghabiskan cuti di luar mahad yang saat itu masih ada 5 hari lagi. Saat ke kamar, ia dikawal oleh pak Dasrun, petugas keamanan Al Musthafa.
Usai mengunci kamar, kunci diminta pak Dasrun. “Maaf Ustadzah, kuncinya kami mita,”
“Kunci serepnya ada kok di kantor manajemen 130.” Kata bu Prapti memberi tahu. Tetapi pak Dasrun tetap meminta kunci yang ditangannya.
“Iya, Ustadzah. Yang dibawa Ustadzah juga. Perintah pimpinan.” Ujar Dasrun bertahan.
Kunci pun ia serahkan sambil berkata, "Pak, tolong jaga barang dan kamar saya ya". Pak Dasrun bersenyum sambil menerima kunci yang ia berikan. Ia kemudian turun ke lantai 1.
Sampai di lantai 1, ia duduk di bawah kanopi belakang Al Musthafa menunggu mobil keamanan yg akan mengantarnya ke gate. Saat menunggu, Toni Ismawan duduk di sampingnya. Ia bertanya kepada Toni, “Apakah perlakuan seperti ini untuk semua guru, ataukah hanya kepada guru yang kemarin ingin silaturahim kepada syaykh?”
“Wah, saya tidak paham, Ustadzah.” Kata Toni datar.
“Benar kan, ini hanya satu pekan? Karena saya hanya ambil perlengkapan untuk satu pekan.” Desak bu Prapti serius.
“Saya tidak paham.” Elak Toni menyembunyikan sambil meletakkan kedua tangan di belakang pinggang.
“Bagaimana ini?!” Kata bu Prapti dengan nada agak tinggi. Ia pikir-pikir sejenak, seperti orang panik, lalu berkata pada diri sendiri, “Dokumen penting, seperti ijazah & laptop masih ada di kamar, bagaimana ya?”
To be continued TESTIMONI PRIBADI 8. Usir Sadis Ala Teroris (3)

Sumber : Klik di sini

No comments:

Post a Comment