Thursday, May 25, 2017

DUL KEMIT THE SERIES 24

DUL KEMIT THE SERIES 24. 
Bicara Ngawur, Jalan pun Hancur
Oleh : Arif Yosodipuro

Puluhan ribu pasang mata duduk bersila menghampar luas di karpet yang disediakan panitia, menghadiri pengajian akbar yang diselenggarakan oleh pesantren kyai Dul Kemit. Mereka datang dari berbagai penjuru tanah air, baik dari wali santri, donatur maupun dari majlis ta'lim. Selain itu, datang juga tokoh agama dan masyarakat, serta pejabat daerah setempat. Variasi tinggi dan rendah masing-masing jamaah menggelombang bagai ombak di pantai Pulau Jawa. 

Event ini digelar tahunan menyambut pergantian tahun qamariah. Acara dibuka dengan pembacaan kalam Ilahi dan dilajutkan dengan sambutan-sambutan. Dari sekian sambutan, pidato kyai Dul Kemitlah yang ditunggu-tunggu oleh jamaah. Sambutan yang lain seolah menjadi partai tambahan seperti dalam pertandingan tinju sebelum pertandingan utamanya.
Begitu MC menyebut kyai Dul Kemit untuk menyampaikan pidatonya, "Hadirin, berikutnya Arahan dari sesepuh pesantren kita, Yang kami mulyakan Romo kyai Dul Kemit dipersilakan." Sontak hadirin riuh gemuruh, gegap gempita tepuk tangan membahana di seantero pengajian menyambutnya.


Dengan personal marknya, pakaian rapi, songkok tinggi, dan berkaca mata hitam, seperti trade mark dalam perdagangan, kyai Dul Kemit menyampaikan orasinya. Hadirin seketika itu senyap menunggu isi pidatonya. 


Setelah prolog dan bicara banyak hal, rupanya kyai Dul Kemit menyimpan martil untuk menohok pejabat daerah, Bupati. Karena berhalangan hadir, Bupati setempat mengutus wakilnya untuk memenuhi undanngan kyai Dul Kemit. Namun lacur, kedatangan wakil bupati itu bukan mendapat penghormatan justru menjadi bulan-bulanan pidato kyai Dul Kemit terkait dengan kondisi jalan yang menuju ke pesantrennya rusak. Wakil Bupati itu diolok-olok dan dipermalukan di hadapan puluhan ribu jamaah karena jalan belum dibangun.


Entah apa yang ada di pikiran jamaah, olokan kyai Dul Kemit pun disambut dengan tepuk tangan gemuruh, seolah senang dan setuju mempermalukan pejabat di depan umum. Merasa dipermalukan di depan publik, Wakil Bupati tersinggung dan sakit hati. Usai acara dia langsung ngacir meninggalkan pesantren tanpa pamitan. Akibat ucapan kyai Dul Kemit yang ngawur itu, jalan menuju pesantrennya tidak dibagun-bangun dan dibiarkan hancur. 


Melihat jalannya rusak dan tidak segera dibangun gara-gara bicaranya kyai Dul Kemit yang ngawur, masyarakat sekitar hampir-hampir mendatangi pesantren, berdemo, menuntut kyai Dul Kemit. Namun keinginan itu diredam oleh tokoh masyarakat setempat. 


"Oh gitu ya kang Encep. Kok tega ya kyai Dul Kemit. Terus sekarang bagaimana kondisi jalannya...?" "Ya masih hancur atuh kang. Kan Pemdanya gak mau mbangun... Kasihan masyarakat sekitar ikut kena getahnya." Lanjut kang Encep, menghela nafas sedih.

No comments:

Post a Comment