DUL KEMIT THE SERIES 43
Jeritan Hati Guru 1; Menjeritlah
Oleh : Arif Yosodipuro
Kepongahan Dul Kemit yang mengusir guru-guru ber-NRG dan ber-SERTIFIKASI yang sudah mendedikasikan diri selama hampir dua dasawarsa, mengurai kekecewaan dan beragam perasaan. Seperti yang dirasakan oleh Halimah.
Awalnya Halimah enggan menceritakan dan mengungkit-ungkit masa lalu yang sudah ia kubur dalam-dalam dari memori kehidupannya. Ia pikir “Ah sudahlah. Yang lalu biarlah berlalu.” Namun setelah mendapat perlakuan semena-mena dari Dul Kemit, ia pun tak kuasa membendungnya. Tembok tebal setebal tembok china, tanggul besar sebesar tanggul bendungan Jati Luhur, akhirnya jebol mempertahankan prinsip tersebut.
Awal kisah bermula dari keikutsertaan Halimah bergabung dengan pesantren yang dirintis oleh Dul Kemit. Halimah yang masih bujang, lugu dan polos, masih fresh graduate, mendapat tawaran dari seseorang utusan pesantren untuk bergabung. Karena ada kecocokan, Halimah pun mengiyakan ajakan tersebut tanpa sepengetahuan orangtuanya. Ia khawatir kalau mereka tahu akan melarangnya atau tidak mengizinkannya.
Dengan kelihaian deplomasi dan narasi sang utusan menyampaikan kepada Halimah bahwa fasilitas yang disediakan komplit, sekomplit jamu tolak angin yang komplit pliiiiit. Gaji melebihi gaji PNS, mendapat makan tiga kali, dapat susu, disediakan perumahan yang luasnya satu hektar per orang. Bangunan rumahnya tinggi bukan seperti rumah penduduk sekitar. Pintunya 2,5 meter, sehingga leluasa keluar masuk. Pokoknya dijamin siiiip lah.
Dengan hati berbunga-bunga, Halimah merasa ada harapan mendapat kehidupan yang mapan dan layak di masa hadapan. Ia bersama rekan-rekan barunya hasil rekrutan sang coordinator/ perwakilan berangkat ke komplek pesantren dengan kendaraan roda empat.
Komplek pesantren yang terletak nan jauh dari perkotaan dan tempat tinggal, membuat Halimah dan teman-teman penuh Tanya. Tempat itu asing, tak terkenal. Namanya pun baru Halimah dengar dari sang koordinator. Jauhnya jarak tempuh membuat Halimah dan teman-teman kelelahan sehinga rasa penasaranya hilang. Lambat laun mereka tertidur pulas, tahu-tahu sudah sampai di tempat tujuan.
Begitu mata terbuka, mereka terbelalak melihat bangunan yang megah sekalipun masih sedang dalam pengerjaan. Ornamennya beda dengan bangunan lain. Seolah mereka berada di negeri lain, bukan di negeri sendiri. Mereka berjalan menuju penginapan yang disediakan panitia sambil tidak percaya.
Selama masa proses penerimaan, semua calon guru tidak boleh ke mana-mana dengan alasan keamanan. Mereka selalu diawasi, tidak boleh keluar pesantren, tidak boleh meninggalkan penginapan tanpa arahan pemandu. Hari-hari selama masa menunggu hasil test / pengumuman sampai mereka ditugaskan – hanya tidur, makan, tidur, makan.
Hal ini membuat perasaan Halimah dan teman-temannya putus asa, gundah gulana, gusar tak sabar, khawatir. Terlebih keberangkatan mereka tidak diketahui orangtua. Mereka tidak betah dan ingin cepat pulang untuk memberitahu keluarga.
Halimah tak bisa menyembunyikan perasaan galaunya. Ketika ia mendapat giliran untuk menyampaikan pesan kesan, ia utarakan di depan Dul Kemit dan audience lainnya. “Selama menunggu,” ucapnya menyampaikan perasaannya, “perasaan saya tersiksa. Hari-hari hanya makan, tidur, makan, tidur. Mau keluar tidak boleh, lingkungannya terbatas pada penginapan. Rasanya hati ini ingin MENJERIT.” Lanjut Halimah polos memelas.
Lagi-lagi, mendengar ungkapan calon guru seperti di atas, Dul Kemit bukan menenangkan, meredam, melindungi. Justru sebaliknya. Ia MARAH, MENGUMPAT, mata melotot, dan alisnya menjabrik. “Kalau mau MENJERIT, MENJERITLAH…..,” Hardik Dul Kemit geram. “DIKASIH SANTAI, DIKASIH MAKAN ENAK MASIH SAJA PROTES. Gombel (nama panggilan untuk sapi) saja bisa ANTENG, tenang.” Lanjutnya sambil manyun.
Sumber : Klik di sini

No comments:
Post a Comment