DUL KEMIT THE SERIES 61
Misteri Dolar Seharga 37 Milyar (3)
Oleh : Arif Yosodipuro
TIGA PULUH MILYAR lepas dari genggaman, hilang dari pandangan, dan berpindah dari akun yayasan. Tak ada kabar dari seberang terkait dengan dana yang sudah diserahkan. Harapan terus mengawang dalam kegamangan.
Detak jantung mendebar dahsat, sedahsat dentuman musik goyang di sebuah bar. Hati cemas tak terbatas bisa membuat tubuh melemas. Dul Kemit dan koleganya tak bisa bernafas bebas. Tak sabar dalam kejemuan menunggu kabar.
Sekian bulan berlalu, berita kedatangan mesin pencair belum jelas rimbanya. Apalagi dolar hitam yang sudah dicairkan zat pelapisnya, terhempas ke semak belukar yang tak jelas batang dan akar. Justru Dul Kemit dimintai tambahan dolar.
Jumlahnya cukup menggempar. Dengan berbagai dalih, penelepon minta Dul Kemit menyediakan 2 M (DUA MILYAR) agar dolar bisa segera dicairkan. Walhasil, ibaratnya sudah telanjur basah, permintaan pun dipenuhi tanpa melalui diskusi. DUA MILYAR pindah buku lagi dari akun yayasan ke akun penelepon.
Namun, entah apa yang terjadi. Dana yang Dul Kemit keluarkan belum cukup untuk bisa mendapatkan dolar, yang katanya, sumbangan itu. Katanya Mesin pencair yang sudah dibeli itu tak bisa dibawa. Dan untuk bisa dibawa, lagi-lagi Dul Kemit harus menyediakan dana sebesar Rp850.000.000.
“Lho kok bisa, Kang?” kata kang Ujang reflek, memotong cerita. “Kan sudah dibeli, kok tidak bisa dibawa. A n e h…?!”
“Ya gitulah Kang,” kata kang Encep apatis.
Kali ini tak langsung dipenuhi. Koleganya ada yang berani menyanggah. Dul Kemit mendapat masukan. “Lho kyai, kok nggak bisa?” Kata seorang pengurus mengingatkan. “Kan mesin sudah kita bayar.” Kata Safrulloh menyampaikan alasan.
“Ya itu untuk bisa dibawa, kita harus siapkan dana Rp850.000.000,-.” Bantah Dul Kemit menguatkan.
“Jangan-jangan nggak beres ini? Sebaiknya tidak usah dituruti.” Lanjut Safrulloh menolak.
“Kita sudah telanjur mengeluarkan banyak. Jangan sampai uang yang sudah kita keluarkan itu hilang sia-sia karena kita tidak memenuhi yang ini.” Sanggah Dul Kemit menanggapi masukan dari koleganya.
Sang kolega tak mau berdebat. Ia memilih diam dan membiarkan Dul Kemit mengambil keputusan. Dul Kemit menyuruh H. Sarbini untuk mentransfer dana sejumlah yang diminta. DELAPAN RATUS LIMA PULUH JUTA kembali ditransfer ke rekening penelepon.
Selesaikah? Belum. Drama pengurasan dana yayasan kembali menayang. Bendahara yayasan dikagetkan dengan pendebetan 2 M (DUA MILYAR) tanpa sepengetahuan pengurus lainnya. Usut punya usut, ternyata pendebetan tersebut atas permintaan adik Dul kemit, Ayyub, yang katanya untuk pembelian batubara di Kalimantan.
“Lho kok bisa, Kang?” Kang Ujang kembali memotong cerita kang Encep karena tak kuasa menahan rasa keponya. “Memangnya dia pengurus, kok bisa memerintahkan untuk mendebet?”
“Sepertinya tidak Kang,” sanggah kang Encep menafikan Ayyub sebagai pengurus. “Karena adik Dul Kemit kali.”
“Bisa-bisanya ya, bukan pengurus kok memerintahkan mendebet? ” Gumam kang Ujang mengomentari apa yang dilakukan Ayyub. “Terus sekarang gimana batubaranya?”
“Nggak jelas, Kang.” Kata kang Encep menegaskan. “Setahu saya gak ada kabar sama sekali. Dul Kemit juga tidak pernah menyinggung dalam taushiyahnya, baik di mihrob masjid maupun di pertemuan rutin pekanan, ba’diyah. Padahal dia paling doyan cerita.”
“Jadi fiktif dong?” Sambung kang Ujang menganalisis. “Tega ya…? Uang yayasan dikuras. Padahal itu kan uang pinjaman.”
“Gak peduli kali Kang.” Kata Encep datar. “Akibatnya yayasan menanggung dua beban. Pertama beban hutang dan kedua beban jasa pinjaman.”
“Masya Allah…. Naudzubillahi min dzalik,” kata kang Ujang mengeluhkan apa yang terjadi terhadap yayasan. “Habis dong Kang? Jadi sudah berapa dana yayasan yang dibilang Dul Kemit dana segar itu pindah rekening?”
“Maaf, Kang.” Sahut kang Encep terburu-buru sambil menahan perut. “Pengin ke kamar kecil. Lain kali ya Kang.” Ia kemudian berlari meninggalkan teman dialognya yang penasaran.
***
***
Sumber : Klik di sini

No comments:
Post a Comment