DUL KEMIT THE SERIES 24.
Bicara Ngawur, Jalan pun Hancur
Oleh : Arif Yosodipuro
Puluhan ribu pasang mata duduk bersila menghampar luas di karpet
yang disediakan panitia, menghadiri pengajian akbar yang diselenggarakan
oleh pesantren kyai Dul Kemit. Mereka datang dari berbagai penjuru
tanah air, baik dari wali santri, donatur maupun dari majlis ta'lim.
Selain itu, datang juga tokoh agama dan masyarakat, serta pejabat daerah
setempat. Variasi tinggi dan rendah masing-masing jamaah menggelombang bagai ombak di pantai Pulau Jawa.
Event ini digelar tahunan menyambut pergantian tahun qamariah.
Acara dibuka dengan pembacaan kalam Ilahi dan dilajutkan dengan
sambutan-sambutan. Dari sekian sambutan, pidato kyai Dul Kemitlah yang
ditunggu-tunggu oleh jamaah. Sambutan yang lain seolah menjadi partai
tambahan seperti dalam pertandingan tinju sebelum pertandingan utamanya.
Begitu MC menyebut kyai Dul Kemit untuk menyampaikan pidatonya,
"Hadirin, berikutnya Arahan dari sesepuh pesantren kita, Yang kami
mulyakan Romo kyai Dul Kemit dipersilakan." Sontak hadirin riuh gemuruh,
gegap gempita tepuk tangan membahana di seantero pengajian
menyambutnya.
Dengan personal marknya, pakaian rapi, songkok
tinggi, dan berkaca mata hitam, seperti trade mark dalam perdagangan,
kyai Dul Kemit menyampaikan orasinya. Hadirin seketika itu senyap
menunggu isi pidatonya.
Setelah prolog dan bicara banyak hal,
rupanya kyai Dul Kemit menyimpan martil untuk menohok pejabat daerah,
Bupati. Karena berhalangan hadir, Bupati setempat mengutus wakilnya
untuk memenuhi undanngan kyai Dul Kemit. Namun lacur, kedatangan wakil
bupati itu bukan mendapat penghormatan justru menjadi bulan-bulanan
pidato kyai Dul Kemit terkait dengan kondisi jalan yang menuju ke
pesantrennya rusak. Wakil Bupati itu diolok-olok dan dipermalukan di
hadapan puluhan ribu jamaah karena jalan belum dibangun.
Entah
apa yang ada di pikiran jamaah, olokan kyai Dul Kemit pun disambut
dengan tepuk tangan gemuruh, seolah senang dan setuju mempermalukan
pejabat di depan umum. Merasa dipermalukan di depan publik, Wakil Bupati
tersinggung dan sakit hati. Usai acara dia langsung ngacir meninggalkan
pesantren tanpa pamitan. Akibat ucapan kyai Dul Kemit yang ngawur itu,
jalan menuju pesantrennya tidak dibagun-bangun dan dibiarkan hancur.
Melihat jalannya rusak dan tidak segera dibangun gara-gara
bicaranya kyai Dul Kemit yang ngawur, masyarakat sekitar hampir-hampir
mendatangi pesantren, berdemo, menuntut kyai Dul Kemit. Namun keinginan
itu diredam oleh tokoh masyarakat setempat.
"Oh gitu ya kang
Encep. Kok tega ya kyai Dul Kemit. Terus sekarang bagaimana kondisi
jalannya...?" "Ya masih hancur atuh kang. Kan Pemdanya gak mau
mbangun... Kasihan masyarakat sekitar ikut kena getahnya." Lanjut kang
Encep, menghela nafas sedih.
No comments:
Post a Comment